"Aku kehilangan kata disaat ku kehilangan cinta.. Sekarang aku mulai belajar mencintai kata.. Agar aku ingat rasanya mencintai cinta..."

Saturday, October 26, 2013

Kamu adalah tinta dari guratan pena cinta, tapi...

Pagi ini semburat mentari mengelus wajah tidurku, membangunku dari sekedar mimpi yang dilahirkan malam.

Birunya langit Bali, beralaskan hijaunya bumi tak pernah jenuh meyambut muka bantalku, segelas kopi Bali sudah cukup untuk menyesak hangat ke dalam diri.

Jajaran pohon kelapa seorang berbaris menunduk diiringi tarian padi yang mendengar melodi angin.

Bagaimana bisa aku tidak jatuh cinta dengan ini semua?

Memori tentangmu muncul lagi, menawarkan perasaan ingin bersaing dengan indahnya Ubud. Bahkan memorimu pun tak pernah ingin kalah indah ya?

Aku pernah terjebak dalam ketidakmampuan untuk berbahagia tanpamu.
Aku pernah terkurung dalam kealpaan dalam menggurat cinta tanpa bayangmu.
Aku pernah hanya bisa terduduk lesu di depan kanvas bahagiaku hanya karena kamu tak lagi menjadi warnaku.

Sederhananya, aku tak bisa jatuh cinta kepada apa yang tidak memilikimu di dalamnya.

Aku pernah mengagungkanmu sebagai satu-satunya tinta dalam pena cintaku. Pena yang menuliskan setiap rasa bahagia.

Masih? Mungkin.

Tapi aku tersadar bahwa aku selalu punya pilihan. Jika kamu adalah tinta dalam pena bahagiaku, akan kuraut pensilku untuk menggambar kebahagiaan yang lebih besar dari hanya sekedar coretan pena itu.

"Dont let your happiness depend on something (or someone) you may lose" :)

Seorang tak berarti kesepian, bersama tak selalu merasa ramai.


Di tengah sawah Ubud,
27 Oktober 2013

Thursday, October 24, 2013

Forget Jakarta. You.

Malam ini entah malam keberapa yang kuhabiskan dengan melarikan diri.
Hari ini entah hari keberapa aku mencoba menjauhkan diri dari rasa sakit.
Dulu dia, sekarang kamu. Entah siapa lagi kelak.

Aku berada dalam antrian untuk meninggalkanmu sejenak, aku mencoba untuk melupakan...maksudku mengalihkan dirimu dariku.
Meninggalkan kota yang berjejak canda yang dalam beberapa hari terakhir telah hilang ditelan kejujuran.

Aku mencoba mencekik egoku, kucoba untuk mengkuliti rasa gengsiku satu persatu.
Aku ingin bersamamu.
Aku tak mau lagi diperbudak rasa ikhlas, aku tak mau lagi lupa caranya memperjuangkan rasa sayang.

Tapi lagi, aku menjadi saksi bagaimana sebuah tekad hanya menjadi bulan-bulanan dari gerombolan kenyataan.
Lagi, aku menjadi saksi dimana tekad yang babak belur hanya bisa terduduk dan bersandar penuh luka dihadapan tembok yang seringkali mereka plesetkan sebagai rasa ikhlas.

Kini aku pergi (lagi) membawa elegi, bersama tekad yang tak lagi punya gigi.
Biarkan tekadku beristirahat setelah lelah dia dicabik indah pesona.

Aku pergi,
Lain kali biarkan hatimu berbunyi,
Jangan terus menjawab dalam sunyi,
Karena sesakitnya penolakan adalah ditusuk oleh pisau bisu.


25 Oktober 2013 - 02.55
Di salah satu sudut bandara Jakarta

Tuesday, September 17, 2013

Papa, berusaha tidak menyayangimu lebih sulit daripada sekedar memaafkanmu.


Papa, malam ini rindu menyapaku lagi..
Aku pikir aku telah merelakanmu, tapi ternyata residu rindu masih banyak lekat membekas di setiap sekat jiwa.
Memaafkanmu itu sulit, tapi berusaha kulakukan walau butuh belasan tahun hingga akhirnya aku mengangguk pada keikhlasan.
Aku pikir memaafkanmu adalah hal tersulit yang hidup berikan kepadaku tentangmu, ternyata ada yang sangat jauh lebih sulit,
Ya, berusaha tidak menyayangi dan merindukanmu itu ternyata bagian tersulitnya.

Entah berapa juta kali hatiku tetap menggeleng pada keinginanku untuk menyayangimu,
Entah berapa juta kali ego ku mendorong rasa rinduku jauh jauh dari kenyataan,
Sebuah pilihan hidup, mungkin itu yang bisa kubilang tentang ketiadaan ini, sebuah pilihan hidup yang dulu papa ku pilih dengan sikapnya lalu dengan sadar kulanjutkan.

