"Aku kehilangan kata disaat ku kehilangan cinta.. Sekarang aku mulai belajar mencintai kata.. Agar aku ingat rasanya mencintai cinta..."

Tuesday, July 9, 2013

Aku lupa meminta maaf kepada..


Selamat datang Ramadhan, senang bertemu denganmu lagi..

Menjelang bulan Ramadhan dan Lebaran adalah masa dimana orang berlomba-lomba merasa salah dan menebar maaf setelah setahun berpacu dengan egoisme akan kebenaran diri yang berpelit maaf. Dan yah aku sendiri ga bilang itu salah, semua sah-sah saja, dan lagi pula bukan itu poin utama yang ingin aku bahas disini.
Aku menulis untuk mengingatkan diriku sendiri akan kelalaianku,
Aku meminta maaf kepada banyak orang, atas segala kesalahanku, kepada orang tua, kepada teman, sahabat atau bahkan kepada orang yang baru kukenal, aku meminta maaf kepada semua yang berinteraksi denganku. Sampai disana aku merasa benar, hingga akhirnya aku meresapi ruang hening di dalam pikiranku, ruang hening di dalam jiwaku. Aku melakukan kesalahan besar, terlalu banyak aku memikirkan apa yang ada diluarku, tanpa sadar aku lupa untuk berinteraksi ke dalam.
Terlalu sering kita dirumitkan oleh pemikiran kita sendiri hingga kita lupa rasanya memikirkan sesuatu secara sederhana. Terlalu sering kita mempedulikan orang lain hingga lupa mempedulikan diri sendiri.
Aku lupa meminta maaf kepada diriku sendiri jika aku sering lalai dalam menjaga raga,
Aku lupa meminta maaf kepada diriku sendiri jika aku sering lalai menjaga hati dan perasaan,
Aku lupa meminta maaf kepada diriku sendiri jika aku menjadikan diri ini sebagai korban repetisi rasa sakit akibat egoisme diri.
Aku lupa meminta maaf kepada diri akan indera yang sering aku salah fungsikan,
Atas mata yang kupaksa untuk melihat yang tak seharusnya,
Akan tangan yang kugunakan untuk mengambil yang bukan hak nya,
Akan kaki yang kuperintah melangkah ke tempat yang membawaku kepada keburukan,
Akan telinga yang kujerumuskan kepada gaung kata yang tak bermakna,
Atas mulut yang lebih sering berucap keluh daripada berucap syukur, lebih sering mencaci dari pada mendoakan.
Aku lupa meminta maaf semua dzalim yang kubuat kepada diriku sendiri, seolah-olah dzalim dunia belum cukup menyakiti.

Kepada bumi, kepada semesta..
Aku lupa memohon maaf kepada bumi, akan kelalaianku dalam menjaganya selama ini dalam kapasitas yang bisa kujangkau.
Kepada bumi atas kelalaianku berterimakasih atas tempatku berpijak selama hampir 26 tahun ini,
Kepada bumi atas kelakuan burukku yang justru menyakitimu dari dalam, atas perilakuku yang membuatmu semakin senja.
Atas keserakahanku yang semakin manjadi menggerogoti keindahanmu..

Terakhir, kepada Tuhan..
Aku lupa meminta maaf karena ucap syukurku lebih sering tertutup pantulan keluh kesah akan hati yang tak pernah puas.
Aku lupa meminta maaf telah lalai mencintaimu, atau kemungkinan kumencintaimu dengan cara yang salah, dengan cara yang malah mencoreng namamu.
Tentang caraku memperlakukanMu dalam hidup, maaf atas kelakuanku menjadikan hidupku dan keberadaanMu seolah-olah hubungan kita adalah matematika manusia.
Aku lupa meminta maaf akan ketidaksengajaanku menduakanmu dengan dunia, menyekutukanMu ternyata tanpa sadar sering kulakukan. Aku menyekutukanMu dengan pekerjaanku, aku meyekutukanMu dengan teman-temanku, aku menyekutukanMu dengan diriku sendiri, aku sering menunda segala kewajibanku kepadaMu tapi di lain sisi aku berucap TIDAK ADIL jika kupikir Engkau tidak menjawab keinginanku, jika kupikir engkau tidak mengutamakanku PADAHAL aku sendiri sering tidak mengutamakanMu.

Saat aku menghadapMu dalam shalat, seringkali hanya ragaku yang menghadapmu, hatiku, jiwaku melayang ke tempat lain. Kepada rencanaku selanjutnya, kepada (lagi-lagi) pekerjaanku, kepada hal apa yang akan kulakukan selepas shalat ini, semua shalatku seolah aku lakukan dengan mode auto-pilot tubuhku yang telah hafal dengan ucapan dan setiap gerakannya. Banyak sekali hal-hal tidak baik yang kulakukan saat melakukan shalat (yang seringkali) kubilang menghadapMu itu. Sesuatu yang akan sangat kusesali suatu saat dimana aku benar-benar dipanggil untuk menghadapMu.

Tuhan, ampuni aku..
Atas diri yang seringkali tanpa sadar menyepelekanMu,
Atas diri yang seringkali berdoa tetapi tanpa sadar aku hanya berpura-pura berbicara kepadaMu.
Atas diri yang telah berbangga-ria dihadapanMu
Atas diri yang menganggap paling benar dan sering menyalahkan,
Atas diri yang terlihat mendekat kepadaMu, yang ternyata SUNGGUH MASIH JAUH DariMu.

Terimakasih Tuhan, atas nafas yang masih kau pinjamkan untukku bertemu Ramadhan tahun ini.
Marhaban ya Ramadhan.