Akhir dari
sesuatu adalah awal dari sesuatu.
Seperti akhir
resolusi selalu menjadi awal resolusi yang baru. Idealnya begitu.
Tapi awal
sesuatu tidak selalu baru,
Awal sesuatu
tidak selalu tanpa sisa.
Ya, akhir
sesuatu selalu menjadi awal dari sesuatu tapi awal sesuatu belum tentu adalah
akhir dari sesuatu.
Awal ini,
aku masih belum bisa melepaskan diri dari resonansi hatiku, tentangmu.
Tahun lalu,
aku masih bercanda dengan takdir, aku masih bergumul dengan mimpi, tentang
sebuah mimpi kecil tentang aku dan kamu. Ya aku dan kamu, bukan kita.
Karena sejak
itu tak pernah ada lagi Kita.
Namun saat
itu kamu masih menjadi sejuk dalam bejana waktuku, indah harimu masih menjadi obsesiku dan senyum
indahmu masih menjadi manifestasi bahagiaku.
Dalam lelapku,
aku masih bermimpi tentangmu, masih sempat berandai tentang masa, masih
terlarut dalam belaian sisa cinta.
Hingga aku
tersadarkan, bahwa kau hanya bisa menjadi mimpi dalam pejamku, indah tapi tak
nyata, cantik tapi selalu takluk pada tersadarnya indera.
Aku pernah
memilikimu, namun tidak lagi..
Aku pernah
dirindukan olehmu, tapi mungkin tidak lagi..
Aku pernah
sangat khawatir kehilanganmu, hingga sekarang..
Walau terkadang
aku berpikir, bagaimana kita bisa sangat khawatir kehilangan seseorang yang
tidak benar-benar kita miliki?
Namamu
mungkin sudah menghilang dari lisan hariku, walau seringkali tak sengaja aku menyebutmu
dalam doaku.
Untuk kamu,
awalku tak selalu baru, karena selalu ada remah kenangan dalam setiap langkah
maju.
Untuk kamu,
akan kubiarkan jentik rinduku mengkristal dalam alunan doa yang khusyu.
Aku mencintaimu,
tapi biarlah itu menjadi ruang usang yang mungkin suatu saat akan kusesali.
Aku merindukanmu,
tapi biarlah itu menjadi bukti candu yang terluka.
Aku menjadi
aku, dan biarlah itu dimulai dari huruf terakhir yang kuukir dalam tulisan ini
Andika
Winchester Saputra
2013