Kita pernah tidak bahagia berada dalam satu rasa, maka kau pilih untuk melangkah pergi diantara peluh caci dan kebencian yang membuncah. Aku masih disana, menunggu melihat punggungmu menjauh dan akhirnya menghilang.

Bertahun aku tetap berdiri di titik yang sama, melewati hari demi hari dengan mata yang sama dengan mata yang melihat punggungmu untuk terakhir kalinya, aku masih terpaku dengan harap yang sama, dengan harap akan ada sosok yang muncul dari kabut itu mengenggam sebuah maaf.

Dan hari itu tak pernah datang..

Aku berbalik dan melangkah memunggungi jejakmu, mencipta jejakku sendiri, berusaha mencari sosokmu dalam berbagai bentuk, berusaha merangkai peranmu dalam berbagai versi, aku mengarang tentang seperti apa dirimu.

Garis hidup membawa guratan kisahku kembali bersinggungan dengan garismu,  aku melihatmu dari jauh, diselingi bising kendaraan yang melintas, kamu diseberang jalan sana bersama keluargamu, ya, keluargamu yang tanpa aku di dalamnya.

Aku melihat senyum itu, senyum yang dulu untukku, senyum yang dulu bisa kusaksikan dari jarak peluk, kini hanya kusaksikan dari seberang jalan.
Aku melihat semangat itu, semangat yang dulu hadir untuk kami. Kini menyala lagi untuk orang lain.
Aku melihat bahagia itu, bahagia yang mungkin tak pernah dia dapatkan dari kami. Hadir lagi karena alasan yang mungkin tak pernah bisa kami beri.

Detik berlalu, kau melangkah pergi mengendong perempuan kecil yang mereka bilang buah hatimu, kau kembali menjauh, punggung itu menyeretku tanpa ampun ke masa dimana terakhir kali aku melihat punggung itu menjauh dari lensa airmataku.

Ini pilihanku, Papa.
Ini pilihan untuk tidak lagi menjadi kata “tidak” diantara “kebahagiaanmu”
Ini pilihanku untuk melepaskanmu ke dunia bahagiamu, yang sayangnya tak pernah ada aku di dalamnya.

Jalani bahagiamu, Papa.
Waktu yang Tuhan beri untuk kami bersamamu mungkin hanya sedemikian.

Setiap doaku adalah cara tersunyiku untuk merindukanmu.

Love,

Thursday, August 15, 2013

Ama sine timore


Sejenak aku berhadapan dengan bidang kosong, mencoba merangkai segenap rasa yang akan kutuangkan.
Pikiranku penuh dengan angan tentangmu, satu pesan darimu cerahkan hariku, andai bisa kubagi cerah rasaku dengan mendungnya langit di sore ini.
Sejak mentari masih ceria bersinar hingga kini berganti cahaya lampu kota yang terlihat lelah bertahun menerangi malam. Aku masih teringat kamu.

Menunggu itu tidak menyenangkan, tapi menahan untuk tidak berlebihan menunjukan ketertarikan itu jauh lebih menyulitkan. Aku tak terbiasa memuja dalam bisu, yah minimal aku berbicara lewat paras atau tingkahku yang sering mendadak konyol.

Ini bukan pertama kali aku jatuh hati, tapi ini pertama kalinya hatiku menjatuhkan diri tanpa kuminta.

Dia jatuh dengan alami,
Dia terjatuh tanpa paksaan,
Hatiku memulihkan diri, hatiku mencintai cinta.

Ada degup, debar, ada antusiasme yang aku bahkan lupa terakhir kali aku merasakannya.
Aku sempat lupa caranya merindu dan mencinta selain kepada masa lalu, tapi kini aku sudah bisa merindu tanpa luka, aku bisa mencinta tanpa ketakutan.

Ama sine timore – to love without fear

Aku mencintaimu tanpa ketakutan, aku membagi rindu tanpa rasa gundah.
Takkan kusalahkan kamu atas luka yang sedikitpun tak ada kamu di dalamnya. Tidak adil rasanya.
Tak usah bantuku sembuhkan apa yang kau sebut luka itu, karena aku tak ingin kamu menyembuhkan luka yang tidak kamu sebabkan. Aku bisa.
Cukup aku dan kamu yang saling percaya.

Kepada kamu, aku mempercayakan butiran bahagiaku,
Kepada cantikmu aku menyelipkan potongan debarku,
Kepada sejuk senyummu kupercayakan tegarku bersandar,
Kepadamu, untukku.
Untuk pertanyaan yang kelak pasti akan kamu tanyakan,  “aku siap..”

Thursday, August 8, 2013

Hanya 55 detik..


“Seseorang yang paling kamu benci seharusnya menjadi prioritas utama maafmu, bukan menjadi seseorang yang justru kamu hindari..”

Aku memang tidak terlalu suka mengucapkan permintaan maaf dengan cara menseragamkan ucapannya, walaupun aku pun tidak menyalahkan mereka yang melakukannya. Mungkin teman mereka terlalu lebih banyak dariku untuk dikirimi secara personal.

