Sebuah sore di stasiun kereta..
Diantara riuh rendah cakap bersahutan, bermacam kelebatan
pandangan mata yang beradu kilas, ditengah waktu yang memburu dalam raga yang
berselisih.
Duduklah seorang gadis yang menunggu keretanya datang,
earphone terpasang di telinganya, mengabaikan ego yang banyak bertubrukan di
sekitarnya, wajah senyumnya tanda ia menikmati harinya.
Entah musik apa yang di dengarkannya sehingga ia bisa
sedamai itu di tengah kerumunan ramai, ah tapi siapa yang peduli? Aku yakin
bukan alunannya yang membuatnya tersenyum, tapi justru senyumannya yang membuat
musik itu mengalun.
Sore ini mendung, tapi tak pernah mampir sedikitpun di
wajahmu, kamu mempunyai mentarimu sendiri, kamu mempunyai sinarmu sendiri, yang
tak ragu kau bagi lewat lengkung sempurna senyummu.
Sore itu di stasiun kereta,
Lembayung jingga malu malu menatap dari balik awan hitam,
entah segan pada hujan atau minder pada kilasan senyum indahmu.
Senja yang terbiasa menjadi poros keindahan hari, akhirnya
menemukan lawannya.
Senja tak bisa lagi cantik sendiri,
Senja tak lagi menjadi megah yang tunggal..
Sore itu di stasiun kereta.
Ditengah langit yang enggan menatap, semua binar berporos
padanya, semua sejuk hari berpusat di senyumnya, segala ketuk irama semesta
terangkum dalam indah tatapnya.
Kereta pun datang, memisahkan inderaku dari lekat bius
pesonamu, siapapun kamu, semoga hari akan mempertemukan aku denganmu lagi,
diantara lipatan masa.
Aku tak pernah tahu siapa kamu, aku tak pernah tahu namamu,
atau kemana kau menuju, tapi yang kutahu pancarmu menyinari mendung soreku,
maka bolehkah ku panggil kamu, mentariku?
-------------------------------------------------------------------------------------
Jika kau tanya padaku, lebih baik kehilangan senjaku atau
mentariku? Aku lebih takut kehilangan mentariku, karena tanpanya senjaku tak
akan pernah ada.
Andika Saputra
