Serpihan puing mewakili perasaan mereka yang tegar menunggu dalam cemas.
Lagi, hidup mengajari kita kematian tidak pernah tentang kepergian, tapi keberpulangan.
Untaian doa semesta bergaung, dalam kata, dalam rasa, dalam riuh juga sunyi menemani jalan kepulanganmu.
Air mata tak segan terurai, bahkan dari mata dia yang tidak mengenalmu..
Doa dan simpati tak ragu terucap, bahkan dari mereka yang tak pernah menemuimu..
Di masa seperti ini, kita tahu bahwa waktu tak bisa berputar mundur..
Di saat seperti ini, kita sadar bahwa kita tak bisa merajai waktu..
Kini kita mengakui seberapa pentingnya menghargai waktu, menghargai kebersamaan..
Karena perpisahan terkadang datang tanpa permisi.
Karena ketiadaan seringkali menjemput tanpa kesempatan untuk melambai tangan..
Sore ini masing-masing kami berhening, tekun memasangkan sayap pada doa-doa kami yang kami terbangkan menemani jiwa-jiwa menuju peristirahatan..
Sore ini juga kami menunduk, meniupkan doa-doa kami menemani mereka yang masih terisak dalam tangis agar segera diselimuti keikhlasan..
Aamiin..
"Aku kehilangan kata disaat ku kehilangan cinta.. Sekarang aku mulai belajar mencintai kata.. Agar aku ingat rasanya mencintai cinta..."
Tuesday, December 30, 2014
Monday, October 13, 2014
Hujanku malu..
Matahari mengendap perlahan, kembali beristirahat berselimut langit malam.
Malam ini tak ada bintang, bintik terang itu berganti rintik.
Aku menengok langit, melihat butir demi butir kecil anak hujan yang memasrah.
Anak hujan yang dengan riang lepas menuju pelukan ibu bumi.
Tapi hujanku malu-malu,
Hujanku masih meragu,
Terlalu rapuh untuk patuh pada keinginan menjatuh.
Bulir langit itu belum cukup berani untuk membumi.
Padahal sejatinya hujan adalah sebuah nama rekaan semesta untuk sebuah siklus, dimana asal kembali ke muasal.
Sepatuku memakan langkah demi langkah, dikelilingi oleh para rintik air langit yang telah berserah pada bumi.
Sesekali mereka mengetuk-ngetuk kepalaku, memanjakan hidungku dengan aroma bumi, aku seolah akhirnya bisa mengendus aroma rindu, rindu yang terlepas diantara pertemuan tanah dan air hujan.
Tapi hujanku masih malu.
Mungkin karenaku, karena terakhir kali dia berderas membumi,
Kamu masih ada di sisiku..
Tapi hujanku masih meragu,
Mungkin karena takut merasuki ingatanku, karena terakhir kali di berserah sepenuhnya dari langit,
Masih ada kamu yang lelap didekapku.
Hujanku malu,
Karenaku.
-Andika Saputra-
131014
Thursday, July 10, 2014
Terlambat.
Kamu.. perlahan memenuhi sudut-sudut terkecil panca
inderaku,
Semua terjadi dengan sederhana, sesederhana itulah kamu
menguasai setiap milimeter ruas diriku
Pelukmu menjelma menjadi sumber ketegaranku, senyummu
perlahan menjadi teduh diantara terikku.
Aku telah jatuh cinta, tapi entahlah dirimu..
Mereka bilang aku tak bisa melupakanmu, memang sepertinya begitu, memang sepertinya aku pun tak ingin.
Gelak tawa kencang aneh yang malah kusukai,
Cemberutmu yang takk pernah bisa bangkitkan amarahaku,
Sudut mata yang menjadi tempat favoritku mencuri cumbu,
Aku mencintaimu sewajarnya, karena wajarku adalah apapun
untukmu.
Aku, aku sudah terlanjur kehilangan cara terbaikku untuk
melupakanmu.
Aku terlalu takut untuk melihatmu, aku khawatir aku tak bisa
menahan diriku untuk berlari memelukmu.
Aku terlalu takut untuk memulai cakap, aku khawatir aku tak
bisa menahan luapan rinduku yang akan terucap sejadinya.
Aku terjebak dalam tekateki yang tak bisa lagi kupecahkan, Karena
aku mulai menikmati terjebak di dalamnya.
Ketahuilah cantik, aku tak pernah biada tanpa adamu.
Ketahuilah, aku sedang berusaha melawan jutaan kamu yang
menyesak perlahan kedalam setiap sudut perasaan.
Aku mencintaimu, dan maaf aku baru mengatakannya sekarang.
Sunday, June 22, 2014
Adalah kamu yang kuingini..
Satu
rasa hancur lagi, tersudut, terpojok dengan segenggam restu yang terlambat
berucap.
Kesalahan
yang sama, cara yang sama, hasil yang sama..
Namun
bedanya kali ini aku bicara.
Kali
ini aku tak lagi berserah pada kata pasrah,
Aku
yang sekarang tak mau lagi dibodohi ketidakmauan untuk berjuang yang seringkali
bersembunyi di belakang kata ikhlas.
Aku
disana, untukmu, di depan mereka, untukmu.
Karena
aku tahu, adalah kamu yang kuingini.
Sejak
senyum kita bersambut, aku tahu itu kamu.
Dan
selalu kamu..
Tidak
mudah memang memperkenalkanmu,
Sangat
tidak mudah..