Aku mengetik satu persatu permintaan maafku, diselingi dengan dosa spesifik yang mungkin tak sengaja ku ingat saat mengetik pesan tersebut. Kuurutkan satu persatu mereka yang ada di list telepon genggamku, hingga akhirnya membawaku kepada suatu nama yang ada di teleppon genggamku bertuliskan,

“Papa”

Aku memandanginya, sepersekian detik pikiranku kosong berusaha mencerna apa arti empat huruf tersebut, karena bahkan aku sudah terlalu asing untuk mengejanya.
Detik kemudian, aku mulai berusaha keras membayangkan wajahnya dari sisa serpihan memori yang berserakan di pikiranku, karena aku mungkin aku sudah terlalu lupa tentang bagaimana rupa lelaki yang menikahi ibuku itu. Aku gagal.

Aku coba lagi sekeras ingatanku dapat menguras memorinya.
Aku tetap gagal.

Kata tanteku, “kelupaanku terhadap rupanya mungkin awal mula dari prosesku melupakan keburukannya”. Semoga.

Detik demi detik aku lewati hanya dengan memandangi nama tersebut, bingung untuk memulai, tak tahu harus merasa apa, tak sadar degupku meningkat, entah apa yang membuatnya, mungkin senang, gugup atau bahkan kebencian itu lagi.

Terlalu lama waktu memisahkan kami, mungkin hidup telah menginvestasikan jaraknya pada kami, semakin waktu berjalan semakin jarakpun bertambah, aaahhh mungkin kita yang terlalu gigih menyalahkan hidup, bukankah justru kita yang terlalu lemah terhadap ego kita sendiri?

Saat itu aku menyadari bahwa rinduku (dan rasa lainnya) hanya berjarak satu tombol dalam telepon genggamku. Aku menarik nafasku dalam dan....
*bip* aku menekan tombol “call”.

Dua detik kemudian aku membatalkan panggilan diikuti kepalaku yang memanas, nafasku yang beradu dan tanganku yang tanpa kudasari mengepal sangat keras. Di saat itu aku bertanya pada diriku, apakah sekeras itu rasaku kepadanya? Ternyata iya.

Kemudian aku menekannya lagi, setiap detik yang berlalu bagaikan menusukku bertubi-tubi, hingga akhirnya lelaki diujung telepon itu menjawab,
Aku beku, lidahku kelu, pikiranku mendadak menjadi dungu, aku memaksa lisan ku untuk berbicara,

“Pah, ini Dika, mohon maaf lahir batin untuk semua kesalahan aku..”

Setelah itu ak tak tahu lagi apa yang ada di percakapan itu, karena aku terlalu sibuk mengatur rasa, aku terlalu repot untuk tidak terdengar lemah dan mengancam agar airmata itu tak pernah jatuh lagi untuknya. Aku gagal, yang kubisa hanya menjauhkan telepon genggamku dariku agar tak sedikitpun terdengar rapuhku olehnya.

Waktu mengalir sangat lambat, hingga akhirnya di detik ke-55 aku mengucap salam terakhir,
hanya 55 detik, 55 detik untuk bertahun rindu yang terpisah oleh tebalnya ego.
Hanya 55 detik, ya tak genap satu menit, sudah lebih dari cukup untuk menjungkirbalikan setiap sendi rasa yang pernah kumiliki.
Hanya 55 detik yang diperlukan untuk meluluhlantahkan benteng rasa yang bertahun kubangun dengan residu memori dan ribuan rasa benci.
Hanya 55 detik.

I move on from my past, i let all your faults go..
i let you go..
God will help me with this..
Bismillah.

Thursday, August 1, 2013

Ayah, Rindu kepadamu adalah sebuah do(s)a..


Ayah, Papa, Bapak atau apapun kita biasa memanggil lelaki yang menikahi ibu, entah kapan terakhir kali aku memamnggil seseorang dengan sebutan itu. Atau kita rubah pernyataannya entah aku masih berani untuk memanggil seseorang dengan sebutan itu lagi atau tidak, karena 2 orang terakhir yang kupanggil dengan sebutan itu, hilang bersama masa.

Sekian lama aku melangkah dipenuhi rasa kecewa akan sosok-sosok itu, selama itu pun aku selalu memaksa hatiku mensubstitusi setiap butir rindu menjadi sebongkah benci, selama itu pula aku selalu menghukum diriku sendiri setiap ada tetes airmata yang mengalir untuknya. Takkan membuang-buang rasa kepada mereka yang tak pantas, kataku.

Setumpuk pengalih perhatian selalu siap membuatku lupa seketika rasa rindu menyergap, hati ini sudah ada pada mode auto-pilotnya sendiri yang otomatis menghapus setiap gurat rindu yang mulai tertulis. Seolah aku sudah terbiasa bertoleransi kepada sisi burukku untuk hal yang satu ini.

Rindu kepada nya adalah sebuah do(s)a.

