"Aku kehilangan kata disaat ku kehilangan cinta.. Sekarang aku mulai belajar mencintai kata.. Agar aku ingat rasanya mencintai cinta..."

Sunday, December 30, 2012

Untuk kamu, yang masih seringkali terlintas di doa..


Kata orang,
Akhir dari sesuatu adalah awal dari sesuatu.
Seperti akhir resolusi selalu menjadi awal resolusi yang baru. Idealnya begitu.
Tapi awal sesuatu tidak selalu baru,
Awal sesuatu tidak selalu tanpa sisa.
Ya, akhir sesuatu selalu menjadi awal dari sesuatu tapi awal sesuatu belum tentu adalah akhir dari sesuatu.

Awal ini, aku masih belum bisa melepaskan diri dari resonansi hatiku, tentangmu.
Tahun lalu, aku masih bercanda dengan takdir, aku masih bergumul dengan mimpi, tentang sebuah mimpi kecil tentang aku dan kamu. Ya aku dan kamu, bukan kita.
Karena sejak itu tak pernah ada lagi Kita.

Namun saat itu kamu masih menjadi sejuk dalam bejana waktuku,  indah harimu masih menjadi obsesiku dan senyum indahmu masih menjadi manifestasi bahagiaku.
Dalam lelapku, aku masih bermimpi tentangmu, masih sempat berandai tentang masa, masih terlarut dalam belaian sisa cinta.
Hingga aku tersadarkan, bahwa kau hanya bisa menjadi mimpi dalam pejamku, indah tapi tak nyata, cantik tapi selalu takluk pada tersadarnya indera.

Aku pernah memilikimu, namun tidak lagi..
Aku pernah dirindukan olehmu, tapi mungkin tidak lagi..
Aku pernah sangat khawatir kehilanganmu, hingga sekarang..
Walau terkadang aku berpikir, bagaimana kita bisa sangat khawatir kehilangan seseorang yang tidak benar-benar kita miliki?
Namamu mungkin sudah menghilang dari lisan hariku, walau seringkali tak sengaja aku menyebutmu dalam doaku.
Untuk kamu, awalku tak selalu baru, karena selalu ada remah kenangan dalam setiap langkah maju.
Untuk kamu, akan kubiarkan jentik rinduku mengkristal dalam alunan doa yang khusyu.


Aku mencintaimu, tapi biarlah itu menjadi ruang usang yang mungkin suatu saat akan kusesali.
Aku merindukanmu, tapi biarlah itu menjadi bukti candu yang terluka.
Aku menjadi aku, dan biarlah itu dimulai dari huruf terakhir yang kuukir dalam tulisan ini


Andika Winchester Saputra
2013

Tuesday, December 11, 2012

Kenalkan, aku...


Mereka menyanjungku saat aku jatuh..
Kejatuhanku membawa mereka terbang dalam imaji terindah yang bisa mereka angankan..
Saat mereka bahagia, mereka begitu menyayangiku..
Mereka memperlakukanku seolah aku lah keseluruhan mereka..

Tapi kadang mereka lalai, lalai menjaga ku dari guratan niat luka dari sang raga yang mereka puja..
Saat aku terluka, mereka menangis..
Mereka menyalahkanku..
Menyudutkanku akan ketidakmampuanku untuk berpikir.

Saat mereka terluka, mereka mengamini segala aksara logika, membuang semua salah padaku..
Mencecar sifatku yang tak pernah tunduk pada pikiran..

Mereka meninggalkanku sendiri, di sudut gelap yang lelah ditinggal residu cahaya bahagia.
Mereka memintaku memulihkan diri,
Mereka menyuruhku menyusun kembali ceceran diriku,
Merapihkan remah-remah rasa yang hancur karena perbedaan.

Mereka tak mau tahu,
Mereka hanya peduli dengan air mata dan penyesalan, tentang aku yang terlalu mudah jatuh.
Tentang aku yang terlalu bodoh untuk bertahan.

Saat aku mulai pulih..
Pulih dari luka lalu yang mereka izinkan untuk melukai,
Saat aku mulai berusaha berdiri..
Saat aku mulai mencoba membuka diri..
Mereka bahkan tak mau membantuku..
Mereka bahkan tak berusaha untuk mengerti arti ku "mencoba".
Mereka hanya menertawakanku dalam perasaan buatan yang mereka karang dan berkata "cobalah buka dirimu dulu lalu temui aku lagi, aku tak butuh dirimu yang compang camping.."
Lalu mereka pergi, tanpa aku..

Kenalkan, aku (seharusnya) adalah bagian dari mereka..
Mereka biasa menyebutku,

Hati..


Andika Winchester Saputra

Saturday, December 8, 2012

Bromo, October 26..


October 26, 2012
00.05 WIB di Cemoro Lawang, Bromo,

Remah-remah kenangan membawaku kembali kesini, dimana 2 warsa lalu aku meringis rindu akan kehadiranmu, di suasana ini, romantisme ini, dan segala ceceran keagungan Tuhan yang tertumpah dalam pesona Gunung ini.
Hari ini, waktu terasa berputar sangat cepat, membawaku ke seperempat abad dalam kehidupanku, di tempat yang sama berpayung langit cerah dengan bintangnya yang ceria, romantisme ini, kerinduan ini, masih tanpamu.

Tepat setahun lalu, detik demi detik pergantian hari kulewati bersamamu, sederhana memang, hanya melahap kilometer demi kilometer jalanan Bandung yang selalu berubah menjadi begitu indah saat kau ada dibelakangku.

Malam ini, setahun kemudian, kuputuskan untuk melalui sisa hariku di ketinggian Bromo, sesaat ku sampai kucoba untuk mengayun langkahku, meresap dalam-dalam dinginnya keanggunan Gunung ini, memandang dalam setiap sudutnya mencoba membius memori dengan pesona yang tak sulit kucari. Tapi aku pun tahu, bukan itu yang kucari, aku berjalan, meresap, memandang untuk mencari sesuatu, suatu moment, suatu rasa yang bisa membuatku bicara “hanya di tempat ini, walaupun tanpa kamu, semua tetap indah”. Aku gagal.

Tapi disini aku menyadari, keindahanku, rasa takjubku, bius rindu ini tak boleh lagi berporos  padamu. Semua telah terlanjur dingin, jauh lebih menusuk daripada pelukan suhu ini. Tak peduli seberapa hangat ragamu, ia akan mati jika hatimu menggigil, aku tak akan membiarkan hati ini menggigil terlalu lama lagi.

