"Aku kehilangan kata disaat ku kehilangan cinta.. Sekarang aku mulai belajar mencintai kata.. Agar aku ingat rasanya mencintai cinta..."

Thursday, August 15, 2013

Ama sine timore


Sejenak aku berhadapan dengan bidang kosong, mencoba merangkai segenap rasa yang akan kutuangkan.
Pikiranku penuh dengan angan tentangmu, satu pesan darimu cerahkan hariku, andai bisa kubagi cerah rasaku dengan mendungnya langit di sore ini.
Sejak mentari masih ceria bersinar hingga kini berganti cahaya lampu kota yang terlihat lelah bertahun menerangi malam. Aku masih teringat kamu.

Menunggu itu tidak menyenangkan, tapi menahan untuk tidak berlebihan menunjukan ketertarikan itu jauh lebih menyulitkan. Aku tak terbiasa memuja dalam bisu, yah minimal aku berbicara lewat paras atau tingkahku yang sering mendadak konyol.

Ini bukan pertama kali aku jatuh hati, tapi ini pertama kalinya hatiku menjatuhkan diri tanpa kuminta.

Dia jatuh dengan alami,
Dia terjatuh tanpa paksaan,
Hatiku memulihkan diri, hatiku mencintai cinta.

Ada degup, debar, ada antusiasme yang aku bahkan lupa terakhir kali aku merasakannya.
Aku sempat lupa caranya merindu dan mencinta selain kepada masa lalu, tapi kini aku sudah bisa merindu tanpa luka, aku bisa mencinta tanpa ketakutan.

Ama sine timore – to love without fear

Aku mencintaimu tanpa ketakutan, aku membagi rindu tanpa rasa gundah.
Takkan kusalahkan kamu atas luka yang sedikitpun tak ada kamu di dalamnya. Tidak adil rasanya.
Tak usah bantuku sembuhkan apa yang kau sebut luka itu, karena aku tak ingin kamu menyembuhkan luka yang tidak kamu sebabkan. Aku bisa.
Cukup aku dan kamu yang saling percaya.

Kepada kamu, aku mempercayakan butiran bahagiaku,
Kepada cantikmu aku menyelipkan potongan debarku,
Kepada sejuk senyummu kupercayakan tegarku bersandar,
Kepadamu, untukku.
Untuk pertanyaan yang kelak pasti akan kamu tanyakan,  “aku siap..”

Thursday, August 8, 2013

Hanya 55 detik..


“Seseorang yang paling kamu benci seharusnya menjadi prioritas utama maafmu, bukan menjadi seseorang yang justru kamu hindari..”

Aku memang tidak terlalu suka mengucapkan permintaan maaf dengan cara menseragamkan ucapannya, walaupun aku pun tidak menyalahkan mereka yang melakukannya. Mungkin teman mereka terlalu lebih banyak dariku untuk dikirimi secara personal.

Aku mengetik satu persatu permintaan maafku, diselingi dengan dosa spesifik yang mungkin tak sengaja ku ingat saat mengetik pesan tersebut. Kuurutkan satu persatu mereka yang ada di list telepon genggamku, hingga akhirnya membawaku kepada suatu nama yang ada di teleppon genggamku bertuliskan,

“Papa”

Aku memandanginya, sepersekian detik pikiranku kosong berusaha mencerna apa arti empat huruf tersebut, karena bahkan aku sudah terlalu asing untuk mengejanya.
Detik kemudian, aku mulai berusaha keras membayangkan wajahnya dari sisa serpihan memori yang berserakan di pikiranku, karena aku mungkin aku sudah terlalu lupa tentang bagaimana rupa lelaki yang menikahi ibuku itu. Aku gagal.

Aku coba lagi sekeras ingatanku dapat menguras memorinya.
Aku tetap gagal.

Kata tanteku, “kelupaanku terhadap rupanya mungkin awal mula dari prosesku melupakan keburukannya”. Semoga.

Detik demi detik aku lewati hanya dengan memandangi nama tersebut, bingung untuk memulai, tak tahu harus merasa apa, tak sadar degupku meningkat, entah apa yang membuatnya, mungkin senang, gugup atau bahkan kebencian itu lagi.

Terlalu lama waktu memisahkan kami, mungkin hidup telah menginvestasikan jaraknya pada kami, semakin waktu berjalan semakin jarakpun bertambah, aaahhh mungkin kita yang terlalu gigih menyalahkan hidup, bukankah justru kita yang terlalu lemah terhadap ego kita sendiri?

Saat itu aku menyadari bahwa rinduku (dan rasa lainnya) hanya berjarak satu tombol dalam telepon genggamku. Aku menarik nafasku dalam dan....
*bip* aku menekan tombol “call”.

Dua detik kemudian aku membatalkan panggilan diikuti kepalaku yang memanas, nafasku yang beradu dan tanganku yang tanpa kudasari mengepal sangat keras. Di saat itu aku bertanya pada diriku, apakah sekeras itu rasaku kepadanya? Ternyata iya.

Kemudian aku menekannya lagi, setiap detik yang berlalu bagaikan menusukku bertubi-tubi, hingga akhirnya lelaki diujung telepon itu menjawab,
Aku beku, lidahku kelu, pikiranku mendadak menjadi dungu, aku memaksa lisan ku untuk berbicara,

“Pah, ini Dika, mohon maaf lahir batin untuk semua kesalahan aku..”

