"Aku kehilangan kata disaat ku kehilangan cinta.. Sekarang aku mulai belajar mencintai kata.. Agar aku ingat rasanya mencintai cinta..."

Sunday, February 16, 2014

Kamu adalah sosok yang kelak menemaniku menertawakan kenangan.


Aku menitikkan doa demi doa sejenak sebelum pulasku merajai.
Kupasangkan doa-doa itu sayap terkuatku agar dia segera sampai kepada Tuhan.
Doa yang kupanjatkan di depan sebongkah tembok dingin kamarku, tergeletak berserakan di atas sana.
Sejenak luangkan waktumu untuk melihat meja kerjaNya dan kamu akan melihat namamu menumpuk disana bersayapkan doa-doaku.

Pernahkah kamu sejenak bersepi di suatu ruang yang teramat sepi, seperti sepetak ruang tak bertuan di sudut beranda rumah.
Sekedar meresapi apa apa yang pernah kamu doakan, aku berpikir tentang dia, mereka dan kamu.
Aku pernah lama terbelenggu dia, terbelenggu dalam sebuah lingkaran dekap yang anehnya menyakiti.
Lalu kamu hadir salam sekilas detik di Hari Minggu, mataku dipertemukan dengan segurat senyum itu. Aku terhenyak.
Sejak saat itu binarmu adalah pemicu debarku.
Ramahmu melelehkan belenggu.

Perlahan demi perlahan..
Sedikit demi sedikit..
Tanpa sadar kamu membuatku terlepas..
kamu membuatku menyadari, apa yang menjadi kenangan seharusnya hanya menjadi kenangan.
Karena ada alasan mengapa Tuhan tidak memberinya ruang di masa sekarangmu.

Karena pada akhirnya cinta yang meyulitkan akan digantikan oleh dia yang memudahkan,
Karena pada akhirnya cinta yang berlumur airmata akan digantikan oleh dia yang mengukir senyum,
Karena pada akhirnya cinta yang merendahkan akan digantikan oleh dia yang mengagungkan,
Karena pada akhirnya yang menyakitkan akan digantikan oleh dia yang mendamaikan,
Karena pada akhirnya perlahan kenangan akan digantikan oleh masa sekarang.

Dan, karena pada akhirnya kamulah yang akan ada disisiku, menemaniku menertawakan kenangan.


Monday, February 3, 2014

Kita sama sama mencintai hujan.











Rintik hujan sore ini kembali menghujam bumi, satu persatu menusuk setiap sudut semesta.
Aku duduk ditemani secangkir teh hangat, menyaksikan airmata langit menjatuhkan diri ke pelukan bumi.
Kepulan asap teh hangat itu membelaiku lebih dari sekedar rindu, aku biarkan imajiku menari berhujan di ujung pucuk daun. Tak pernah beranjak dari cerita favoritku. Kamu.

Lamunanku tergoyah oleh sebuah pesan singkat darimu, “aku sedang menatap hujan di jendelaku. Mereka cantik”.
Aku tersenyum, “begitupun kamu”, balasku dalam hati.

Kulanjutkan lamunanku, detik demi detik itu terlalu megah untuk tidak kubagi denganmu.
Aku semakin menikmati nada rintik hujan yang menyerah di kilau jendelaku,
Aku semakin mengagumi rintik air yang berdansa terjatuh di hadapanku,
Di satu hujan dari langit yang sama, semesta membuat kita memandang hujan yang sama walau lewat jendela yang berbeda.

Kusesap tegukan terakhir teh ku, lalu kubalas pesanmu.
“kita sama-sama mencintai hujan, semoga kita segera mencintai kita”.