Ayah, Papa, Bapak atau apapun kita biasa memanggil lelaki
yang menikahi ibu, entah kapan terakhir kali aku memamnggil seseorang dengan
sebutan itu. Atau kita rubah pernyataannya entah aku masih berani untuk
memanggil seseorang dengan sebutan itu lagi atau tidak, karena 2 orang terakhir
yang kupanggil dengan sebutan itu, hilang bersama masa.
Sekian lama aku melangkah dipenuhi rasa kecewa akan
sosok-sosok itu, selama itu pun aku selalu memaksa hatiku mensubstitusi setiap
butir rindu menjadi sebongkah benci, selama itu pula aku selalu menghukum
diriku sendiri setiap ada tetes airmata yang mengalir untuknya. Takkan membuang-buang
rasa kepada mereka yang tak pantas, kataku.
Setumpuk pengalih perhatian selalu siap membuatku lupa
seketika rasa rindu menyergap, hati ini sudah ada pada mode auto-pilotnya
sendiri yang otomatis menghapus setiap gurat rindu yang mulai tertulis. Seolah aku
sudah terbiasa bertoleransi kepada sisi burukku untuk hal yang satu ini.
Rindu kepada nya adalah sebuah do(s)a.
Berat setumpuk kebencian ini sangat membebani, tapi aku
bilang persetan dengan semua itu, aku tutup rapat-rapat semua inderaku, “kulindungi”
mereka dari semua bisik yang memberitahuku untuk menemui nya. Kalian takkan
tahu apa yang telah kulewati, kataku.
Hingga akhirnya Tuhan memberikanku sakit, satu dan lain hal
akhirnya membawaku bertemu dengan seorang dokter. Aku mulai mengeluhkan ini itu
tentang sakit yang kurasa, beliau akhirnya hanya tersenyum dan menjawab.
“Terlalu banyak emosi yang kamu tahan, bijak itu bukan
tentang menahan emosi tapi tentang bagaimana mengendalikannya.”
Aku terdiam, sejenak berpikir lalu bertanya,
“Kalau mau sembuh obatnya apa ya dok? Apa harus fisioterapi
juga?”
Lagi-lagi beliau tersenyum dan menjawab,
“Temui orang yang membuat kamu sekesal itu, temui orang yang
paling kamu benci, minta maaf padanya dan katakan bahwa kamu sayang dia..”
Aku terhentak, ucapan yang menarikku terbang menembus
sisi-sisi kenangan yang menyesak, diantara jiwa-jiwa yang menyesal.
Nafasku tetiba tersengal, aku menelan ludah, ada tangis yang
menunggu untuk diamini. Aku teringat satu sosok itu.
“Papah..”
Dalam hati aku mengucap, keangkuhanku menghujam bumi, aku
berbangga akan sesuatu yang memukulku hingga rasanya setiap bagian dari
kebanggaanku lebam. Aku salah telah berbangga akan kebencian.
Aku ingin bertemu dengamu, aku ingin memelukmu, aku ingin
meluapkan semua rindu dalam diriku, aku ingin melepaskan semua rasa yang
bertahun kubelenggu dengan rantai kebencian.
Aku ingin bertemu denganmu, bukan untuk berkeluh tentang
masa lalu, apalagi berangan tentang masa depan.
Aku ingin bertemu denganmu, hanya itu.
Setelahnya aku tak peduli apa akan ada pertemuan selanjutnya
atau itu terakhir kalinya aku meluap rasa.
Akan kubisikan kata yang tak sempat kuucap beberapa tahun
lalu saat akhirnya kita dipisahkan oleh keangkuhan dan keagungan ego.
“Dika sayang papah, Dika kangen papah..Maafkan anakmu ini”
Kata itu hanya akan kuucap, tak perlu kudengar balasmu.
Kata itu hanya perlu kuucap, setelahnya aku tak lagi peduli.
Aku yang pergi, tapi kali ini dengan pamit.
Jalani lah lagi hidupmu yang telah cukup bahagia tanpa ada
aku di dalamnya.
I’m not your only son, like you’re not my only father..
But you’ve lost all your sons, like i’ve lost all my fathers.
-some words are better left unspoken, some others are better
spoken a moment before a real goodbye” –Andika Saputra.