Berat setumpuk kebencian ini sangat membebani, tapi aku bilang persetan dengan semua itu, aku tutup rapat-rapat semua inderaku, “kulindungi” mereka dari semua bisik yang memberitahuku untuk menemui nya. Kalian takkan tahu apa yang telah kulewati, kataku.

Hingga akhirnya Tuhan memberikanku sakit, satu dan lain hal akhirnya membawaku bertemu dengan seorang dokter. Aku mulai mengeluhkan ini itu tentang sakit yang kurasa, beliau akhirnya hanya tersenyum dan menjawab.

“Terlalu banyak emosi yang kamu tahan, bijak itu bukan tentang menahan emosi tapi tentang bagaimana mengendalikannya.”

Aku terdiam, sejenak berpikir lalu bertanya,

“Kalau mau sembuh obatnya apa ya dok? Apa harus fisioterapi juga?”

Lagi-lagi beliau tersenyum dan menjawab,

“Temui orang yang membuat kamu sekesal itu, temui orang yang paling kamu benci, minta maaf padanya dan katakan bahwa kamu sayang dia..”

Aku terhentak, ucapan yang menarikku terbang menembus sisi-sisi kenangan yang menyesak, diantara jiwa-jiwa yang menyesal.

Nafasku tetiba tersengal, aku menelan ludah, ada tangis yang menunggu untuk diamini. Aku teringat satu sosok itu.

“Papah..”

Dalam hati aku mengucap, keangkuhanku menghujam bumi, aku berbangga akan sesuatu yang memukulku hingga rasanya setiap bagian dari kebanggaanku lebam. Aku salah telah berbangga akan kebencian.

Aku ingin bertemu dengamu, aku ingin memelukmu, aku ingin meluapkan semua rindu dalam diriku, aku ingin melepaskan semua rasa yang bertahun kubelenggu dengan rantai kebencian.

Aku ingin bertemu denganmu, bukan untuk berkeluh tentang masa lalu, apalagi berangan tentang masa depan.

Aku ingin bertemu denganmu, hanya itu.

Setelahnya aku tak peduli apa akan ada pertemuan selanjutnya atau itu terakhir kalinya aku meluap rasa.
Akan kubisikan kata yang tak sempat kuucap beberapa tahun lalu saat akhirnya kita dipisahkan oleh keangkuhan dan keagungan ego.

“Dika sayang papah, Dika kangen papah..Maafkan anakmu ini”

Kata itu hanya akan kuucap, tak perlu kudengar balasmu.
Kata itu hanya perlu kuucap, setelahnya aku tak lagi peduli.

Aku yang pergi, tapi kali ini dengan pamit.
Jalani lah lagi hidupmu yang telah cukup bahagia tanpa ada aku di dalamnya.

I’m not your only son, like you’re not my only father..
But you’ve lost all your sons, like i’ve lost all my fathers.


-some words are better left unspoken, some others are better spoken a moment before a real goodbye” –Andika Saputra.

Tuesday, July 9, 2013

Aku lupa meminta maaf kepada..


Selamat datang Ramadhan, senang bertemu denganmu lagi..

Menjelang bulan Ramadhan dan Lebaran adalah masa dimana orang berlomba-lomba merasa salah dan menebar maaf setelah setahun berpacu dengan egoisme akan kebenaran diri yang berpelit maaf. Dan yah aku sendiri ga bilang itu salah, semua sah-sah saja, dan lagi pula bukan itu poin utama yang ingin aku bahas disini.
Aku menulis untuk mengingatkan diriku sendiri akan kelalaianku,
Aku meminta maaf kepada banyak orang, atas segala kesalahanku, kepada orang tua, kepada teman, sahabat atau bahkan kepada orang yang baru kukenal, aku meminta maaf kepada semua yang berinteraksi denganku. Sampai disana aku merasa benar, hingga akhirnya aku meresapi ruang hening di dalam pikiranku, ruang hening di dalam jiwaku. Aku melakukan kesalahan besar, terlalu banyak aku memikirkan apa yang ada diluarku, tanpa sadar aku lupa untuk berinteraksi ke dalam.
Terlalu sering kita dirumitkan oleh pemikiran kita sendiri hingga kita lupa rasanya memikirkan sesuatu secara sederhana. Terlalu sering kita mempedulikan orang lain hingga lupa mempedulikan diri sendiri.
Aku lupa meminta maaf kepada diriku sendiri jika aku sering lalai dalam menjaga raga,
Aku lupa meminta maaf kepada diriku sendiri jika aku sering lalai menjaga hati dan perasaan,
Aku lupa meminta maaf kepada diriku sendiri jika aku menjadikan diri ini sebagai korban repetisi rasa sakit akibat egoisme diri.
Aku lupa meminta maaf kepada diri akan indera yang sering aku salah fungsikan,
Atas mata yang kupaksa untuk melihat yang tak seharusnya,
Akan tangan yang kugunakan untuk mengambil yang bukan hak nya,
Akan kaki yang kuperintah melangkah ke tempat yang membawaku kepada keburukan,
Akan telinga yang kujerumuskan kepada gaung kata yang tak bermakna,
Atas mulut yang lebih sering berucap keluh daripada berucap syukur, lebih sering mencaci dari pada mendoakan.
Aku lupa meminta maaf semua dzalim yang kubuat kepada diriku sendiri, seolah-olah dzalim dunia belum cukup menyakiti.