Setelah itu ak tak tahu lagi apa yang ada di percakapan itu, karena aku terlalu sibuk mengatur rasa, aku terlalu repot untuk tidak terdengar lemah dan mengancam agar airmata itu tak pernah jatuh lagi untuknya. Aku gagal, yang kubisa hanya menjauhkan telepon genggamku dariku agar tak sedikitpun terdengar rapuhku olehnya.

Waktu mengalir sangat lambat, hingga akhirnya di detik ke-55 aku mengucap salam terakhir,
hanya 55 detik, 55 detik untuk bertahun rindu yang terpisah oleh tebalnya ego.
Hanya 55 detik, ya tak genap satu menit, sudah lebih dari cukup untuk menjungkirbalikan setiap sendi rasa yang pernah kumiliki.
Hanya 55 detik yang diperlukan untuk meluluhlantahkan benteng rasa yang bertahun kubangun dengan residu memori dan ribuan rasa benci.
Hanya 55 detik.

I move on from my past, i let all your faults go..
i let you go..
God will help me with this..
Bismillah.

Thursday, August 1, 2013

Ayah, Rindu kepadamu adalah sebuah do(s)a..


Ayah, Papa, Bapak atau apapun kita biasa memanggil lelaki yang menikahi ibu, entah kapan terakhir kali aku memamnggil seseorang dengan sebutan itu. Atau kita rubah pernyataannya entah aku masih berani untuk memanggil seseorang dengan sebutan itu lagi atau tidak, karena 2 orang terakhir yang kupanggil dengan sebutan itu, hilang bersama masa.

Sekian lama aku melangkah dipenuhi rasa kecewa akan sosok-sosok itu, selama itu pun aku selalu memaksa hatiku mensubstitusi setiap butir rindu menjadi sebongkah benci, selama itu pula aku selalu menghukum diriku sendiri setiap ada tetes airmata yang mengalir untuknya. Takkan membuang-buang rasa kepada mereka yang tak pantas, kataku.

Setumpuk pengalih perhatian selalu siap membuatku lupa seketika rasa rindu menyergap, hati ini sudah ada pada mode auto-pilotnya sendiri yang otomatis menghapus setiap gurat rindu yang mulai tertulis. Seolah aku sudah terbiasa bertoleransi kepada sisi burukku untuk hal yang satu ini.

Rindu kepada nya adalah sebuah do(s)a.

Berat setumpuk kebencian ini sangat membebani, tapi aku bilang persetan dengan semua itu, aku tutup rapat-rapat semua inderaku, “kulindungi” mereka dari semua bisik yang memberitahuku untuk menemui nya. Kalian takkan tahu apa yang telah kulewati, kataku.

Hingga akhirnya Tuhan memberikanku sakit, satu dan lain hal akhirnya membawaku bertemu dengan seorang dokter. Aku mulai mengeluhkan ini itu tentang sakit yang kurasa, beliau akhirnya hanya tersenyum dan menjawab.

“Terlalu banyak emosi yang kamu tahan, bijak itu bukan tentang menahan emosi tapi tentang bagaimana mengendalikannya.”

Aku terdiam, sejenak berpikir lalu bertanya,

“Kalau mau sembuh obatnya apa ya dok? Apa harus fisioterapi juga?”

Lagi-lagi beliau tersenyum dan menjawab,

“Temui orang yang membuat kamu sekesal itu, temui orang yang paling kamu benci, minta maaf padanya dan katakan bahwa kamu sayang dia..”

Aku terhentak, ucapan yang menarikku terbang menembus sisi-sisi kenangan yang menyesak, diantara jiwa-jiwa yang menyesal.

Nafasku tetiba tersengal, aku menelan ludah, ada tangis yang menunggu untuk diamini. Aku teringat satu sosok itu.

“Papah..”

Dalam hati aku mengucap, keangkuhanku menghujam bumi, aku berbangga akan sesuatu yang memukulku hingga rasanya setiap bagian dari kebanggaanku lebam. Aku salah telah berbangga akan kebencian.

Aku ingin bertemu dengamu, aku ingin memelukmu, aku ingin meluapkan semua rindu dalam diriku, aku ingin melepaskan semua rasa yang bertahun kubelenggu dengan rantai kebencian.

Aku ingin bertemu denganmu, bukan untuk berkeluh tentang masa lalu, apalagi berangan tentang masa depan.

Aku ingin bertemu denganmu, hanya itu.

Setelahnya aku tak peduli apa akan ada pertemuan selanjutnya atau itu terakhir kalinya aku meluap rasa.
Akan kubisikan kata yang tak sempat kuucap beberapa tahun lalu saat akhirnya kita dipisahkan oleh keangkuhan dan keagungan ego.

“Dika sayang papah, Dika kangen papah..Maafkan anakmu ini”

Kata itu hanya akan kuucap, tak perlu kudengar balasmu.
Kata itu hanya perlu kuucap, setelahnya aku tak lagi peduli.

Aku yang pergi, tapi kali ini dengan pamit.
Jalani lah lagi hidupmu yang telah cukup bahagia tanpa ada aku di dalamnya.

I’m not your only son, like you’re not my only father..
But you’ve lost all your sons, like i’ve lost all my fathers.


-some words are better left unspoken, some others are better spoken a moment before a real goodbye” –Andika Saputra.