Hari ini akan kutarikan pena baru dalam helai kosong hariku, yang mungkin sudah tak ada nama kamu lagi dalam setiap tinta yang mencecer keluar. Jika kelak air mata merefleksikan rasa sesal, maka biarlah mereka menjadi penebus rasa bersalah itu. Aku tak ingin lagi menukar masa laluku dengan rasa bersalahku, dan tak mau lagi kugadai masa depanku untuk sebuah kekhawatiran.

Dari titik ini, dalam pelukan indah anugerah Tuhan, aku memulai langkah baru, meninggalkan anugerah Tuhan yang pernah lelap dalam hati.

Selamat datang, hariku. Aku menyambutmu disini.

Selamat tinggal hariku. Aku pun melepasmu disini.


On my 25
Andika Winchester Saputra

Wednesday, December 5, 2012

You cant push your heart to forget like you cant push your heart to love..


Saat hati tengah bergandengan, segala indera merasa bahagia..
Saat rindu saling bersahutan, segala warna menjadi sangat ceria..
Apakah itu karena ada cinta? Ya.
Saat senyum selalu warnai setiap aksara yang tertulis..
Saat perasaan tenang selalu hadir di sela suaranya..
Apakah itu karena ada cinta? Ya.

Tapi apakah kehadiran cinta selalu memberi dan menerima? Ideal nya begitu.
Tapi kita tahu bahwa hidup tidak selalu ideal kan?
Di saat cinta tidak bisa memberi dan menerima, ada orang-orang yang cukup puas dengan hanya menjadi salah satunya.
Tapi mungkin itulah cara mereka berbahagia, ada yang merasa cukup berbahagia untuk hanya mencintai walaupun tanpa dicintai, karena baginya ikhlas memberi cinta adalah caranya untuk berbahagia (juga terkadang menyakiti hati sendiri).
Ada juga yang merasa cukup berbahagia dengan hanya menerima cinta, karena baginya terbuka menerima cinta walau dengan ketidakmampuan untuk mencintai adalah caranya untuk berbahagia (juga terkadang menjadi egois dan menyakiti).

Maka aku memberi waktu hatiku untuk berpikir, bersamaan aku meminta logikaku untuk sedikit merasa.
Bukan mengabaikan, hanya menghindari keterburu-buruan yang seringkali berakhir dengan ketidakmampuan untuk mencintai.
Bukan mengulur,hanya tidak ingin hati ini terus terlena perasaan dicintai hingga akhirnya hati ini lupa untuk mulai belajar mencintai (lagi).

Aku tak pernah meminta hatiku untuk lari, karena lari tak akan pernah memberi kita sedikitpun kebebasan.
Aku tak pernah mengajari hati untuk meninggalkan, tapi berbincang tentang bagaimana membuat hatiku mengikhlaskan..

Not to move on, but to let go..

Aku meminta hatiku berdiri, memilih, meyakini dan menjalani.

“Jika hanya boleh memilih satu antara kebahagiaan karena mencintai atau kebahagiaan karena dicintai, mana yang akan kamu pilih?”
Kemanapun hatimu memihak, dimanapun logikamu akhirnya memalingkan pilihan maka itulah cara mu berbahagia.
Hargai sikap hatimu, yakini dimanapun cinta menjatuhkan jangkarnya disanalah kamu seharusnya berlabuh.

Karena cinta tak bisa dipaksa untuk melupakan seperti dia tidak bisa dipaksa untuk mencinta..



Tuesday, November 27, 2012

Dia tidak pergi, dia hanya pulang kepadaNya..


"Like a comet, blazing 'cross the evening sky .. Gone too soon..
Like a rainbow, fading in the twinkling of an eye.. Gone too soon..”
Gone too soon – Michael Jackson

Gone too soon..
Ya mungkin itu yang terlintas di benak kita semua saat mendengar kabar kepergianmu..
Kaget, sedih, perasaan tidak percaya bercampur dalam pusaran tanda tanya.
Kenapa dia?
Kenapa sekarang?
Kenapa secepat itu?
Takkan habis pertanyaan akan kepergianmu di penghujung November ini.
Semua pertanyaan itu bukan bentuk kami mempertanyakanMu, Tuhan, bukan sama sekali..
Itu hanya bentuk kehilangan kami akan sosok sahabat yang sangat kami sayangi.
Kami rindu, Tuhan..
Tapi kami tahu, Kau pun rindu dia..
Maka Kau panggil dia, Kau sediakan tempat damai untuknya didekatMu..
Kami salah, karena sesungguhnya dia bukan PERGI dari kami, tapi dia justru PULANG kepadaMu.

Melangkahlah pulang, kawan..
Jangan pernah takut akan kesepian, karena rindu kami akan selalu menemani mu..
Beristirahatlah, kawan..
Jangan pernah takut akan kegelapan, karena doa kami tanpa henti akan senantiasa menerangi sekitarmu.
Doa kami, bentuk rasa rindu kami dalam rasa ikhlas akan kepulanganmu.

You showed us how to appreciate life..
You showed us how to fight for it..
We love you, Bagita..
And we’ll always do..

Take care yourself in heaven.

Saturday, October 27, 2012

(Train)spiration 2 -Ayah-

Kereta ini terus membawaku kembali ke kota(ku). Meniti remah demi remah kenangan.

Kulemparkan pandangku sejauh mungkin, mulai merekam apa yang nantinya akan kukenang dalam perjalanan ini, saat itu pandangku terbius oleh satu sudut keretaku.

Disamping tempatku, seorang ayah dan anak sedang bercanda, sang ayah memeluk anaknya, sang anak tertawa renyah, menikmati detik demi detik yang terlewati dalam hangat dekap ayahnya.

Entah kemana kereta ini membawa mereka, tapi jika aku yang menjadi anak itu, aku tak peduli lagi kemana aku pergi, selama aku ada di dalam dekap itu, semua terasa damai.

Telinga sang ayah penuh dengan tanya sang anak, dan ucap sang ayah penuh dengan jawaban, penuh dengan senyum dan tentunya kasih sayang yang teramat sangat.

Tirai senja telah ditutup oleh pesona malam, saat sang anak mulai berbaring di paha ayahnya, jutaan kasih sayang dalam setiap sela jari yang membelai kepala anaknya, jutaan cinta dalam setiap pandangan teduhnya. Sosok ayah itu.

