TENTANG SEMUA
(Untuk redup cahaya-cahaya Gadis)
“Tuhan, bolehkah malam ini aku baik-baik saja…….!!!”. Habis rasa, hati, feeling dan secercah cinta, seperti abadinya rindu yang menyiksa, karena harapan-harapan indah hanya utopia, yang tergantung di garis batas antara ada dan tiada. Sepertinya derita kehilangan akan mengerak, ketika kehabisan kata untuk mengungkapkan kecewa, kita terbuai alunan angin, menunduk seperti ujung daun yang terhempas, menangis sejadinya tanpa isyarat, melangkah tanpa meninggalkan jejak, dan merindu tanpa bentuk. Akh, entah apalagi keluh kesah yang pantas dimuntahkan karena kehilanganmu………..
Terlalu absurd cintamu menengarai hatiku, coba saja tengok kebencian yang kemarin sempat memuncak, aku kau jadikan bulan-bulanan derita, caci maki jadi doa-doa setiap malam aku mengenangmu, indahmu tak lain bintang-bintang yang berserakan, seperti malam ini aku menunggumu kau tak bercahaya, kau tutupi mimpi-mimpi indahku sebatas bunga tidur, menjauhkan harapan dari kesempurnaan berdua. Aku tenggelam dalam kesenyapan tanpa sempat membuka kedua mata, aku tak mungkin mengalahkan malam-malam penuh sepi, karena niatku masih penuh riak-riak nostalgi bersamamu……
Gadis, sebagai bunga langit, aku akan bersembunyi di balik kepakanmu, dan mengangkasa dari lara yang melambung, menyalalah beri aku pertanda, karena sekedar senyum kecilmu, berarti nafasku. Jika puitis adalah hari-hariku, maka rinduku semakin memberat karena kau tak lagi mewarnai kata-kataku, dunia hanya milik segelintir orang yang perkasa menjaga cinta dari lalai, dan bagiku cinta masih sekedar puisi, terpenggal dalam banyak kepura-puraan, sanjungan yang melenakan dan keindahan yang melupakan.
Gadis, jika dunia ini hanya tentang kita, kau pantas membuang hatimu, dan cinta perlahan akan membusuk, mengurai dan hilang tanpa jejak. Tapi, Tuhan Maha pemurah, dunia ini luas, dibuat penuh warna, dan cinta bukan hanya tentang kita, tapi tentang semua, kau, aku, dia, mereka, kalian dan seluruhnya. Berdirilah ditengah hujan, dan rasakan ketulusannya sekali lagi, pasti semuanya akan baik-baik kembali, karena air matamu akan luruh bersama hujan, dan kebencianmu pun akan hilang karena kepergianku, pahamilah deritaku, seperti aku akan memahami kebimbanganmu yang semakin larut, dan aku akan merelakan kau tersenyum, walau bukan bersamaku……..
Malam ini hitam menggumpal, seperti prasangka angin yang menajam, boleh saja ragu menyingsing, tapi hakikat harus tetap menyala, karena pagi harapan akan datang. Gadis, kau pasti dapatkan cinta terakhir, seperti merasakan tangan Tuhan dibahumu, bersyukurlah atas derita kesendirian dan niscaya kau akan kembali menyala, seperti membuka mata diujung lorong hidupmu, menangislah hingga usai, sampai seseorang datang dan bertanya, “ kau tak sendiri Gadis, maukah kau menjadi ma’mumku, meng-amin-kan do’aku setiap malam, mencium tanganku sehabis shalat, dan menaburkan bunga ketika aku mendahuluimu……..!!!”, Subhanallah, maha suci Allah pemilik cinta sejati.
"Aku kehilangan kata disaat ku kehilangan cinta.. Sekarang aku mulai belajar mencintai kata.. Agar aku ingat rasanya mencintai cinta..."
Sunday, December 13, 2009
This is my December
Malam makin memberat, dalam hujan sebagai jendela kecemasan. Bintang terlalu gamang untuk berkilau, hanya awan hitam yang perkasa berjelaga, menggurui angin antara semilir dan memutar haluan. Sementara lampu-lampu tengah kota hanya mempesona, memberi sedikit keriangan dalam hati yang temaram, sementara rindu yang makin berjarak hampir hilang, menyisakan luka-luka kecil sebagai residu, karena hidup takkan pernah usang, seberapa pun karat yang pernah tergores karena cinta.
