"Aku kehilangan kata disaat ku kehilangan cinta.. Sekarang aku mulai belajar mencintai kata.. Agar aku ingat rasanya mencintai cinta..."
Saturday, May 12, 2012
Sebulir Embun..
Embun..
Seperti namamu, senantiasa sejukan terik siangku..
Sepatah senyum lewat hembusan udara dapat pudarkan risauku..
Embun..
Sore ini hujan,
Jutaan tetes air menghujani harapanku, tapi pun tak ada semegah satu tetes darimu..
Embun..
Mungkin aku jatuh, aku telah jauh tersungkur kedalam rasa itu..
Embun..
Kesakitan lamaku membuatku asing dengan rasa ini, kini muncul lagi berkaca dalam bulatan tetesmu..
Aku membiarkan diriku jatuh, namun tidak tersungkur..
Mendorong diriku, namun jauh dari memaksa..
Embun..
Putaran rasa ini mulai berpusat kepadamu, sejak pertemuan singkat di suatu ujung mata..
Sejak indera ini mencuri kilasan senyuman itu..
Tapi Embun..
Mengapa kau mengering begitu cepat?
Mengapa kau menghilang sebelum sempat kau menetes?
Haruskah kusalahkan sang fajar yang berdiri terlalu tinggi sehingga membuatmu hilang?
Embun..
Ada waktu dimana ku menunggumu menetes.. Dimensi demi dimensi..
Bahkan untuk seiris penjelasan..
Tapi mungkin kau yang tak rela menetes kepadaku,
Mungkin bulirmu kausiapkan bukan untukku..
Aku berjalan menjauh, meninggalkanmu dengan manismu..
Disini aku menikahi kesendirian..
Takdir ini melukaiku, lagi..
Hati ini memilih untuk patuh pada logika, walau harus merasa patah pada sang luka, lagi..
Hati, kadang bisa menjadi obat dan luka pada saat yang sama untuk orang yang berbeda..
Embun,
Aku terkadang menguji ketabahan, dengan mengingatmu.. Jika hatiku meleleh, maka kau masihlah segalanya..
Tuhan, takdir ini melukai (lagi)..
Takdir ini membuatku patah (lagi).. Kadang aku bertanya, bagaimanakah caraku untuk membuat sang takdir patah hati?
Tanda pamitku,
Untukmu,
Embun..
Andika Winchester Saputra
Thursday, May 3, 2012
Keisya
Keisya..Keis..
Apa kabar?
Dika masih inget sampai saat terakhir kita ketemu, Keis masih manggil Dika "ciccakk" karena ngomong Keis masih belepotan.. :)
Keis..
Ga kerasa udah berapa bulan kita ga ketemu, Keis dah gede ya, Keis..
Sekarang Keis udah TK Besar..
Keis..
Dika kangen.. Dika masih inget waktu Keis ga mau lepas dari gendongan Dika, semalem sebelum Dika pergi ke KL..
Keis..
Beberapa hari ini Dika kepikiran Keis terus, dan ternyata Keis lagi demam ya?
Dika nelepon Keis, tapi Keis nya ga mau.. Hehehe..
Dika kangen tau, Keis..
Dika selalu kangen sama teriakan "ciccaaakk..." sambil Keis lari dan loncat ke gendongan Dika, setiap Dika dateng kerumah Keis..
Keis, semoga demamnya cepet sembuh ya, supaya Keis bisa sekolah lagi, maen gambar2an lagi, maen sama Miauw, :D
Mungkin sekarang Keis blom ngerti..
Tapi Cicaakk kangeeen bgt m Keis..
Love U, Keis..
Cicaakk.. :)
Wednesday, May 2, 2012
Rabu, Apakah yang coba kau sampaikan?
Rabu..
Sesaat setelah Selasa merelakan ragaku untukmu,
Aku masih terjaga, senyumku masih mencinta..
Rabu..
Sedetik sebelum kau menggurui,
Relung ini masih penuh rindu,
Otak ini masih terbius candu,
Malam pun masih setia menciumiku..
Hingga ditengah gelapmu..
Perasaan menusuk itu datang (lagi),
Perasaan tak asing yang membuat kecut hati..
Sementara aku masih tertegun bersama gagang yang tak hentinya mengeluarkan suara terputus..
Rabu,
Adalah yang mau kau sampaikan?
Rabu,
Apa kau coba membangunkanku dari lelap pesona itu?
Apa kau coba untuk menyadarkan aku dari kesejukan buta itu?
Rabu,
Apa yang ada di benakmu?
Rabu,
Fajar meninggi di tengkukmu,
Menunjukan kuasamu untuk mengeringkan sang embun..
Apa itu yang coba kau tunjukan padaku, Rabu?
Inikah caramu menuntunku?
Inikah caramu membangunkanku?
Mengingatkan bahwa belum waktunya aku jatuh lagi..
Menyajikanku segigit kenyataan bahwa aku belum cukup pulih untuk dilukai lagi..
Wahai pujangga di hari Rabu,
Apakah yang coba kau sampaikan?
Sesaat setelah Selasa merelakan ragaku untukmu,
Aku masih terjaga, senyumku masih mencinta..
Rabu..
Sedetik sebelum kau menggurui,
Relung ini masih penuh rindu,
Otak ini masih terbius candu,
Malam pun masih setia menciumiku..
Hingga ditengah gelapmu..
Perasaan menusuk itu datang (lagi),
Perasaan tak asing yang membuat kecut hati..
Sementara aku masih tertegun bersama gagang yang tak hentinya mengeluarkan suara terputus..
Rabu,
Adalah yang mau kau sampaikan?
Rabu,
Apa kau coba membangunkanku dari lelap pesona itu?
Apa kau coba untuk menyadarkan aku dari kesejukan buta itu?
Rabu,
Apa yang ada di benakmu?
Rabu,
Fajar meninggi di tengkukmu,
Menunjukan kuasamu untuk mengeringkan sang embun..
Apa itu yang coba kau tunjukan padaku, Rabu?
Inikah caramu menuntunku?
Inikah caramu membangunkanku?
Mengingatkan bahwa belum waktunya aku jatuh lagi..
Menyajikanku segigit kenyataan bahwa aku belum cukup pulih untuk dilukai lagi..
Wahai pujangga di hari Rabu,
Apakah yang coba kau sampaikan?
Subscribe to:
Comments (Atom)