Kata orang mata tak dapat berbohong, Ya.
Tapi ternyata mata dan sekumpulan indera tidak cukup tangguh
untuk meruntuhkan pendirian hati.
Terhadap sosok yang mengalun di ambang pintu, mengetuk pintu
dengan irama indah.
Dia terus mengetuk, bukan untuk masuk, dia mengetuk pintu
dengan irama ikhlasnya hanya untuk menghibur sosok di balik pintu yang jauh
terjebak didalam imajinasi logika. Gelap. Tenggelam.
Sosok teduh yang membius segala alasan logis untuk
mencintai, atas segala sikap yang dapat membuat logika ku jatuh hati.
Tapi sayang, untuk mengucap “logika yang jatuh hati” saja
rasanya sudah terlalu absurd.
Segala pesonamu adalah alasan absolut untuk membuat setiap
desir panca indera jatuh cinta, lengkung senyummu cukup untuk membuat hariku
cerah, gelak tawamu cukup untuk menaklukan rasa suntuk.
Tapi hatilah yang memilih, hati lah yang dipilih. Hati lah
yang saling memilih.
Tak jarang aku lama melihat punggungmu yang menjauh, hanya
untuk meresapi setiap milidetik yang berlalu lambat, sekedar mencari-cari
alasan kenapa bukan padanya hati ini takluk?
Seringkali pun aku berusaha menangkap setiap mimik rupamu,
kulipat baik-baik dalam kotak kenangan, untuk mungkin kelak akan kubuka dalam
penyesalan.
Perasaanku terlanjur kusut, dalam semesta hati yang terlalu
luas untuk mencari sebab, dengan segala kompleksitas hati yang kadang terlalu gamang
untuk ku ingat.
Hatiku mungkin terlalu sibuk berusaha memaafkan dirinya,
sehingga lupa bahwa tugas utamanya adalah mencintai.
Hati ini terlalu sulit untuk berdamai dengan perasaan
bersalah, karena memaafkan orang lain terkadang jauh lebih mudah daripada
memaafkan diri sendiri.
Semoga dia cepat pulih, sebelum akhirnya dia benar-benar
lupa caranya mencintai. Mati.