Suara-suara malam makin pongah, seakan memaki-maki hatiku yang jauh. Teriakan-teriakan doa pun hanya memantul, antara segumpal ego dan sekerat asa yang terbaca dalam mimpi-mimpi indah yang pernah terlewat.
Sambil lalu pun aku masih sempat berkaca pada pandangan matamu, meski redup, cahayanya masih melukai, aku berdarah-darah sekedar membayangkanmu, nuansa-nuansa cinta masih mendendam, penuh pengibaratan tentang sesal, seperti malam ini aku melolong akan melupakanmu, karena kau adalah Desember yang terbilang dalam hidupku.
Desember bukan lagi tentang kau, aku sudah berjanji menguburmu sehitam malam, melebur dosa-dosaku sederas hujan, dan melupakan dendamku setinggi ujung daun. Desember ini, akan banyak bercerita tentang hakikat, karena muasal kembali ke muasal, kita fana dalam cinta dan kita baka dalam cinta. Desember kujadikan bijaksana, bersama tabir yang mulai terkuak, dan aku hanya akan mengenangmu, ketika kilau bintang meminta, abadikan aku dalam ikhlas yang teruji.
Desember ini yang menjauhkanku dari sekedar menunggumu, akan mendekatkan aku kembali dari kehampaan yang menyesak, menyembuhkanku dari himpitan kesendirian, membangunkanku dari terkulai, dan menarik tanganku dari terasing. Betapapun aku tersengal bernafas seorang diri, takkan pernah kuingkari wangi hatimu, meski aku hanya lampu jalanan, bukan matahari yang abadi, niscaya tegar bilamana cinta hadir.
Jika aku pernah berprasangka karena kabut yang kau singsingkan, aku banyak belajar dari remah-remah hikmah, sedetik sebelum Januari menggurui. Kesenangan belum tentu karunia, karena kesedihan selalu menyertainya. Hanya malam-malam penuh syukur kebahagiaan sejati, hingga tertawa dan menangis tak ada bedanya, seperti pergantian siang ke malam yang terbiasa.
Andika Winchester Saputra
Sambil lalu pun aku masih sempat berkaca pada pandangan matamu, meski redup, cahayanya masih melukai, aku berdarah-darah sekedar membayangkanmu, nuansa-nuansa cinta masih mendendam, penuh pengibaratan tentang sesal, seperti malam ini aku melolong akan melupakanmu, karena kau adalah Desember yang terbilang dalam hidupku.
Desember bukan lagi tentang kau, aku sudah berjanji menguburmu sehitam malam, melebur dosa-dosaku sederas hujan, dan melupakan dendamku setinggi ujung daun. Desember ini, akan banyak bercerita tentang hakikat, karena muasal kembali ke muasal, kita fana dalam cinta dan kita baka dalam cinta. Desember kujadikan bijaksana, bersama tabir yang mulai terkuak, dan aku hanya akan mengenangmu, ketika kilau bintang meminta, abadikan aku dalam ikhlas yang teruji.Desember ini yang menjauhkanku dari sekedar menunggumu, akan mendekatkan aku kembali dari kehampaan yang menyesak, menyembuhkanku dari himpitan kesendirian, membangunkanku dari terkulai, dan menarik tanganku dari terasing. Betapapun aku tersengal bernafas seorang diri, takkan pernah kuingkari wangi hatimu, meski aku hanya lampu jalanan, bukan matahari yang abadi, niscaya tegar bilamana cinta hadir.
Jika aku pernah berprasangka karena kabut yang kau singsingkan, aku banyak belajar dari remah-remah hikmah, sedetik sebelum Januari menggurui. Kesenangan belum tentu karunia, karena kesedihan selalu menyertainya. Hanya malam-malam penuh syukur kebahagiaan sejati, hingga tertawa dan menangis tak ada bedanya, seperti pergantian siang ke malam yang terbiasa.
Andika Winchester Saputra
Thursday, December 10, 2009
apakah kamu wortel? Telur? apa Kopi? *maaf bukan lagi ngmgin sembako*
hola halo..aloha..alaho...
ketemu lagi dgn sayaaaa...di dorce SHOW...SHOW...SHOW...
(anjis salah uy,,,) *ketauan deh klo gw dorce..*hehehe
back to the point pals..
im back fellaz,,to kryptonize u all...
ini tentang sebuah pilihan untuk memaknai hidup..
and not without too much bla bla bla...
lets get the ball rollin fellaz..