Kepada bumi, kepada semesta..
Aku lupa memohon maaf kepada bumi, akan kelalaianku dalam menjaganya selama ini dalam kapasitas yang bisa kujangkau.
Kepada bumi atas kelalaianku berterimakasih atas tempatku berpijak selama hampir 26 tahun ini,
Kepada bumi atas kelakuan burukku yang justru menyakitimu dari dalam, atas perilakuku yang membuatmu semakin senja.
Atas keserakahanku yang semakin manjadi menggerogoti keindahanmu..

Terakhir, kepada Tuhan..
Aku lupa meminta maaf karena ucap syukurku lebih sering tertutup pantulan keluh kesah akan hati yang tak pernah puas.
Aku lupa meminta maaf telah lalai mencintaimu, atau kemungkinan kumencintaimu dengan cara yang salah, dengan cara yang malah mencoreng namamu.
Tentang caraku memperlakukanMu dalam hidup, maaf atas kelakuanku menjadikan hidupku dan keberadaanMu seolah-olah hubungan kita adalah matematika manusia.
Aku lupa meminta maaf akan ketidaksengajaanku menduakanmu dengan dunia, menyekutukanMu ternyata tanpa sadar sering kulakukan. Aku menyekutukanMu dengan pekerjaanku, aku meyekutukanMu dengan teman-temanku, aku menyekutukanMu dengan diriku sendiri, aku sering menunda segala kewajibanku kepadaMu tapi di lain sisi aku berucap TIDAK ADIL jika kupikir Engkau tidak menjawab keinginanku, jika kupikir engkau tidak mengutamakanku PADAHAL aku sendiri sering tidak mengutamakanMu.

Saat aku menghadapMu dalam shalat, seringkali hanya ragaku yang menghadapmu, hatiku, jiwaku melayang ke tempat lain. Kepada rencanaku selanjutnya, kepada (lagi-lagi) pekerjaanku, kepada hal apa yang akan kulakukan selepas shalat ini, semua shalatku seolah aku lakukan dengan mode auto-pilot tubuhku yang telah hafal dengan ucapan dan setiap gerakannya. Banyak sekali hal-hal tidak baik yang kulakukan saat melakukan shalat (yang seringkali) kubilang menghadapMu itu. Sesuatu yang akan sangat kusesali suatu saat dimana aku benar-benar dipanggil untuk menghadapMu.

Tuhan, ampuni aku..
Atas diri yang seringkali tanpa sadar menyepelekanMu,
Atas diri yang seringkali berdoa tetapi tanpa sadar aku hanya berpura-pura berbicara kepadaMu.
Atas diri yang telah berbangga-ria dihadapanMu
Atas diri yang menganggap paling benar dan sering menyalahkan,
Atas diri yang terlihat mendekat kepadaMu, yang ternyata SUNGGUH MASIH JAUH DariMu.

Terimakasih Tuhan, atas nafas yang masih kau pinjamkan untukku bertemu Ramadhan tahun ini.
Marhaban ya Ramadhan.

Thursday, June 13, 2013

Sebuah sore di stasiun kereta..


Sebuah sore di stasiun kereta..

Diantara riuh rendah cakap bersahutan, bermacam kelebatan pandangan mata yang beradu kilas, ditengah waktu yang memburu dalam raga yang berselisih.
Duduklah seorang gadis yang menunggu keretanya datang, earphone terpasang di telinganya, mengabaikan ego yang banyak bertubrukan di sekitarnya, wajah senyumnya tanda ia menikmati harinya.
Entah musik apa yang di dengarkannya sehingga ia bisa sedamai itu di tengah kerumunan ramai, ah tapi siapa yang peduli? Aku yakin bukan alunannya yang membuatnya tersenyum, tapi justru senyumannya yang membuat musik itu mengalun.
Sore ini mendung, tapi tak pernah mampir sedikitpun di wajahmu, kamu mempunyai mentarimu sendiri, kamu mempunyai sinarmu sendiri, yang tak ragu kau bagi lewat lengkung sempurna senyummu.

Sore itu di stasiun kereta,
Lembayung jingga malu malu menatap dari balik awan hitam, entah segan pada hujan atau minder pada kilasan senyum indahmu.
Senja yang terbiasa menjadi poros keindahan hari, akhirnya menemukan lawannya.
Senja tak bisa lagi cantik sendiri,
Senja tak lagi menjadi megah yang tunggal..
Sore itu di stasiun kereta.

