Di tengah riuh ramai para penonton, aku termenung melihat layar telepon genggamku, hilang minat ku terhadap film yang sedang diputar, mataku tak lepas dari pesan demi pesan yang masuk darimu, hatiku tak berhenti dari luka yang terus menusuk dari setiap kata yang kubaca.
Kesalahpahaman itu lagi, yang lagi dan lagi berbuah prasangka,
Seolah semesta berusaha menunjukan jalan..
Logika bermufakat dengan hati untuk tak lagi saling menyakiti, memang seharusnya begitu.
Doa yang kurangkai, aamiin yang terucap tulus..
Kata-kata yang seharusnya meluncur saat ulang tahunmu..
Lutut yang seharusnya bersimbah didepanmu dan aksara yang seharusnya terucap untuk memintamu..
Akhirnya semua berakhir dalam sebuah amplop.
Semua kenangan dan harapan,
Semua peluh dan usaha,
Semua tangis dan airmata,
Semua cinta dan rasa rindu,
Pergi dalam ruang sempit sebuah amplop.
Kita tidak cukup baik untuk bersama, mungkin sudah saatnya kita tidak saling merindu (jika memang saling).
Sudah saatnya kita tidak saling mengharapkan (lagi-lagi jika saling) *sigh*
Sudah saatnya kita berhenti melawan kehendak semesta..
Bukan menyerah, hanya realistis..
Aku dan kamu, akan tetap menjadi itu dan takkan pernah menjadi kita.
Pun saat dulu sempat menjadi kita, ada ke akuan yang kentara di dalamnya.
Terimalah semua rasaku itu,
Rasa yang kujaga,
Rasa yang selalu kaulukai dengan prasangka,
Terimalah semua niatanku untukmu,
Niat untuk meminangmu,
Niat yang tak henti kau hujam dengan ketidakpercayaan.
Hari ini, kubungkus rapi semua, kukirimkan padamu dan takkan pernah kuingat lagi.
Terimalah semua, dalam sebuah amplop.
(Disini pernah selalu tertulis "Love")
Andika Dwi Saputra
"Aku kehilangan kata disaat ku kehilangan cinta.. Sekarang aku mulai belajar mencintai kata.. Agar aku ingat rasanya mencintai cinta..."
Wednesday, February 20, 2013
Monday, February 18, 2013
Rasa yang memohon pamit..
"I want you to know how I feel about you
I must show
What to do everytime you are near
All the girls, who try and take your place
It's impossible
They don't matter
'Cause I'm inlove with you
'Cause you are The love of my life"
Lagu ini pernah kubisikan padamu 7 tahun lalu saat aku datang padamu, bukan untuk memintamu menjadi milikku, tapi mengajukan diriku untuk menjadi bagian hidupmu.
Tahun demi tahun berlalu, hingga aku disandera lamunan disini dan kau terdiam disana, dimana hati tak lagi satu karena ego yang tak kunjung melarut.
Perpisahan demi perpisahan telah kenyang dilewati, segala nada tawa dan urai airmata telah banyak dilewati, dimana kita percaya bahwa cinta selalu lebih besar dari itu semua. “we are not created to be separated”,itu yang selalu kita bilang saat kita pulih dari luka.
Hingga akhirnya kita berpisah dalam sunyi. Berbalik tanpa penjelasan, menjauh kan raga, mengasingkan rasa. Khianat katamu menghancurkan asaku, yang dulu kupikir adalah asa kita.
Sore ini aku termenung di tengah cuplikan video yang telah kukumpulkan untukmu, doa mereka, harapan mereka dan aamiin mereka untuk kita,merinding aku melihat doa demi doa yang dilantunkan teman-teman kita, terharu kumelihat setiap aamiin yang terucap dari lisan mereka akan doaku untukmu, untuk kita.
Matahari terbit di awal 25 ku menjadi saksiku memintamu,ironisnya matahari terbenam di awal 25 ku menjadi saksi bagaimana sikapmu menyakitiku (lagi). Rasa yang selalu kuangungkan, wanita yang selaluku banggakan menyakitiku dengan prasangka.
Setiap kata mu menusukku dalam, setiap lisanmu melukai rasa yang selalu kujaga rapat, sikapmu menghancurkan niat yang selalu kudekap, saat kau tahu jelas bagaimana hati ini setia berkiblat kepadamu, kau menyakitiku dengan segala sangka tentang keberpalingan hati.
Gadis, kau hanya belum mengerti berapa hati yang kuacuhkan untuk sekedar menjaga rasaku untukmu.
Gadis, kau hanya belum menyadari berapa langkah yang kutahan hanya untuk menunggumu mendekat.
Gadis, kau hanya belum mengetahui berapa besar halangan yang kuperangi untuk sekedar menjaga niatan setiaku akan jawabmu.
