"Aku kehilangan kata disaat ku kehilangan cinta.. Sekarang aku mulai belajar mencintai kata.. Agar aku ingat rasanya mencintai cinta..."

Wednesday, August 25, 2010

GERIMIS...


Ketika sang cinta itu menyapa…
Hati sang Arjuna yang kesepian..
Cinta yang dapat lelehkan hatinya…
Diantara kebekuan mataharinya…

Ketika Arjuna mulai tersenyum akan belaian cinta itu…
Cinta itu pun berbalik dan tunjukan sisi lain dirinya…
Sisi lain Gemini sang pemilik cinta…
Sisi yang ukirkan luka yang amat sangat diatas senyuman lugu sang Arjuna….
Oleh sang Gemini yang bermuka dua…
Yang merajut keingintahuan di dalam wajah kembar antara cinta dan benci…

Dan Arjuna pun terbang untuk menghilang…
Sadar tiada daya dirinya akan kekuasaan cinta dan benci…
Karena panahnya bukan lah panah malaikat cinta yang kuasa atas cinta….
Pergi dengan air mata yang menetes, yang akan terus menyapa mu..
Kala mendung menaungimu..
Ya, air mata itu menyapamu,,bernama GERIMIS..



_andika winchester saputra_

Monday, April 5, 2010


Renungan Indah - W.S. Rendra


(ditulis oleh beliau saat berada di RS, yang merupakan puisi terakhirnya)


Seringkali aku berkata,
Ketika semua orang memuji milikku

Bahwa sesungguhnya ini hanyalah titipan
Bahwa mobilku hanyalah titipan-Nya
Bahwa rumahku hanyalah titipan-Nya
Bahwa hartaku hanyalah titipan-Nya
Bahwa putraku hanyalah titipan-Nya

Tetapi, mengapa aku tak pernah bertanya:
Mengapa Dia menitipkan padaku ?
Untuk apa Dia menitipkan ini padaku ?
Dan kalau bukan milikku, apa yang harus kulakukan untuk milik-Nya itu ?
Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan milikku ?

Mengapa hatiku justru terasa berat, ketika titipan itu diminta kembali oleh-Nya ?
Ketika diminta kembali, kusebut itu sebagai musibah
Kusebut itu sebagai ujian, kusebut itu sebagai petaka
Kusebut itu sebagai panggilan apa saja untuk melukiskan kalau itu adalah derita
Ketika aku berdoa, kuminta titipan yang cocok dengan hawa nafsuku


Aku ingin lebih banyak harta,
ingin lebih banyak mobil,
lebih banyak popularitas, dan
kutolak sakit,
kutolak kemiskinan,
seolah semua "derita" adalah hukuman bagiku

Seolah keadilan dan kasih-Nya harus berjalan seperti matematika:
Aku rajin beribadah, maka selayaknyalah derita menjauh dariku, dan nikmat dunia kerap menghampiriku.

Kuperlakukan Dia seolah mitra dagang, dan bukan kekasih
Kuminta Dia membalas "perlakuan baikku",
Dan menolak keputusan-Nya yang tak sesuai keinginanku

Gusti,
Padahal tiap hari kuucapkan, hidup dan matiku hanya untuk beribadah.
"Ketika langit dan bumi bersatu, bencana dan keberuntungan sama saja"



regards