Cintai dia, nak.. Selama waktumu masih berputar, selama peluk itu masih mudah kau nikmati.
Sayangi dia, nak.. Selama mata teduh itu masih bisa kau pandang, saat jarak pelepas rindumu hanya sejarak satu ketukan pintu.

Sosok tegar dan kuat, yang selalu menempatkanmu jauh diatas impiannya.
Sosok megah yang tergurat dalam setiap guratan usia yang dilewatinya, dalam setiap peluh yang dihabiskannya untukmu.
Sosok indah yang akan sangat kau rindukan............. Dalam ketiadaannya kelak.

Sayangi ayahmu, nak.. Kamu tak pernah tahu kapan hari terakhir Tuhan mengijinkanmu untuk melihatnya.

On my train back home, 27102012

-andika winchester saputra-
17.46

(Train)spiration.. Sebuah inspirasi dalam kereta

Suatu sore di penghujung Oktober,
Hariku bertirai matahari senja, berlatarkan sawah hijau dalam kacamata jendela keretaku..

Mataku menatap jauh keluar sana, walau sebenarnya batin ini yang menatap jauh kedalam sini..

Membayangkanmu, sapaanmu, caramu menyapa di awal tidurku.
Langkah langkah ini membawaku semakin dekat (lagi) padamu.
Pada kenyataan yang bahkan belum pernah kutemui.

Kata demi kata kuukir, disaksikan oleh matahari senja yan tak pernah bisa menatapku dari luar jendela.
Jariku terus menulis, mewakili rasa yang berbisik,
Inspirasiku terus berkeliaran, bersemangat karena cipratan rasa rindu.

Beberapa hari lalu, kilometer demi kilometer aku menjauh tapi tak sekalipun hati ini merasa menjauh,
Hari ini, langkah ini membawaku mendekat kembali, tapi ironisnya tak sekalipun hati ini (juga) merasa mendekat.

Mungkin rinduku bukan lagi tentangmu,
Mungkin rinduku kini adalah rindu kepada akal sehatku.
Kepada dia yang sudah terlalu larut dalam rasa takluk, kepada hati yang sudah kehilangan rasa percaya.

Mengapa aku bertahan jika definisimu tentang cinta sudah bukan lagi tentang aku?


On my train back home, 27102012


Andika Winchester Saputra
16.23

Monday, October 8, 2012

masihkah pelukku membuat resahmu takluk?

Gadis, Di awal candraku, aku datang padamu, menatap indah setiap detik ragamu, membiarkan setiap inderaku mencerna setiap pancar pesonamu yang mulai asing. Kupenuhi setiap ruang memoriku dengan cantik parasmu, dengan indahnya kerumitanmu yang kutahu akan kurindukan.

Gadis, Aku mencintai kesederhanaan, tapi kamulah alasan yang membuatku belajar mencintai kerumitan.
Tapi ternyata segala kerumitanmu hanya cukup untuk membuatku patah hati, kebekuan pandanganmu membuatku ragu jika kesederhanaan yang kupunyai bisa membuatmu dengan segala kerumitanmu, bahagia bersamaku.
Gadis, Rindu ini sudah menjadi getaran rutin pada setiap langkahku, aku tak ingat kapan aku merasa tak rindu..
Tapi, Gadis.. rindu ini menyakitiku..
Merindukanmu seperti memilih untuk disakiti oleh rasa rindu atau dibunuh oleh rasa kecewa.
Aku tak lagi tahu, bagaimana bentuk rinduku, aku tak lagi mengenal dia..
Rasa rinduku dan rasa raguku.. bagai airmata dalam siraman air hujan, semua samar..
Menjadi rindu sendiri itu menyakitkan, Gadis..
Berpura-pura untuk tidak merindu ini sangat menyiksaku.
Kau tak pernah tahu bagaimana keangkuhan palsu ini membunuhku perlahan.

Gadis, rindu ini sudah mulai terbiasa menghadap pada kata-kata rindu yang hanya berakhir di draft pesan singkatku.
Rindu ini sudah mulai merasa cukup puas dengan dituliskan dalam sebuah pesan yang tak pernah sampai. Karena aku tahu rindu ini sudah tak punya tempat di rasamu.
Gadis agungku, anugerah termegahku,
Kelak kau akan melangkah jauh, melupakan hari ini,
Melupakan raga ini, melupakan semua angan dan usahaku,
Saat itu segigit rasa bernama cinta memberanikan diri untuk bertanya,
Wahai hati, jika rindu tak lagi menjadi candu, masih akankah pelukku membuat resahmu takluk?



Much Love,
Andika Saputa

Sunday, September 16, 2012

Jika kita mencintai.. (Thank to my mom)

Jika kita mencintai seseorang..
Belajarlah untuk mencintai sang pemberi Cinta...
Hati ini begitu mudah terbolak balik
Maka serah kanlah Rasa Yg belum halal itu kepadaNya....
Titipkanlah padaNya karena hanya Allah sebaik baik penjaga.....

Bila Hati Resah memendam Rindu
Hiasilah diri dengan Taqwa perbanyak Shalat, Dzikir, Tilawah, Shalawat, Istigfar dan berbaik sangka..

Semoga Allah
Memberikan jalan Yg terbaik
MenurutNya

Friday, September 7, 2012

Selamat Pagi, Gadis..

Gadis,
Rasa ini, terlalu agung untuk dilukai oleh sikapmu..
Rasa ini pernah rapuh akan luka, Rindu ini pernah mudah terdistraksi emosi..
Tapi gadis, waktu kesendirian memgajariku banyak hal..
Mencintaimu mengajarkanku memberi..
Merindukanmu menunjukanku titian rasa ikhlas..
Saat ucapan sayang adalah hanya berupa pengakuan,
Saat pesan-pesan itu terlantar darimu, bagai doa-doa yang memantul di sepertiga malam..

Keagungan cinta adalah saat kita bisa memberi cinta, dan kesempurnaan cinta adalah saat kita juga menerima cinta..
Tidak semua cinta bisa mencapai kesempurnaan, tapi kita selalu bisa membuat cinta merasa diagungkan..

Gadis, Saat pesanku tak kuasa menembus dinding kenangan,
Saat panggilanku gagal mengetuk pintu hati,
Melukaiku, tapi aku yakin, untuk sepersekian detik hati dingin itu tersenyum karena pesanku..