Tapi
aku coba dan terus mencoba, karena aku tahu, adalah kamu yang kuingini.
Waktu
demi waktu berganti,
Telingaku
jenuh dengan semua pertanyaan, pun lelah dengan semua prasangka.
Dari
mereka, mungkin juga darimu.
Tapi
aku mencoba diam, berusaha terlihat tak merasa, karena aku tahu, adalah kamu
yang kuingini.
Salahi
aku, yang terlalu banyak berdiam.
Hanya
karena tak mau kamu terluka, walau ternyata kebisuanku itu melukaimu dengan
cara yang tak pernah kupikirkan.
Salahi
aku, yang tak bisa berikan kamu alasan.
Hanya
karena berharap kamu percaya, ada restu yang sedang aku coba taklukan.
Salahi
aku, yang tak ingin kamu tahu.
Hanya
karena menganggap kamu terlalu baik untuk mendapatkan sebuah penolakan.
Penolakan yang sedang aku coba luluhkan.
Salahi
aku yang berharap kamu bisa berdiri disana, bertahan untuk sedikit lagi untuk
memberimu apa yang sekarang sudah kugenggam.
Karena
aku tahu, adalah kamu yang kuingini.
Terlalu
lama, ya aku tahu.
Aku
pun tak pernah ingini selama ini.
Ada
waktu yang harus dibayar untuk sebuah kata.
Dan
ada konsekuensi yang harus diterima untuk habisnya sebuah waktu.
Aku
mengerti.
Sangat
mengerti.
Saat
semua yang kuperlukan untuk bersamamu hanya berbatas satu anggukan,
Semua
sudah terlambat.
Lagi,
waktu menghukumku sejadinya.
Menghujamku
tanpa ampun ke dalam dinginnya kesendirian.
Tapi,
penyesalan takkan pernah menjadi rasa karena memperjuangkanmu adalah pilihanku.
Karena
aku tahu..
Sejak
awal..
Adalah
kamu yang kuingini.
Sunday, February 16, 2014
Kamu adalah sosok yang kelak menemaniku menertawakan kenangan.
Aku menitikkan doa demi doa sejenak sebelum pulasku merajai.
Kupasangkan doa-doa itu sayap terkuatku agar dia segera sampai kepada Tuhan.
Doa yang kupanjatkan di depan sebongkah tembok dingin kamarku, tergeletak berserakan di atas sana.
Sejenak luangkan waktumu untuk melihat meja kerjaNya dan kamu akan melihat namamu menumpuk disana bersayapkan doa-doaku.
Pernahkah kamu sejenak bersepi di suatu ruang yang teramat sepi, seperti sepetak ruang tak bertuan di sudut beranda rumah.
Sekedar meresapi apa apa yang pernah kamu doakan, aku berpikir tentang dia, mereka dan kamu.
Aku pernah lama terbelenggu dia, terbelenggu dalam sebuah lingkaran dekap yang anehnya menyakiti.
Lalu kamu hadir salam sekilas detik di Hari Minggu, mataku dipertemukan dengan segurat senyum itu. Aku terhenyak.
Sejak saat itu binarmu adalah pemicu debarku.
Ramahmu melelehkan belenggu.
Perlahan demi perlahan..
Sedikit demi sedikit..
Tanpa sadar kamu membuatku terlepas..
kamu membuatku menyadari, apa yang menjadi kenangan seharusnya hanya menjadi kenangan.
Karena ada alasan mengapa Tuhan tidak memberinya ruang di masa sekarangmu.
Karena pada akhirnya cinta yang meyulitkan akan digantikan oleh dia yang memudahkan,
Karena pada akhirnya cinta yang berlumur airmata akan digantikan oleh dia yang mengukir senyum,
Karena pada akhirnya cinta yang merendahkan akan digantikan oleh dia yang mengagungkan,
Karena pada akhirnya yang menyakitkan akan digantikan oleh dia yang mendamaikan,
Karena pada akhirnya perlahan kenangan akan digantikan oleh masa sekarang.
Dan, karena pada akhirnya kamulah yang akan ada disisiku, menemaniku menertawakan kenangan.
Monday, February 3, 2014
Kita sama sama mencintai hujan.
Aku duduk ditemani secangkir teh hangat, menyaksikan airmata
langit menjatuhkan diri ke pelukan bumi.
Kepulan asap teh hangat itu membelaiku lebih dari sekedar
rindu, aku biarkan imajiku menari berhujan di ujung pucuk daun. Tak pernah
beranjak dari cerita favoritku. Kamu.
Lamunanku tergoyah oleh sebuah pesan singkat darimu, “aku
sedang menatap hujan di jendelaku. Mereka cantik”.
Aku tersenyum, “begitupun kamu”, balasku dalam hati.
Kulanjutkan lamunanku, detik demi detik itu terlalu megah
untuk tidak kubagi denganmu.
Aku semakin menikmati nada rintik hujan yang menyerah di
kilau jendelaku,
Aku semakin mengagumi rintik air yang berdansa terjatuh di
hadapanku,
Di satu hujan dari langit yang sama, semesta membuat kita
memandang hujan yang sama walau lewat jendela yang berbeda.
Kusesap tegukan terakhir teh ku, lalu kubalas pesanmu.
“kita sama-sama mencintai hujan, semoga kita segera
mencintai kita”.
Subscribe to:
Comments (Atom)