Ditengah langit yang enggan menatap, semua binar berporos padanya, semua sejuk hari berpusat di senyumnya, segala ketuk irama semesta terangkum dalam indah tatapnya.
Kereta pun datang, memisahkan inderaku dari lekat bius pesonamu, siapapun kamu, semoga hari akan mempertemukan aku denganmu lagi, diantara lipatan masa.
Aku tak pernah tahu siapa kamu, aku tak pernah tahu namamu, atau kemana kau menuju, tapi yang kutahu pancarmu menyinari mendung soreku, maka bolehkah ku panggil kamu, mentariku?

-------------------------------------------------------------------------------------

Jika kau tanya padaku, lebih baik kehilangan senjaku atau mentariku? Aku lebih takut kehilangan mentariku, karena tanpanya senjaku tak akan pernah ada.


Andika Saputra

Tuesday, June 11, 2013

Kepadamu senja..


Kepada senja,

Beberapa hari ini kamu tak muncul, ada perasaan canggung saat aku tak lagi melihat hangatmu di pandang mataku.
Ada hati yang rindu melihat megahmu, ada sisi hati yang mereguk candu akan cantikmu tapi adapula poros hati yang menolak untuk merindu.
Senja mengingatkan aku lebih daripada sekedar indah, senja mengingatkanku tentangmu, senja mengingatkanku saat kau masih ada di pelukan, saat detak jantungku membisik di telingamu dalam nyamannya satu lingkaran peluk.

Senja, kamu tak lagi hiasi soreku, seperti lama sudah dia tak lagi hiasi hariku..
Senja, kau tak lagi bersinar, seperti matanya yang berhenti menjadi binar..
Senja, kau biarkan dirimu dikalahkan mendung, seperti ketidakpercayaannya yang tak terbendung..
Senja, melihatmu membuatku menyadari bahwa bahkan keindahan pun bisa menyakiti, apa yang memanjakan mata belum tentu mencintai hati.

Aku termenung di bawah langit sore ini, berbayang siluet senja yang entah ada dimana, berganti dengan kerlip lampu kota yang mencoba mengganti, maaf kalian bukan apa-apa.

Senja tiada, entah aku atau dia yang pergi, yang jelas kita tak lagi bisa berbagi.
Senja pudar, entah siapa yang memutuskan berhenti berpendar, tapi kita tak lagi sanggup menjadi debar,
Senja biru, tak pernah tahu siapa yang memulai haru, yang jelas semua telah dihukum cemburu.

Senja, aku pernah sangat memujamu, mungkin sekarang pun masih..
Senja, aku pernah teramat mencintaimu, mungkin tanpa sadar sekarang pun tersimpan.
Senja, aku tak mungkin berhenti merasa, aku hanya berhenti memakan asa..

Aku dan kamu mungkin diciptakan seperti Tuhan menciptakan senja untuk penghuni bumi,
Bisa kulihat, bisa kukagumi tapi tak pernah diciptakan untuk dimiliki..
Untuk dipuja,  tapi bukan untuk dipersunting..
Kepadamu senja, tempat semua pujiku berporos, tempat semua kesempurnaan bermuara..
Aku akan mulai mencintaimu dengan wajar.


Andika Winchester Saputra

Monday, June 3, 2013

-Story of a friend- So i decide to leave..


Di bawah langit para dewa, di tanah yang sama dimana Athena pernah jatuh cinta. Aku menatap hamparan langit Yunani, hatiku bergemuruh, rinduku berkecamuk, tanpa sadar semilir angin malam menawarkan pengakuan. Ya ternyata rinduku masih menunduk pada pesonamu.

Kamu yang telah kusimpan dalam sudut kecil dalam hatiku, seketika menyeruak muncul dalam segala kemungkinan,
Kemungkinan untuk mencintai kembali,
Kemungkinan untuk membingkai (kembali) setiap impian indah yang pernah kita rangkai,
Kemungkinan untuk kembali berharap lingkar emas mungil itu bisa bertahta di jari manismu.
Ya, cincin kecil yang telah kubawa keliling ke tempat yang menakjubkan hanya untukmu, cincin kecil yang memang selalu untukmu, denganmu atau tanpamu hidupku kelak. Cincin kecil dengan nama perempuan yang pernah sangat kucintai melingkar di dalamnya.

Malam ini, asa ku kembali mengudara, terbang bersama para cupid yang selalu luput, sepersekian detik aku merasa bodoh, aaahh tapi bukankah manusia yang (kembali) jatuh cinta itu semuanya bodoh? Aku tak peduli.. aku terbang di atas langit Yunani dengan asaku terhadapmu menjadi masing-masing sayapnya.
Aku mencoba menghubungimu, dan... aku melihatmu, dengan pilihanmu.

Seketika sayapku terbakar api bernama realita, kenyataan tanpa ampun membenamkanku kembali ke bumi, menghujamku dengan berjuta ingatanku tentangmu, tentang segala gelak dan tangis yang terlewati dalam masaku bersamamu.