Selamat Pagi, Gadis..
Tanpamu cintaku mungkin tak sempurna, tapi yakinlah, tanpamu cintaku tetap agung...............untukmu..

Much love,
Andika Saputra

Wednesday, September 5, 2012

Selamat malam, Tuhan..

Selamat malam, Tuhan..
Aku menggangguMu lagi,
Aku berpeluh rindu, Tuhan..
Aku merindukan dia, adakah dia pun merinduku?
Aku tak tahu, tapi aku yakin Kau tahu..

Tuhan, jaga dia dalam lelapnya, jauhkan ia dari gelisah.. Jauhkan ia dari kesakitan, bahkan jika kesakitan itu adalah aku..

Jika memang tak ada cinta untukku, maka ajari aku untuk memberi cinta tanpa berharap..
Jika memang tak tersisa rindu untukku, maka ajari aku untuk merindu tanpa rasa sakit..

Tuhan, Gadis itu yang kuinginkan.. Gadis itu yang selalu kuadukan padamu dalam sujudku, ya Gadis itu, Tuhan..
Tuhan, relakah engkau mengijinkan dia untuk bersujud kepadaMu dari belakangku?
Jika dia Kau ciptakan dari ruas lengkung tulang rusukku, maka diijinkan dia untuk kupeluk di tempat dimana dia seharusnya berada, dalam dekapku, dekat dengan hatiku..

Tuhan, malam ini aku mengadu lagi, dalam keresahan hati, dalam ketakutan akan rindu yang kian habis dilahap sang waktu..
Aku tidak ingin mengganggumu dengan keluhan semuku, tapi setiap tetes airmata dan lantunan doaku padaMu tentang dia adalah cerminan rasa kehilanganku..
Doaku padamu, adalah cara bisuku untuk merindunya.. Cara termudahku untuk merindu tanpa membebaninya..

Aku rindu dia, Tuhan..
Gadis(ku)..

Much love..
Andika Saputra..

Wednesday, August 29, 2012

Perahu kertasku.. Akan kutunggu..

Gadis,
Hari ini aku memintamu,
Dengan untaian sujud kata-kata, saat dimana poros logika dan perasaan bertemu.. Saat rasionalisasi perasaan benar terwujud..
Aku tak memintamu dengan berlutut, tapi yakinlah bahwa hatiku telah takluk..
Walau hanya hanya jawaban dalam ragu yang kudapat, akan kutunggu..
Tak pernah jenuh aku berucap sayang walau seringkali kudapati hanya layar yang berisi pesanku sendiri..
Harapan dan cinta ini bagai lipatan perahu kertasku, melepasnya dari sungai menuju samudera, walau tidak jelas kapan sampainya, tetap akan kutunggu..
Aku menunggu jawabmu seperti aku menunggu perahu kertasku tiba di samudra,
Walau mungkin ia tersangkut waktu, walau ia terbelah arus, walau aku tak tahu pasti bentuknya ia, apakah masih utuh atau hancur lebur.. Tapi aku menunggu.. Karena aku yakin ia akan sampai, sekecil apapun serpihannya.
Gadis, biarkan aku membagi hidupku dan menjadi bagian hidupmu..
Setelah lama kita berbagi suka bahkan menggores luka, mungkin saatnya kini kita bersatu dalam cinta..
Niat ini telah banyak melalui ya dan tidak dari mereka, tapi aku tak peduli.. Hati ini tetap bersauh ke arah mu, karena tak pernah sekalipun ini berubah arah..
Jadi lah sungai nil dalam Mesirku, Gadis..
Biarkan lipatan rindu kita terlipat rapi dalam perahu kertas kita yang takkan berhenti berlayar, selama hatiku untukmu dan hatimu untukku..
Dalam kesunyian harap dan kecintaan ku terhadap kamu dan calon kota-kota kecil kita..

Aku berbisik, "Aku ingin menikahimu, Gadis..."
Much Love, Andika Saputra

Thursday, August 9, 2012

Bandung.. we laugh, we love, we lie, we left, Life..

Perjalanan ke Bandung selalu ibarat memunguti remah kenangan,
Angka demi angka berubah dalam papan kilometer itu, semakin membuat hatiku ciut.. Membuatku takut untuk berhadapan dengan kota yang sangat kucintai itu.
Kenangan terkadang sangatlah kejam, hingga dapat merapuhkan kecintaan yang begitu dalam.
Sudut yang kau cintai bergantian menusukimu dengan kenangan indah yang justru sekarang terasa menyakitkan..

Pagi ini, aku mengirimkan pesan padanya, yang kutahu tak pernah sampai..
Lama kupandangi nomormu, berjuta rasa dan asa berkecamuk, bahwa jarak inderaku dan suaramu hanya sejauh satu tombol..
Aku tahu nomor itu sudah lama mati, mungkin itu cara yang tepat untuk jauh mengabaikanku, aah.. Mungkin itu pun cara yang tepat untuk menyelamatkan hatiku.
Semakin kucoba, semakin aku ragu apa yang aku harapkan, apakah suaramu atau suara operator yang tak asing itu.

Gadis, aku tahu kamu telah pergi.. Telah kau kemas segala kenanganku dalam kotak kecil yang kau sembunyikan disudut kamarmu.
Mungkin ini saatnya aku berjalan, selama ini tak peduli seberapa jauh aku berjalan, itu hanya langkahku, bukan hatiku.. Namun hari ini, akan kuseret hatiku serta..

Mungkin ini saatnya untuk melepaskan wajahmu dari dompetku..
Mungkin ini saatnya untuk membuang jauh setiap catatan2 kecil yang pernah kau kirim untukku yang selama ini tersimpan rapi dalam lipatan buku..
Mungkin ini saatnya melepas lingkaran perak yang selama ini menggantung di dadaku..
Mungkin ini saatnya aku jalani hidupku (yang benar-benar) tanpa kamu..

Aku tak ingin lagi datang ke Bandung dengan luka,
Aku pun tak ingin memunguti remah ingatan yang bahkan sudah tak kau ingat..
Kau mungkin pernah menghancurkanku, tak perlu lagi membantuku membereskan kepinganku, cukup bawa kepinganmu dan pergi..

Saatnya bagiku membuka,
Saatnya bagiku terjatuh kepada dia yang menanti..
Kepada Desember lah aku akan memasrah..