Seorang anak mengeluh pada ayahnya mengenai kehidupannya dan menanyakan mengapa hidup ini terasa begitu berat baginya. Ia tidak tahu bagaimana menghadapinya dan hampir menyerah. Ia sudah lelah untuk berjuang. Sepertinya setiap kali satu masalah selesai, timbul masalah baru.
Ayahnya, seorang koki, membawanya ke dapur. Ia mengisi 3 panci dengan air dan menaruhnya di atas api.

Setelah air di panci-panci tersebut mendidih. Ia menaruh wortel di dalam panci pertama, telur di panci kedua dan ia menaruh kopi bubuk di panci terakhir. Ia membiarkannya mendidih tanpa berkata-kata. Si anak membungkam dan menunggu dengan tidak sabar, memikirkan apa yang sedang dikerjakan sang ayah. Setelah 20 menit, sang ayah mematikan api.
Ia menyisihkan wortel dan menaruhnya di mangkuk, mengangkat telur dan meletakkannya di mangkuk yang lain, dan menuangkan kopi di mangkuk lainnya.
Lalu ia bertanya kepada anaknya, “Apa yang kau lihat, nak?”"Wortel, telur, dan kopi” jawab si anak. Ayahnya mengajaknya mendekat dan memintanya merasakan wortel itu. Ia melakukannya dan merasakan bahwa wortel itu terasa lunak. Ayahnya lalu memintanya mengambil telur dan memecahkannya. Setelah membuang kulitnya, ia mendapati sebuah telur rebus yang mengeras.
Terakhir, ayahnya memintanya untuk mencicipi kopi. Ia tersenyum ketika mencicipi kopi dengan aromanya yang khas. Setelah itu, si anak bertanya, “Apa arti semua ini, Ayah?”
Ayahnya menerangkan bahwa ketiganya telah menghadapi ‘kesulitan’ yang sama, melalui proses perebusan, tetapi masing-masing menunjukkan reaksi yang berbeda.
Wortel sebelum direbus kuat, keras dan sukar dipatahkan. Tetapi setelah direbus, wortel menjadi lembut dan lunak. Telur sebelumnya mudah pecah. Cangkang tipisnya melindungi isinya yang berupa cairan. Tetapi setelah direbus, isinya menjadi keras. Bubuk kopi mengalami perubahan yang unik. Setelah berada di dalam rebusan air, bubuk kopi merubah air tersebut.
“Kamu termasuk yang mana?,” tanya ayahnya. “Ketika kesulitan mendatangimu, bagaimana kau menghadapinya? Apakah kamu wortel, telur atau kopi?” Bagaimana dengan kamu? Apakah kamu adalah wortel yang kelihatannya keras, tapi dengan adanya penderitaan dan kesulitan, kamu menyerah, menjadi lunak dan kehilangan kekuatanmu.”
“Apakah kamu adalah telur, yang awalnya memiliki hati lembut? Dengan jiwa yang dinamis, namun setelah adanya kematian, patah hati, perceraian atau pemecatan maka hatimu menjadi keras dan kaku. Dari luar kelihatan sama, tetapi apakah kamu menjadi pahit dan keras dengan jiwa dan hati yang kaku?.”
“Ataukah kamu adalah bubuk kopi? Bubuk kopi merubah air panas, sesuatu yang menimbulkan kesakitan, untuk mencapai rasanya yang maksimal pada suhu 100 derajat Celcius. Ketika air mencapai suhu terpanas, kopi terasa semakin nikmat.”
“Jika kamu seperti bubuk kopi, ketika keadaan menjadi semakin buruk, kamu akan menjadi semakin baik dan membuat keadaan di sekitarmu juga membaik.”
“Ada raksasa dalam setiap orang dan tidak ada sesuatupun yang mampu menahan raksasa itu kecuali raksasa itu menahan dirinya sendiri”
SELAMAT MENIKMATI HIDUP INI YANG BEGITU INDAH...KARENA HIDUP INI ADALAH ANUGERAH...JANGAN DISIA-SIAKAN!!
now time to choose your side dude..
be wise..
with rockinspiration...
_Andika Winchester Saputra_
ketemu lagi dgn sayaaaa...di dorce SHOW...SHOW...SHOW...
