"Aku kehilangan kata disaat ku kehilangan cinta.. Sekarang aku mulai belajar mencintai kata.. Agar aku ingat rasanya mencintai cinta..."

Saturday, October 26, 2013

Kamu adalah tinta dari guratan pena cinta, tapi...

Pagi ini semburat mentari mengelus wajah tidurku, membangunku dari sekedar mimpi yang dilahirkan malam.

Birunya langit Bali, beralaskan hijaunya bumi tak pernah jenuh meyambut muka bantalku, segelas kopi Bali sudah cukup untuk menyesak hangat ke dalam diri.

Jajaran pohon kelapa seorang berbaris menunduk diiringi tarian padi yang mendengar melodi angin.

Bagaimana bisa aku tidak jatuh cinta dengan ini semua?

Memori tentangmu muncul lagi, menawarkan perasaan ingin bersaing dengan indahnya Ubud. Bahkan memorimu pun tak pernah ingin kalah indah ya?

Aku pernah terjebak dalam ketidakmampuan untuk berbahagia tanpamu.
Aku pernah terkurung dalam kealpaan dalam menggurat cinta tanpa bayangmu.
Aku pernah hanya bisa terduduk lesu di depan kanvas bahagiaku hanya karena kamu tak lagi menjadi warnaku.

Sederhananya, aku tak bisa jatuh cinta kepada apa yang tidak memilikimu di dalamnya.

Aku pernah mengagungkanmu sebagai satu-satunya tinta dalam pena cintaku. Pena yang menuliskan setiap rasa bahagia.

Masih? Mungkin.

Tapi aku tersadar bahwa aku selalu punya pilihan. Jika kamu adalah tinta dalam pena bahagiaku, akan kuraut pensilku untuk menggambar kebahagiaan yang lebih besar dari hanya sekedar coretan pena itu.

"Dont let your happiness depend on something (or someone) you may lose" :)

Seorang tak berarti kesepian, bersama tak selalu merasa ramai.


Di tengah sawah Ubud,
27 Oktober 2013

Thursday, October 24, 2013

Forget Jakarta. You.

Malam ini entah malam keberapa yang kuhabiskan dengan melarikan diri.
Hari ini entah hari keberapa aku mencoba menjauhkan diri dari rasa sakit.
Dulu dia, sekarang kamu. Entah siapa lagi kelak.

Aku berada dalam antrian untuk meninggalkanmu sejenak, aku mencoba untuk melupakan...maksudku mengalihkan dirimu dariku.
Meninggalkan kota yang berjejak canda yang dalam beberapa hari terakhir telah hilang ditelan kejujuran.

Aku mencoba mencekik egoku, kucoba untuk mengkuliti rasa gengsiku satu persatu.
Aku ingin bersamamu.
Aku tak mau lagi diperbudak rasa ikhlas, aku tak mau lagi lupa caranya memperjuangkan rasa sayang.

Tapi lagi, aku menjadi saksi bagaimana sebuah tekad hanya menjadi bulan-bulanan dari gerombolan kenyataan.
Lagi, aku menjadi saksi dimana tekad yang babak belur hanya bisa terduduk dan bersandar penuh luka dihadapan tembok yang seringkali mereka plesetkan sebagai rasa ikhlas.

Kini aku pergi (lagi) membawa elegi, bersama tekad yang tak lagi punya gigi.
Biarkan tekadku beristirahat setelah lelah dia dicabik indah pesona.

Aku pergi,
Lain kali biarkan hatimu berbunyi,
Jangan terus menjawab dalam sunyi,
Karena sesakitnya penolakan adalah ditusuk oleh pisau bisu.


25 Oktober 2013 - 02.55
Di salah satu sudut bandara Jakarta