Andika Saputra
Km 103 menuju Bandung.

Thursday, August 2, 2012

Hanya beberapa langkah saja..

Bertahun aku mendekapmu..
Dalam bilangan warsa, cinta ini berkiblat kepadamu..
Tak pernah selangkahpun hatiku menjauh darimu..

Namun kali ini..
Mungkin aku harus mundur, beberapa langkah..
Beberapa langkah saja,
Untuk ruangku bernafas..
Beberapa langkah saja,
Untuk dapat melihatmu seutuhnya..
Beberapa langkah saja,
Untuk melihat sekitarku..

Lalu kucoba untuk mendekapmu lagi, dengan segala rasa yang kutahan,
Dengan segala harap yang kupelihara..
Lalu kau mulai menusukiku dari dalam dekapku,
Lalu kau mulai melukai lingkaran pelukku,
Hingga akhirnya kau menggores tulus hatiku,
Mungkin aku harus mundur beberapa langkah (lagi)..
Untuk pulihkan percayaku..
Beberapa langkah saja,
Untuk berdamai dengan lukaku..
Atau mungkin aku harus mundur beberapa langkah lebih jauh,
Untuk melihat duniaku tanpamu,
Untuk membiarkanmu terbiasa tanpaku..
Langkahku menjauh ini, caraku mengajarimu tentang seberapa penting arti keberadaan..
Hanya beberapa langkah saja, gadis..
Dan kau akan mengerti,
Bahwa ceceran langkah ini takkan bisa kaupungut lagi..

Saturday, May 12, 2012

Sebulir Embun..


Embun..
Seperti namamu, senantiasa sejukan terik siangku..
Sepatah senyum lewat hembusan udara dapat pudarkan risauku..

Embun..
Sore ini hujan,
Jutaan tetes air menghujani harapanku, tapi pun tak ada semegah satu tetes darimu..

Embun..
Mungkin aku jatuh, aku telah jauh tersungkur kedalam rasa itu..

Embun..
Kesakitan lamaku membuatku asing dengan rasa ini, kini muncul lagi berkaca dalam bulatan tetesmu..
Aku membiarkan diriku jatuh, namun tidak tersungkur..
Mendorong diriku, namun jauh dari memaksa..

Embun..
Putaran rasa ini mulai berpusat kepadamu, sejak pertemuan singkat di suatu ujung mata..
Sejak indera ini mencuri kilasan senyuman itu..

Tapi Embun..
Mengapa kau mengering begitu cepat?
Mengapa kau menghilang sebelum sempat kau menetes?
Haruskah kusalahkan sang fajar yang berdiri terlalu tinggi sehingga membuatmu hilang?

Embun..
Ada waktu dimana ku menunggumu menetes.. Dimensi demi dimensi..
Bahkan untuk seiris penjelasan..
Tapi mungkin kau yang tak rela menetes kepadaku,
Mungkin bulirmu kausiapkan bukan untukku..
Aku berjalan menjauh, meninggalkanmu dengan manismu..

Disini aku menikahi kesendirian..
Takdir ini melukaiku, lagi..
Hati ini memilih untuk patuh pada logika, walau harus merasa patah pada sang luka, lagi..
Hati, kadang bisa menjadi obat dan luka pada saat yang sama untuk orang yang berbeda..

Embun,
Aku terkadang menguji ketabahan, dengan mengingatmu.. Jika hatiku meleleh, maka kau masihlah segalanya..

Tuhan, takdir ini melukai (lagi)..
Takdir ini membuatku patah (lagi).. Kadang aku bertanya, bagaimanakah caraku untuk membuat sang takdir patah hati?


Tanda pamitku,
Untukmu,
Embun..


Andika Winchester Saputra

Thursday, May 3, 2012

Keisya

Keisya..

Keis..
Apa kabar?
Dika masih inget sampai saat terakhir kita ketemu, Keis masih manggil Dika "ciccakk" karena ngomong Keis masih belepotan.. :)

Keis..
Ga kerasa udah berapa bulan kita ga ketemu, Keis dah gede ya, Keis..
Sekarang Keis udah TK Besar..

Keis..
Dika kangen.. Dika masih inget waktu Keis ga mau lepas dari gendongan Dika, semalem sebelum Dika pergi ke KL..

Keis..
Beberapa hari ini Dika kepikiran Keis terus, dan ternyata Keis lagi demam ya?
Dika nelepon Keis, tapi Keis nya ga mau.. Hehehe..
Dika kangen tau, Keis..

Dika selalu kangen sama teriakan "ciccaaakk..." sambil Keis lari dan loncat ke gendongan Dika, setiap Dika dateng kerumah Keis..

Keis, semoga demamnya cepet sembuh ya, supaya Keis bisa sekolah lagi, maen gambar2an lagi, maen sama Miauw, :D

Mungkin sekarang Keis blom ngerti..
Tapi Cicaakk kangeeen bgt m Keis..

Love U, Keis..

Cicaakk.. :)

Wednesday, May 2, 2012

Rabu, Apakah yang coba kau sampaikan?

Rabu..
Sesaat setelah Selasa merelakan ragaku untukmu,
Aku masih terjaga, senyumku masih mencinta..

Rabu..
Sedetik sebelum kau menggurui,
Relung ini masih penuh rindu,
Otak ini masih terbius candu,
Malam pun masih setia menciumiku..

Hingga ditengah gelapmu..
Perasaan menusuk itu datang (lagi),
Perasaan tak asing yang membuat kecut hati..
Sementara aku masih tertegun bersama gagang yang tak hentinya mengeluarkan suara terputus..

Rabu,
Adalah yang mau kau sampaikan?

Rabu,
Apa kau coba membangunkanku dari lelap pesona itu?
Apa kau coba untuk menyadarkan aku dari kesejukan buta itu?

Rabu,
Apa yang ada di benakmu?

Rabu,
Fajar meninggi di tengkukmu,
Menunjukan kuasamu untuk mengeringkan sang embun..
Apa itu yang coba kau tunjukan padaku, Rabu?

Inikah caramu menuntunku?
Inikah caramu membangunkanku?
Mengingatkan bahwa belum waktunya aku jatuh lagi..
Menyajikanku segigit kenyataan bahwa aku belum cukup pulih untuk dilukai lagi..

Wahai pujangga di hari Rabu,
Apakah yang coba kau sampaikan?