(anjis salah uy,,,) *ketauan deh klo gw dorce..*hehehe
back to the point pals..
im back fellaz,,to kryptonize u all...
ini tentang sebuah pilihan untuk memaknai hidup..
and not without too much bla bla bla...
lets get the ball rollin fellaz..
Seorang anak mengeluh pada ayahnya mengenai kehidupannya dan menanyakan mengapa hidup ini terasa begitu berat baginya. Ia tidak tahu bagaimana menghadapinya dan hampir menyerah. Ia sudah lelah untuk berjuang. Sepertinya setiap kali satu masalah selesai, timbul masalah baru.
Ayahnya, seorang koki, membawanya ke dapur. Ia mengisi 3 panci dengan air dan menaruhnya di atas api.

Setelah air di panci-panci tersebut mendidih. Ia menaruh wortel di dalam panci pertama, telur di panci kedua dan ia menaruh kopi bubuk di panci terakhir. Ia membiarkannya mendidih tanpa berkata-kata. Si anak membungkam dan menunggu dengan tidak sabar, memikirkan apa yang sedang dikerjakan sang ayah. Setelah 20 menit, sang ayah mematikan api.
Ia menyisihkan wortel dan menaruhnya di mangkuk, mengangkat telur dan meletakkannya di mangkuk yang lain, dan menuangkan kopi di mangkuk lainnya.
Lalu ia bertanya kepada anaknya, “Apa yang kau lihat, nak?”"Wortel, telur, dan kopi” jawab si anak. Ayahnya mengajaknya mendekat dan memintanya merasakan wortel itu. Ia melakukannya dan merasakan bahwa wortel itu terasa lunak. Ayahnya lalu memintanya mengambil telur dan memecahkannya. Setelah membuang kulitnya, ia mendapati sebuah telur rebus yang mengeras.
Terakhir, ayahnya memintanya untuk mencicipi kopi. Ia tersenyum ketika mencicipi kopi dengan aromanya yang khas. Setelah itu, si anak bertanya, “Apa arti semua ini, Ayah?”
Ayahnya menerangkan bahwa ketiganya telah menghadapi ‘kesulitan’ yang sama, melalui proses perebusan, tetapi masing-masing menunjukkan reaksi yang berbeda.
Wortel sebelum direbus kuat, keras dan sukar dipatahkan. Tetapi setelah direbus, wortel menjadi lembut dan lunak. Telur sebelumnya mudah pecah. Cangkang tipisnya melindungi isinya yang berupa cairan. Tetapi setelah direbus, isinya menjadi keras. Bubuk kopi mengalami perubahan yang unik. Setelah berada di dalam rebusan air, bubuk kopi merubah air tersebut.
“Kamu termasuk yang mana?,” tanya ayahnya. “Ketika kesulitan mendatangimu, bagaimana kau menghadapinya? Apakah kamu wortel, telur atau kopi?” Bagaimana dengan kamu? Apakah kamu adalah wortel yang kelihatannya keras, tapi dengan adanya penderitaan dan kesulitan, kamu menyerah, menjadi lunak dan kehilangan kekuatanmu.”
“Apakah kamu adalah telur, yang awalnya memiliki hati lembut? Dengan jiwa yang dinamis, namun setelah adanya kematian, patah hati, perceraian atau pemecatan maka hatimu menjadi keras dan kaku. Dari luar kelihatan sama, tetapi apakah kamu menjadi pahit dan keras dengan jiwa dan hati yang kaku?.”
“Ataukah kamu adalah bubuk kopi? Bubuk kopi merubah air panas, sesuatu yang menimbulkan kesakitan, untuk mencapai rasanya yang maksimal pada suhu 100 derajat Celcius. Ketika air mencapai suhu terpanas, kopi terasa semakin nikmat.”
“Jika kamu seperti bubuk kopi, ketika keadaan menjadi semakin buruk, kamu akan menjadi semakin baik dan membuat keadaan di sekitarmu juga membaik.”
“Ada raksasa dalam setiap orang dan tidak ada sesuatupun yang mampu menahan raksasa itu kecuali raksasa itu menahan dirinya sendiri”
SELAMAT MENIKMATI HIDUP INI YANG BEGITU INDAH...KARENA HIDUP INI ADALAH ANUGERAH...JANGAN DISIA-SIAKAN!!
now time to choose your side dude..
be wise..
with rockinspiration...
_Andika Winchester Saputra_
Subscribe to:
Comments (Atom)