"Aku kehilangan kata disaat ku kehilangan cinta.. Sekarang aku mulai belajar mencintai kata.. Agar aku ingat rasanya mencintai cinta..."

Thursday, April 30, 2015

Yang kuinginkan, telah bersama dia yang seharusnya.

Senyum yang dulu leluasa kunikmati, kini harus kulihat dalam rasa canggung.
Canda tawa yang dulu denganku, kini tergelak karena alasan yang bukan karenaku.
Dan tolong izinkan aku tetap ikut menikmati bahagia dari sekadar melihat kamu tersenyum.
Tangan yang ingin kugenggam, kini telah bersanding dengan lengan yang seharusnya.

Ketiadaanmu, mengajariku bahwa sejatinya rasa cinta itu selalu ingin memiliki,
Dan seberapa mampu kamu ikut merasa  bahagia melihat orang yang kamu cintai bahagia dengan orang lain yang bisa memberikan apa yang tidak bisa kamu berikan, sedikit banyak mendefinisikan seberapa ikhlas kamu mencintainya.

Menyesakanku melihatmu bahagia bukan bersamaku, tapi lebih menyakitkanku jika terus membiarkanmu bersamaku dan tidak berbahagia.

Karena terkadang yang paling menyakitkan itu bukanlah tentang ketiadaan, namun tentang keberadaan yang terasa tiada.

Ragamu telah menemukan lingkar semestamu dalam peluknya.
Manjamu telah menemukan tuannya.
Dan, hatimu telah menemukan rumahnya.
Penyesalan ini jadi pelajaranku, bahwa kebanyakan cinta tidak dapat menunggu.

Kini giliranku melangkah, menemukan rumah.

Andika Saputra

Monday, April 20, 2015

SESA(K/L)

The hardest part of broken heart is not moving on, its letting go.
The biggest lost of broken heart is not losing the one you love, its losing yourself. [Kee]

Karena melepaskan bukan perihal seberapa jauh kamu pergi, tapi sedalam apa kamu dapat mengikhlaskan. Tak peduli sejauh apapun kamu menjauh, kamu tidak akan pernah bisa membaik tanpa berdamai dengan dirimu sendiri.

Ragamu bisa kau bawa menjauh, sejauh-jauhnya. Namun rasamu akan tetap lekat dalam dirimu. Karena hidupmu tidak hanya diukur dari seberapa baik kamu merencanakan langkah, namun juga tentang seberapa berbesar hati kamu berdamai dengan jejak.

Sesal memang membuat sesak,

Kehilangan semestamu tidak pernah tidak membuatmu terpukul, namun sejauh apa kamu akan biarkan dirimu terjatuh dan sekeras apa kamu akan membiarkan dirimu menghantam bumi, itu pilihanmu.

Karena seperti rasa lainnya, sesak pun tidak kekal..

Jika setiap sesal mengajarkanmu tentang arti kebersamaan, maka kehilangan itu hadir untuk tujuan yang benar.

Jika sesak itu menamparmu sekerasnya hingga menyadarkan tentang apa yang  membuatmu kehilangan, maka perpisahan itu bertamu untuk membuatmu lebih mengenal dirimu.

Dan jika sesal itu membuatmu terbangun di tengah malam dan kamu menemukan dirimu berteriak sejadinya dalam wajah yang tertutup bantal, maka berteriak lah.

Jika sesak itu memaksamu menyerah pada air mata, maka menangislah.

Karena sesa(k/l) dan tangis itu manusiawi,

Dan menjadi manusiawi itu tidak lemah, kawan..


Andika Saputra