Thursday, April 26, 2012

Kita akan lewati ini, Bunda..

Tuhan..
Tangan ini bergetar,
Mata ini berusaha tetap tajam,
Walaupun airmata telah berjajar rapi menunggu untuk melompat..

Tuhan,
Hati ini teriris,
Mendengar potongan demi potongan tangis yang kuresapi dengan inderaku..
Segukan tangis dari wanita yang paling agung di dunia ini..
Kata terbata dari hati yang tersedak pilu..

Tuhan,
Cobaan ini lagi,
Cobaan yang membuat kami sekuat ini, bantu kami untuk bisa melewati ini lagi..

Tuhan,
Kuatkanlah wanita itu,
Kuatkanlah wanita yang tengah terisak di ujung gagang telepon ini,
Rangkulah ia dengan kemegahan kuasamu,

Tuhan,
Tak kuasa lagi kulihat wajah sedih itu,
Ingin segera aku pergi menembus ruang untuk memeluknya, mendamaikannya dari airmata yang kejam,
Membiarkannya tersesat dalam dekapanku,

Tuhan
Aku hanya ingin melihatnya tersenyum lagi..
Tak ingin lagi kulihat wajah murung itu lagi,
Yakinkan bahwa kita bisa melewati ini lagi..

Peluk aku,
Seerat yang kau mampu,
Meraunglah jika itu membuatmu lega,
Menangislah jika itu meringankanmu,
Aku akan selalu ada disini, mendampingimu, menuntunmu, jika perlu menggendongmu, untuk melewati semua ini..

Kita..
Pasti..
Bisa,
Bunda...


Aku, seorang lelaki dan seorang anak dari seorang wanita yang luar biasa, dengan segala kerendahan hati, memohon..
Setelah membaca tulisan ini, bantu aku..
Pejamkan mata kalian, dan ucapkan "aamiin".. Itu sudah lebih cukup untukku..

Salam

Andika Winchester Saputra

Thursday, March 29, 2012

Cinta Dalam Sebuah Kado 2

Jumat, 30 Maret 2012
12.19 AM.

Menit ke 19 setelah memasuki harimu.. Aku masih tertegun didepan layar handphoneku, menatap ragu kepada namamu yang ada disana.

Simpel memang, aku hanya seperti melamun disana..
Tapi jika kau lihat lebih dekat, berjuta rindu kutahan disana..
Jika kau sentuh hatiku,
Ada rasa sayang yang tercekik keterbatasan..
Jika memang kau peluk raga itu,
Ada airmata yang siap tumpah setiap saat..

Banyak kata yang ingin kubisikan.. Tapi semua membisu diluar inginku.. Kini aku mengerti, ada banyak hal yang tak bisa diucapkan mulut, karena itulah Tuhan menciptakan hati..
Akupun hanya berdoa, karena itu caraku untuk merindukanmu, dalam diam.. Dan Tuhan tahu itu..

Tak peduli seberapa hancur ku berdarah,
Tak peduli seberapa keras ku menangis,
Tak peduli seberapa banyak rasa yang ku tahan dalam 19x60 detik itu..
Aku diam, aku menggigil dalam kenyataan..
Didepan sebuah kado imajiner yang kususun untukmu..
Bukan bunga,
Bukan pula cincin,
Hanya sebuah jawaban..
Ya, sebuah jawaban dalam kadoku yang akan menjadi milikmu saat kau datang membukanya disini..
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Sayangnya, kau tak pernah datang..



Andika Dwi Saputra

Tuesday, March 20, 2012

::Story of a friend:: Cinta dalam sebuah kado

Satu malam, sehari sebelum hari lahirmu.. Kulihat sesosok penyayang yang berseri.. Membungkus sebuah cinta dalam kado..

Dia lelaki pencintamu, dalam sosok yang (pernah) melukaimu, tersimpan hati yang tak berhenti bertasbih namamu.

Dia bercerita tentang harapan, bersenandung dalam doa, tidak muluk. Hanya ingin menjadi seorang yang pertama kau lihat saat umur mu bertambah, dengan sebungkus cinta dan harapan dalam sebuah kado..

But life brought him another story,
He went to see you with smiles in his vein, but got back home with a hidden pain.

Kulihat hati yang dikhianati rindu,
Kulihat cinta yang ditinggal waktu,
Kulihat harapan yang tercecer dibunuh rasa kantuk..

Jika memang tak ada kata yang terucap, tak apa..
Jika memang tak ada raga yang saling mendekap, pun tak apa..
Dia hanya ingin melihat jauh kedalam mata mu, membiarkan dirinya terbius senyumanmu, dan dengan segenap cinta yang ada di dalam dirinya dia ingin mengucap "selamat ulang tahun".

Cinta dalam sebuah kado..

Rabu, 21 Maret 2012, 03.58 AM

Andika Winchester Saputra

Saturday, March 3, 2012

Me, You and Moment..

Cuma pemikiran spontan tentang suatu hubungan,

Written in 3 minutes and straightly posted, to avoid the mind distraction..

Enjoy :)

Me, you and moment..

Buat aku, cinta itu tergantung 3 hal..
Aku, kamu dan waktu..

Jika pemikiranku ini berdasar pada pemahamanku tentang kalimat "orang baik akan mendapatkan pasangan yang baik".
Maka saat kita dipisahkan, berarti aku tidak baik untukmu, dan kamu tidak baik untukku.. At least untuk saat itu..

Nah disini yang berperan adalah waktu, jika memang orang baik selalu mendapatkan pasangan baik, maka kita akan mendapatkan pasangan yang baik, entah itu orang lain, ATAU kamu yang jauh lebih baik..

Jika kamu pernah bertanya, jika memang ujungnya akan dipertemukan lagi (jodoh), mengapa harus dipisahkan? Itu proses.

Pada saat kita bersama untuk pertama kali, kita bukan orang yang baik untuk satu sama lain, lalu dipisahkan, diberi kehidupan lain, ditempa oleh pelajaran pelajaran hidup dan VOILA! saat kita menjadi orang yang lebih baik, lalu kita dipertemukan lagi..
Berlian menjadi indah dan cantik itu pun karena telah melewati proses yang berat.