Gadis, kau hanya belum tahu berapa banyak hati yang taksengaja kusakiti karena terlalu membanggakanmu, yang ternyata semu.
Gadis, kau hanya belum tahu bagaimana aku menghindari pesona dengan meninggikan rasaku untukmu.
Gadis, kau hanya belum tahu seberapa terbiasanya aku membatasi hati, hingga akhirnya aku lupa bagaimana rasanya rindu dan jatuhcinta selain kepadamu.
Ya Gadis, mungkin memang kau takkan pernah tahu..
Hari ini, kuserahkan semua yang telah kubuat, tidak sempurna memang, mungkin itu pun representasi harapanku padamu. Tidak sempurna.
Aku akhirnya tahu apa yang membuatku bertahan, dan akhirnya aku pun tahu apa yang membuatku harus pergi.
Aku pamit, Gadis.
Tuhan akan bantu aku mengikhlaskanmu.
Love,
Andika Saputra
Monday, February 4, 2013
Untukmu, Mbok..
Jakarta, 4 Februari 2013
Hari ini masih berjalan seperti biasa, rona macet masih
bersenandung di jalanan.
Para kerah putih masih berkutat dengan angka dan para kerah
biru masih bertarung dengan peluh.
Semua masih berotasi pada poros normalnya.
Hingga akhirnya, sebuah pesan singkat di telepon genggamku
mengacau rotasi hari,
Sebuah kabar duka tentang sosok wanita kuat yang dikhianati zaman,
Wanita tua yang ditinggal belahan jiwa, wanita yang tidak
pernah mengutuk waktu.
Mbok, biasa aku memanggilnya, aku tak pernah tau nama
aslinya, yang ku tau hanyalah ulasan senyumnya yang dia pilih untuk menghadapi
dunia.
Alih-alih menyalahkan hidup, dia lebih memilih untuk
berdamai dengan takdir dan menjalaninya dalam cinta.
Mbok, aku masih ingat sajian yang selalu kau beri padaku setiap
sahur datang, dalam keterbatasanmu, engkau menyanyangi kami seperti anakmu
sendiri, mungkin itu cara mu mensubsitusi rasa rindumu terhadap anakmu yang (secara
kasat mata) tak pernah ada. Hanya Tuhan yang tau.
Mbok, masih segar di ingatanku bagaimana cerianya kau
berceloteh tentang masamu, saat kau arungi hidup sebelum akhirnya berakhir terduduk
di kursi kesayanganmu.
Mbok, hidupmu adalah definisi kebersahajaan, hidupmu adalah
sinonim dari rasa bersyukur dan antitesis dari segala buruk hati. Seorang wanita
yang memilih untuk berpegang pada teguh diri, menjalani gilasan roda hidup
dengan kebaikan hati.
Mbok, dalam petak kecilmu, tak jarang kami lihat kau
termenung, sepi, senyum mu terlelap dalam sunyi, entah mungkin kau sedang
bertanya pada hidup atau memasrah pada rindu. Saat lamunmu terusik kembali
rekah senyummu memancar.
Mbok, di akhir aku melihatmu, kau masih setia duduk di
sudutmu, berdagang seadanya dengan kilauan rasa ikhlas. Entah berapa kali kau
menyembunyikan rasa sedihmu dalam ketus lisanmu atau langkah menjauhmu, tapi
kami tau itu caramu mencegah dirimu terlihat lemah, untuk setiap jengkal hidup
yang pernah dilewatinya rasanya wajar ia tak lagi mau terlihat lemah.
Mbok, pikiranku masih melayang diantara saat langkah
tertatihmu menahan sakit, masih menangis diantara bayangan dirimu dan ruang kotak
di sudut tempat itu,di perlintasan jalan kecil tempatmu menyandarkan hidup,
hidup yang selalu mampu kau syukuri walau entah berapa kali ia mengecewakannya,
hingga akhirnya hidup itu sendiri yang pergi darimu.
Mbok, kebaikan dan ramah sapamu meninggalkan jejak manis di
setiap orang yang melintas di jalan kecil itu, meninggalkan rasa sayang kami
kepadamu, kami sayang akan sosokmu, tapi Tuhan lebih sayang padamu, Dia rindu
memelukmu, Dia ingin berbagi damai denganmu, Mbok.
Tangis kami mengiringi kepergianmu, Mbok..
Ya aku menangis hari ini, Mbok..
Di ujung telepon saat ku kabari orang-orang yang
menyayangimu.
Aku berkeras menahan isak, mejejak kuat-kuat kelopak mataku
agar tak jatuh air mataku.
Selamat jalan, Mbok..
Istirahat dengan tenang disana, hiburlah Tuhan dengan senyum
tulusmu.
Love,
Andika Saputra
Subscribe to:
Comments (Atom)
