"Aku kehilangan kata disaat ku kehilangan cinta.. Sekarang aku mulai belajar mencintai kata.. Agar aku ingat rasanya mencintai cinta..."

Sunday, December 30, 2012

Untuk kamu, yang masih seringkali terlintas di doa..


Kata orang,
Akhir dari sesuatu adalah awal dari sesuatu.
Seperti akhir resolusi selalu menjadi awal resolusi yang baru. Idealnya begitu.
Tapi awal sesuatu tidak selalu baru,
Awal sesuatu tidak selalu tanpa sisa.
Ya, akhir sesuatu selalu menjadi awal dari sesuatu tapi awal sesuatu belum tentu adalah akhir dari sesuatu.

Awal ini, aku masih belum bisa melepaskan diri dari resonansi hatiku, tentangmu.
Tahun lalu, aku masih bercanda dengan takdir, aku masih bergumul dengan mimpi, tentang sebuah mimpi kecil tentang aku dan kamu. Ya aku dan kamu, bukan kita.
Karena sejak itu tak pernah ada lagi Kita.

Namun saat itu kamu masih menjadi sejuk dalam bejana waktuku,  indah harimu masih menjadi obsesiku dan senyum indahmu masih menjadi manifestasi bahagiaku.
Dalam lelapku, aku masih bermimpi tentangmu, masih sempat berandai tentang masa, masih terlarut dalam belaian sisa cinta.
Hingga aku tersadarkan, bahwa kau hanya bisa menjadi mimpi dalam pejamku, indah tapi tak nyata, cantik tapi selalu takluk pada tersadarnya indera.

Aku pernah memilikimu, namun tidak lagi..
Aku pernah dirindukan olehmu, tapi mungkin tidak lagi..
Aku pernah sangat khawatir kehilanganmu, hingga sekarang..
Walau terkadang aku berpikir, bagaimana kita bisa sangat khawatir kehilangan seseorang yang tidak benar-benar kita miliki?
Namamu mungkin sudah menghilang dari lisan hariku, walau seringkali tak sengaja aku menyebutmu dalam doaku.
Untuk kamu, awalku tak selalu baru, karena selalu ada remah kenangan dalam setiap langkah maju.
Untuk kamu, akan kubiarkan jentik rinduku mengkristal dalam alunan doa yang khusyu.


Aku mencintaimu, tapi biarlah itu menjadi ruang usang yang mungkin suatu saat akan kusesali.
Aku merindukanmu, tapi biarlah itu menjadi bukti candu yang terluka.
Aku menjadi aku, dan biarlah itu dimulai dari huruf terakhir yang kuukir dalam tulisan ini


Andika Winchester Saputra
2013

Tuesday, December 11, 2012

Kenalkan, aku...


Mereka menyanjungku saat aku jatuh..
Kejatuhanku membawa mereka terbang dalam imaji terindah yang bisa mereka angankan..
Saat mereka bahagia, mereka begitu menyayangiku..
Mereka memperlakukanku seolah aku lah keseluruhan mereka..

Tapi kadang mereka lalai, lalai menjaga ku dari guratan niat luka dari sang raga yang mereka puja..
Saat aku terluka, mereka menangis..
Mereka menyalahkanku..
Menyudutkanku akan ketidakmampuanku untuk berpikir.

Saat mereka terluka, mereka mengamini segala aksara logika, membuang semua salah padaku..
Mencecar sifatku yang tak pernah tunduk pada pikiran..

Mereka meninggalkanku sendiri, di sudut gelap yang lelah ditinggal residu cahaya bahagia.
Mereka memintaku memulihkan diri,
Mereka menyuruhku menyusun kembali ceceran diriku,
Merapihkan remah-remah rasa yang hancur karena perbedaan.

Mereka tak mau tahu,
Mereka hanya peduli dengan air mata dan penyesalan, tentang aku yang terlalu mudah jatuh.
Tentang aku yang terlalu bodoh untuk bertahan.

Saat aku mulai pulih..
Pulih dari luka lalu yang mereka izinkan untuk melukai,
Saat aku mulai berusaha berdiri..
Saat aku mulai mencoba membuka diri..
Mereka bahkan tak mau membantuku..
Mereka bahkan tak berusaha untuk mengerti arti ku "mencoba".
Mereka hanya menertawakanku dalam perasaan buatan yang mereka karang dan berkata "cobalah buka dirimu dulu lalu temui aku lagi, aku tak butuh dirimu yang compang camping.."
Lalu mereka pergi, tanpa aku..

Kenalkan, aku (seharusnya) adalah bagian dari mereka..
Mereka biasa menyebutku,

Hati..


Andika Winchester Saputra

Saturday, December 8, 2012

Bromo, October 26..