Kesimpulannya, jika memang kita jodoh, tapi Tuhan menilai bahwa pada saat itu kita tidak bisa saling membantu mengasah diri masing masing untuk menjadi pribadi yang baik, maka kehidupan atau orang lain yang akan melakukannya. pada akhirnya kita akan bertemu dalam kondisi yang lebih baik hasil dari perjuangan kita dengan hidup masing masing pada medio setelah bersamamu hingga bertemu denganmu lagi..

Jadi kalimat "kalau jodoh takkan kemana" itu kalau kata aku bener, cuma prosesnya itu yang kadang sulit kita mengerti (baca: terima).
God works in a mysterious ways, and thats for your very best.

You're welcome.. :)

Slice of thought in the afternoon..

Regards
Your humble curious creation.

Friday, February 24, 2012

A slice curiosity about life

Jodoh..

Apa sih jodoh itu?
Apakah seseorang yang ditakdirkan untuk hidup selamanya dengan kita?

Lalu apa definisi dari "hidup selamanya" itu?

Apakah artinya bersama sampai mati?

Namun, Kita hidup bersama tapi tidak selalu mati bersama kan?

Lalu apakah definisi dari "hidup bersama selamanya" adalah "hidup bersama hingga mati" itu masih valid?

Lalu jika suatu pasangan menikah, lalu hidup bersama hingga salah satu meninggal dunia itu bisa dikatakan jodoh?

Lalu jika setelah itu pasangan yang lainnya menemukan pasangan lain yg akhirnya dinikahinya hingga salah satu dari mereka meninggal itu bisa disebut sebagai "jodoh"?

Jika memang demikian, jodoh kita tidak selalu diartikan sebagai sesuatu yang tunggal?

Apakah baru bisa dikatakan jodoh jika seseorang berpasangan hingga salah satu dari mereka mati, dan pasangan lainnya tidak memutuskan untuk menikah lagi?

Tapi bukankah itu pilihan? Pilihan yang sudah tertulis lebih tepatnya..

Tertulis seperti mereka yang tidak sempat waktu bertemu calon jodohnya..

Jika benar, berarti tidak semua manusia ditakdirkan untuk memiliki jodoh, tidak semua manusia ditakdirkan untuk memiliki jodoh yang tunggal, dan tidak semua manusia sempat memikirkan apa itu "jodoh"?

Dear God..

-Kee

Friday, February 17, 2012

Wanita dibelakang ku..



Wahai Hawa, sang pengekal keAdamanku.
Wahai rusukku yang melengkung indah dalam kesimetrisan hati.
Kau masih tersesat di masa depan, menungguku mencapai masa mu.
Wahai sang Venus, mencintamu bagai citaku.
Merangkai asa atas rautan indra perasa, mengawetkan rasa dalam kata.
Agar dapat kau baca apa yang kurasa.
Saat belum tiba masanya aku mencintaimu, bukan berarti aku belum mulai menabung cinta.
Untaian doa adalah caraku mencintaimu dan metode rinduku, dalam sunyi.
Aku rela menggigil dalam kenangan masa lalu yang kulepas untuk merajut masa depan bersamamu.

Tunggulah aku disana, Gadis.
Kelak akan kupinang kau di bawah langit Santorini.
Kukecup keningku sebagai multiplikasi segala rasa yang tertahan.
Aku mencintaimu, Gadis. Mencintai bagianmu yang tak kasat mata.
Aku mencintai hatimu, aku jatuh cinta pada imanmu.

Makmum hidupku..
Suara merdu yang mengamini doa doaku..
Aku rindu wajah cantik itu, wajah cantik yang bahkan belum pernah kutemui.
Wajah cantik yang akan mencium tanganku selepas shalat.
Aku ingin kamu, aku ingin menikahimu, sang wanita pesolek iman.
Aku ingin kamu menjadi,
Wanita dibelakangku, sang bidadari dalam pelukanku..



Andika Winchester Saputra

Sunday, February 12, 2012

Tuhan, Aku Rindu..


Tuhan..
Aku rindu..

Aku rindu merasa rindu, aku rindu dirindukan..

Tuhan,
Aku ingin baik baik saja..
Sakit melihatnya terlepas dari rusukku, karena disanalah harusnya ia, didekat dekapan hati..

Tuhan..
Ada bahagia yang menyakitkan saat aku melihatnya..
Ada kesakitan yang kupilih saat aku terbius senyumnya..
Ini berat, Tuhan..
Pisau ini menusuk kedua sisi, terlalu dalam, terlalu melukai..

Tuhan..
Jika memang bukan dia, jauhkan indera ini dari pahitnya penyesalan..
Bimbinglah rasa ini menuju muara nya yang tepat..
Perasaan ini terlalu lama terkungkung dalam siklus mengalir, terpecah dan mengalir lagi.. Aku ingin mengalir, tanpa terpecah.. Aku ingin mengukir, tanpa meresah..

Tuhan..
Aku bahagia dia pulih,
Aku ikhlas jika dia harus mendendam,
Aku pun terluka, menangis berdarah dalam kesakitan yang teramat sangat,
Meronta dan berteriak sejadinya, bahkan untuk merasa bahagia pun aku harus mengemis..
Aku rela menahan segala rasa untuk memyimpul semua itu dengan senyum bahagia, ataupun sesosok lelaki angkuh..

Tuhan,
Semoga dia tahu, dinding angkuh itu sebenarnya tak lebih dari topengku..
Untuk selalu terlihat tangguh..
Semoga dia tahu dinding kokoh hati menyimpan jutaan air mata..

Tuhan,
Aku rindu dia..
Aku rindu segala kerumitannya..
Sampaikan rindu ini, Tuhan..
Pada dia, yang pernah menjadi miliku..


With love, tearless cry..

For my Nile..

Saturday, February 11, 2012

Happy Birthday, Mom

February 12th, 2012
For my lovely mom...


If I could give you diamonds
for each tear you cried for me.
If I could give you sapphires
for each truth you’ve helped me see.
If I could give you rubies
for the heartache that you’ve known
If I could give you pearls
for the wisdom that you’ve shown.
Then you’ll have a treasure, mother,
that would mount up to the skies
That would almost match
the sparkle in your kind and loving eyes. But I have no pearls, no diamonds,
As I’m sure you’re well aware
So I’ll give you gifts more precious
My devotion, love and care.

With all my love
on your birthday


Happy birthday mom..

I love you..

-Andika Winchester Saputra-

Monday, January 23, 2012

Surat Untuk Dewi ‘Dee’ Lestari


Untuk Blog Contest Mizan.com

Surat untuk inspirasiku, teh Dewi Lestari..

