Pagi ini semburat mentari mengelus wajah tidurku, membangunku dari sekedar mimpi yang dilahirkan malam.
Birunya langit Bali, beralaskan hijaunya bumi tak pernah jenuh meyambut muka bantalku, segelas kopi Bali sudah cukup untuk menyesak hangat ke dalam diri.
Jajaran pohon kelapa seorang berbaris menunduk diiringi tarian padi yang mendengar melodi angin.
Bagaimana bisa aku tidak jatuh cinta dengan ini semua?
Memori tentangmu muncul lagi, menawarkan perasaan ingin bersaing dengan indahnya Ubud. Bahkan memorimu pun tak pernah ingin kalah indah ya?
Aku pernah terjebak dalam ketidakmampuan untuk berbahagia tanpamu.
Aku pernah terkurung dalam kealpaan dalam menggurat cinta tanpa bayangmu.
Aku pernah hanya bisa terduduk lesu di depan kanvas bahagiaku hanya karena kamu tak lagi menjadi warnaku.
Sederhananya, aku tak bisa jatuh cinta kepada apa yang tidak memilikimu di dalamnya.
Aku pernah mengagungkanmu sebagai satu-satunya tinta dalam pena cintaku. Pena yang menuliskan setiap rasa bahagia.
Masih? Mungkin.
Tapi aku tersadar bahwa aku selalu punya pilihan. Jika kamu adalah tinta dalam pena bahagiaku, akan kuraut pensilku untuk menggambar kebahagiaan yang lebih besar dari hanya sekedar coretan pena itu.
"Dont let your happiness depend on something (or someone) you may lose" :)
Seorang tak berarti kesepian, bersama tak selalu merasa ramai.
Di tengah sawah Ubud,
27 Oktober 2013