October 26, 2012
00.05 WIB di Cemoro Lawang, Bromo,

Remah-remah kenangan membawaku kembali kesini, dimana 2 warsa lalu aku meringis rindu akan kehadiranmu, di suasana ini, romantisme ini, dan segala ceceran keagungan Tuhan yang tertumpah dalam pesona Gunung ini.
Hari ini, waktu terasa berputar sangat cepat, membawaku ke seperempat abad dalam kehidupanku, di tempat yang sama berpayung langit cerah dengan bintangnya yang ceria, romantisme ini, kerinduan ini, masih tanpamu.

Tepat setahun lalu, detik demi detik pergantian hari kulewati bersamamu, sederhana memang, hanya melahap kilometer demi kilometer jalanan Bandung yang selalu berubah menjadi begitu indah saat kau ada dibelakangku.

Malam ini, setahun kemudian, kuputuskan untuk melalui sisa hariku di ketinggian Bromo, sesaat ku sampai kucoba untuk mengayun langkahku, meresap dalam-dalam dinginnya keanggunan Gunung ini, memandang dalam setiap sudutnya mencoba membius memori dengan pesona yang tak sulit kucari. Tapi aku pun tahu, bukan itu yang kucari, aku berjalan, meresap, memandang untuk mencari sesuatu, suatu moment, suatu rasa yang bisa membuatku bicara “hanya di tempat ini, walaupun tanpa kamu, semua tetap indah”. Aku gagal.

Tapi disini aku menyadari, keindahanku, rasa takjubku, bius rindu ini tak boleh lagi berporos  padamu. Semua telah terlanjur dingin, jauh lebih menusuk daripada pelukan suhu ini. Tak peduli seberapa hangat ragamu, ia akan mati jika hatimu menggigil, aku tak akan membiarkan hati ini menggigil terlalu lama lagi.

Hari ini akan kutarikan pena baru dalam helai kosong hariku, yang mungkin sudah tak ada nama kamu lagi dalam setiap tinta yang mencecer keluar. Jika kelak air mata merefleksikan rasa sesal, maka biarlah mereka menjadi penebus rasa bersalah itu. Aku tak ingin lagi menukar masa laluku dengan rasa bersalahku, dan tak mau lagi kugadai masa depanku untuk sebuah kekhawatiran.

Dari titik ini, dalam pelukan indah anugerah Tuhan, aku memulai langkah baru, meninggalkan anugerah Tuhan yang pernah lelap dalam hati.

Selamat datang, hariku. Aku menyambutmu disini.

Selamat tinggal hariku. Aku pun melepasmu disini.


On my 25
Andika Winchester Saputra

Wednesday, December 5, 2012

You cant push your heart to forget like you cant push your heart to love..


Saat hati tengah bergandengan, segala indera merasa bahagia..
Saat rindu saling bersahutan, segala warna menjadi sangat ceria..
Apakah itu karena ada cinta? Ya.
Saat senyum selalu warnai setiap aksara yang tertulis..
Saat perasaan tenang selalu hadir di sela suaranya..
Apakah itu karena ada cinta? Ya.

Tapi apakah kehadiran cinta selalu memberi dan menerima? Ideal nya begitu.
Tapi kita tahu bahwa hidup tidak selalu ideal kan?
Di saat cinta tidak bisa memberi dan menerima, ada orang-orang yang cukup puas dengan hanya menjadi salah satunya.
Tapi mungkin itulah cara mereka berbahagia, ada yang merasa cukup berbahagia untuk hanya mencintai walaupun tanpa dicintai, karena baginya ikhlas memberi cinta adalah caranya untuk berbahagia (juga terkadang menyakiti hati sendiri).
Ada juga yang merasa cukup berbahagia dengan hanya menerima cinta, karena baginya terbuka menerima cinta walau dengan ketidakmampuan untuk mencintai adalah caranya untuk berbahagia (juga terkadang menjadi egois dan menyakiti).

Maka aku memberi waktu hatiku untuk berpikir, bersamaan aku meminta logikaku untuk sedikit merasa.
Bukan mengabaikan, hanya menghindari keterburu-buruan yang seringkali berakhir dengan ketidakmampuan untuk mencintai.
Bukan mengulur,hanya tidak ingin hati ini terus terlena perasaan dicintai hingga akhirnya hati ini lupa untuk mulai belajar mencintai (lagi).

Aku tak pernah meminta hatiku untuk lari, karena lari tak akan pernah memberi kita sedikitpun kebebasan.
Aku tak pernah mengajari hati untuk meninggalkan, tapi berbincang tentang bagaimana membuat hatiku mengikhlaskan..

Not to move on, but to let go..

Aku meminta hatiku berdiri, memilih, meyakini dan menjalani.

“Jika hanya boleh memilih satu antara kebahagiaan karena mencintai atau kebahagiaan karena dicintai, mana yang akan kamu pilih?”
Kemanapun hatimu memihak, dimanapun logikamu akhirnya memalingkan pilihan maka itulah cara mu berbahagia.
Hargai sikap hatimu, yakini dimanapun cinta menjatuhkan jangkarnya disanalah kamu seharusnya berlabuh.

Karena cinta tak bisa dipaksa untuk melupakan seperti dia tidak bisa dipaksa untuk mencinta..