Para dewa menjadi saksi pasrahnya sebuah pengakuan, menjadi saksi lemahnya sebuah kepercayaan, menjadi saksi bagaimana pengkhiatan dan kesalahpahaman bisa menjadi sebuah garis yang amat sangat tipis.
Aku tersadar akan terlalu banyak hati yang kita lukai untuk sekedar menjalani hubungan yang ternyata saling menyakiti

Bersamamu aku bagaikan berjalan, bergandengan tangan namun berjalan di atas pecahan kaca, bersama tapi melukai. Kita memaksakan untuk berjalan bersama walau kita tahu setiap langkah kita meresap rasa sakit.

So i decide to leave..

Aku akan berjalan memunggungimu, aku tak akan berbalik lagi, tolong bantu aku..
Jangan jadikan aku spasi diantara ketidakbahagiaanmu dengan pilihanmu, karena buatku menjadi tidak peduli padamu itu maha sulit.
Jangan pula jadikan keburukan aku di matamu sebagai spasi keraguan diantara keyakinanmu merasa bahagia,

Sudah saatnya aku berhenti menyakiti orang yang menyayangiku,  sudah saatnya kita berhenti menyakiti dia, meyakiti mereka, menyakiti kamu, dan sudah saatnya aku berhenti untuk menyakiti diriku sendiri.

Sulit bagiku untuk melepasmu, getaran tanganku saat menulis pesan untukmu, gemertak rahang yang beradu entah menahan lisan atau mengekang tangis mungkin adalah refleksi yang jelas dari semua itu.

Manusia diciptakan untuk saling mencintai siapapun, tapi hanya segelintir orang beruntung yang bisa memiliki cinta yang dicintainya. Tapi pada akhirnya waktu akan menuntun cinta untuk bertemu cinta yang pantas dan memang diperuntukan untuknya.

To fall in love is easy, to stay in love is an option..

I stayed, you left.

So now, i decide to leave.

Tuhan bantu aku mengikhlaskanmu..

Tuesday, May 21, 2013

Dari hati kepada hati..


Di siang yang cerah, di sela rehatku, sebuah bunyi menyelaku, aku buru-buru melihatnya..
Siang ini kamu muncul di layar telepon genggamku, aku terkejut dan bahagia, dengan semangat aku berusaha untuk menjawabnya segera hingga akhirnya dunia ku berhenti beberapa detik.
Hatiku saling beradu kata,

“Kamu ingin melukai dirimu? Lagi? Sudah lupakah kamu akan caranya menghancurkan kepingan hati dan remah-remah harapmu?’

“Aku rindu, biarkan suaranya menyesap kedalam telingaku untuk sekedar mengobati debar rindu ini”

“Debar rindu? Racun rindu maksudmu? Yang membuatmu kerap terlalu banyak mentolerir luka yang kamu buat sendiri. Kamu buta!”

“Cintaku tidak buta, cintaku penuh dengan toleransi”

“Toleransi pada luka yang membuatmu serapuh sekarang!”

“Juga luka yang membuatku sekuat ini!”

“Sekuat ini? kuat yang mana maksudmu? Ringisan tangis di sela mimpimu? Sesak yang selalu kamu tahan saat dia melintas di memorimu? Hembusan nafas panjang yang kamu buang saat rindumu berakhir tak terbalas? ITU YANG KAMU BILANG KUAT??!”

“Aku..”

“Cukup dengan lalaimu, buang jauh-jauh bagianmu yang tanpa sadar menikmati luka..”

“Bukankah kamu adalah aku? Mengapa kamu melukaiku seperti ini?”

“Justru karena aku adalah kamu, maka aku ingin melindungimu, melindungi diriku sendiri atas luka yang sudah terlalu sering terrepetisi. Aku lelah tesakiti lalai”

“Maafkan aku..”

“Pernahkah kamu pikir jika usahamu mengejar rindu juga melukaiku? Apa yang kamu dapat dari mengejar rindunya? Kecewa!”

“Aku butuh obat untuk rinduku..”

“Ya, aku mengerti, tapi bukan obat yang menyembuhkan saat ini lalu membunuhmu perlahan dengan harapan kosong, jangan egois! Dunia kita bukan hanya tentang kita! Bukan hanya tentang bagaimana membuat diri kita bahagia, tapi juga bagaimana agar mencegah pihak lain terluka..”

“Bukan kah jika aku bahagia, kamupun bahagia?”

“Ya, aku pun bahagia! Tapi saat kamu hancur, semua ikut tersakiti.. pernah kamu bertanya pada mata seberapa lelah ia menahan tangis? Pernah kamu bertanya pada mulut seberat apa dia mengunci lisan? Pernah kamu bertanya pada para jemari tentang sakitnya mereka saat dikekang oleh sebuah kepalan kesal? Pernah kamu tanya pada otak bagaimana hancurnya saat logika (lagi-lagi) dikhianati? Pernahkah kamu bertanya tentang kebingungan kaki yang membawa langkah yang patah? PERNAH KAMU PIKIR KAN ITU?!