Dear Teh Dee..

Seperti yang saya tulisan di awal surat ini, ini surat untuk Teh Dee, seorang penulis favorit saya, salah satu akun twitter favorit saya yang juga sekaligus inspirasi dan panutan saya dalam menulis dan juga gaya hidup. Saya kebetulan hobi nulis dari sejak SMP teh, tapi selama ini tulisan saya masih belum terfokus, salah satu tulisan yang saya jadikan referensi dan panutan penulisan itu adalah buku bukunya teh Dee, mulai dari Supernova sampai Madre.

Saya suka alur cerita Supernova, saya sangat suka dengan penokohan dan kesedehanaan cerita dalam Perahu Kertas dan juga merasa termanjakan dengan cerita cerita di Madre. Satu cerita yang paling “menusuk” saya, teh, adalah cerita tentang lagu ‘peluk’ di Rectoverso. Saya baca itu pas kebetulan saya baru mengalami perpisahan, dan dengan cara yang sama persis dengan apa yang tertulis di cerita ‘peluk’ itu.

Saya pernah memposting di twitter jika salah satu keinginan saya adalah bertemu orang-orang yang ada di list following saya (Teh Dee juga follow saya loh.. hehehe), salah satu yang ingin saya temuin itu adalah teh Dee. Saya pengen banget bisa belajar nulis dan diajarin tips-tips nulis langsung dari Teh Dee, karena selama ini saya selalu terkagum kagum dengan kosa kata yang dipilih oleh Teh Dee dalam setiap buku nya. Dan itu juga salah satu alasan kenapa saya sangat mencintai dunia tulis, karena saya bisa bebas berekspresi, bermain kata, menjodohkan kata yang baru, menelusuri kata, hingga mencapai tahap yang selalu saya sebut sebagai ‘wordgsm’ atau kepuasan oleh kata. Kalau misalnya hadiah dari kuis ini boleh ditukar, mungkin saya pengen milih untuk bisa jadi murid nulisnya Teh Dee..(ngarep) hehehe

Bukannya membanggakan kedaerahan ya teh, tapi jujur saya bangga karena kita sama sama orang Bandung, saya juga sangat suka sama novel yang settingnya di daerah Bandung, kebetulan novel Perahu Kertas itu kan latarnya emang di Bandung, disitu teh saya mulai suka karya karyanya Teh Dee, sampai sekarang akhirnya saya udah baca semua buku karya nya Teh Dee (dan jadi salah satu dari sekian banyak orang yang masih nunggu supernova yang baru) hehehe..

Banyak banget Teh yang pengen saya ungkapin, kayanya ga bisa saya sampein lewat surat, mungkin nanti kalau suatu saat kita bisa ketemu dan ngobrol banyak ya teh.. #kode (aamiin) hehehhe..

Tetep produktif dan berkarya ya Teh Dee, tetap menginspirasi.

Salam saya untuk Keenan juga 

Dari: Andika Dwi Saputra
Untuk: Mizan.com

Monday, January 16, 2012

Lelaki yang (pernah) kupanggil Papa..


If I could get another chance
Another walk
Another dance with him
I'd play a song that would never ever end
How I'd love love love
To dance with my father again


Dance With My Father – Luther Vandross



Lelaki yang (pernah) kupanggil Papa..



Tuhan,

Disini, hadapanmu.. berjuta rindu yang kukekang, berjuta pertanyaan yang kukubur..
Dimana dia?
Sehatkah dia?
Adakah dia pernah merinduku?
Karena aku rindu.. teramat sangat..
Kutahan semua itu, kutahan semua rasa dan asa itu.
Untuk dia, Lelaki yang (pernah) kupanggil Papa..

Tak terhingga untaian doa yang kuucap untukmu..
Tak berhenti hatiku menahan ringisan rinduku..
Walau itu semua jauh dari lisanku..
Kupilih untuk membisu, kupilih untuk merindu dalam doa..
Kupilih untuk menangis di hadapanNya.
Semua itu rasa ku untukmu,
Adakah kau rasakan itu, Lelaki yang (pernah) kupanggil Papa?

Setahun lalu, aku melihatmu..
Kau menatapku penuh rindu..
Tapi kuhanya bisa berlalu, bertarung dengan jutaan rindu yang memberontak jiwa..
Taukah kamu seberapa ingin aku memelukmu?
Taukah kamu seberapa aku ingin melepaskan segala rinduku dalam dekapanmu?
Taukah seberapa besar aku menyayangimu?
Besar! Sangat Besar!
Tapi taukah kecewa yang kau balaskan untukku?
Jauh lebih besar!
Anak ini, dengan segala kekecewaannya, adalah perindu terbesarmu.
Ya kamu, Lelaki yang (pernah) kupanggil Papa..

Sekarang kau dengan ma’mummu, dan aku dengan diriku..
Kerinduanku tentang sosokmu, mengajariku tentang perasaan ikhlas, ketangguhan, kekuatan..
Walau dengan cara yang sangat menyakitkan.
Kehidupanku tentangmu, mendewasakanku, mengajariku makna lebih tentang arti ”kebahagiaan”
Kebahagiaan melihatmu bahagia dengan keluargamu, walau tanpa sosok aku didalamnya.
Aku menangis, menyakitkan, hatiku teriris, airmataku pecah..
Tapi taukah kamu? Jauh didalam diri ini aku bersyukur, karena kamu akhirnya menemukan keluarga yang selama ini kau inginkan, yang mungkin tak kau dapatkan dari kami..
Ada makna dibalik setiap tawa mereka saat memilikimu..
Seperti kuyakin pasti ada makna dibalik setiap tangisku kehilanganmu..
Walau hanya setitik, anak lelaki ini pernah memiliki rasa bangga yang amat sangat padamu..
Lelaki yang (pernah) kupanggil Papa..


Tuhan,
Jagalah dia..
Jadikanlah dia Imam yang baik untuk keluarganya..
Jadikanlah dia sosok imam, yang sama seperti waktu dia mengajariku sholat untuk pertama kalinya..
Tuhan,
Hisaplah semua perasaan kehilangan ini, segala ungkapan rindu ini..
Tiupkan tepat dihatinya.. bisikan tepat di sukmanya..
Tuhan,
Aku rindu dia, Papaku..



Tearless cry,



Andika Winchester Saputra