“Aku.. maafkan aku..”

Lalu aku pun mengurungkan niatku untuk menjawab teleponmu, membiarkan wajahmu muncul di layar telepon genggamku hingga akhirnya putus dan menghilang. Aku menyayangimu, masih sama seperti dulu, masih sama sebesar dulu, hanya bedanya sekarang aku pun menyayangi diriku sendiri.



Andika Winchester Saputra

Thursday, May 16, 2013

Untuk sudut-sudut kota Bandung..


Selamat malam, Bandung.

Izinkan panca inderaku bermufakat dengan hati untuk sekedar mendeskripsikan apa rasaku tentangmu, yah minimal untuk malam yang sakit ini.

Bandung, udaramu yang kuresap saat aku memaknai setiap petemuan dan perpisahan, belai lembutmu yang membuatku mensubsitusi kata kehilangan menjadi sebuah inspirasi.

Bandung, lembaranmu terisi pun dengan ketukan masa indahku, saat-saat aku mengenal suatu getaran hati yang berpotensi membuatku bodoh. Kata orang itu namanya cinta.

Bandung, di salah satu sudutmu, aku bertemu gadis(ku), pengisi rona bahagiaku untuk sekian lama.

Bandung, malammu menjadi saksi pandangan yang bertemu, hati yang akhirnya beradu dalam setia yang tak lama menjadi sendu.

Bandung, langitmu menjadi saksi akan kening yang terkecup, akan senyum yang tersungging dalam setiap irisan bahagia dan setiap serpihan yang bertebaran tak tentu arah saat sesosok yang bernama hati itu patah.

Bandung, tempat aku memupuk rasa, tempat kami merangkai benci dan berpisah tanpa kata. Sesungguhnya bukan itu alasan Tuhan menciptakan sunyi, bukan untuk meninggalkan cinta di sudut gelap tanpa segigit kejelasan.

Bandung, kau adalah dimana setiap langkahku mendekatkan ragaku padanya, setiap langkah menjauhkan rasaku padanya.

Bandung, pesonamu mengingatkanku akan hati yang terjebak diantara dua rasa, dikuliti rasa rindu atau dibunuh perlahan oleh realita. Di kota ini aku merasakan takut kehilangan yang amat sangat akan sesuatu yang tidak pernah benar-benar kumiliki.

Bandung, dalam malammu, mimpiku bukan lah akhir dari kepahitan realita, tapi awal dari kesakitan aniaya bunga tidur.

Bandung, aku tak pernah berselingkuh dengan ibukota, karena hati ini tak pernah berpaling dari sejuknya indahmu. Walau kadang remah luka datang menusuk dari setiap sudut kenangan di kota itu, aku tak pernah ingin membiarkan sosok itu mengalahkan cintaku terhadap Bandung.

Bandung, rotasi hidupku di ibukota membuatku sadar seberapa berharga setiap langkah yang aku bagi dalam setiap meter jalananmu, jalanan yang kadang berisi serpihan rindu sisa asa yang tak lagi mencinta, walau kadang setiap langkahku semakin jauh mengikatku dalam ambiguitas perasaan antara dimanja rasa sakit atau dicintai rasa benci.

Bandung, sudut indahmu menyajikan firdaus bagi para pujangga, bukan hanya untuk mereka yang mencintai rindu, tapi pun untuk mereka yang merindukan cinta. Ya seperti aku, mungkin.

Bandung, didekapmu aku ingin meyusun (lagi) ceceran kepingku, dan kau gadis, ambilah sisa kepingan rasamu dan pergilah.

Bandung, tempatku menemukanmu, tempat aku kehilanganmu..

Bandung tempatku kehilangkanku, tempat aku (kembali) menemukanku.

Andika Winchester Saputra

Kita ialah kata yang terlambat tercipta..


Melihat layar telepon genggam menjadi rutinitasku saat senggang menyapa, gerakannya tak berubah, hanya mengetik lalu menghapus, mengetik kembali, diselingi ragu, lalu menghapusnya kembali, hingga akhirnya pesan tersebut hanya berakhir dalam kotak sesal.

Melihat aksaramu menghiasi layarku, kata demi kata yang pernah untukku, perlahan berpindah menuju kepadanya. Tawa serta senyum  yang kurindukan dalam sunyi kini tak lagi merindukan.
Kehangatan itu, kesenangan itu, perasaan itu yang akhirnya menguggahku untuk melangkah.
Kamu alasanku untuk melangkah, kamu alasanku meninggalkan asa semuku yang selama ini terlalu kutinggikan.

Mungkin salahku melakukannya dalam diam,
Mungkin tak seharusnya hanya kurindukanmu dalam sunyi,
Walau aku hanya ingin memastikan ruang ini sudah layak untuk kau huni,
Mereka benar, sunyi dapat terlihat sebagai banyak hal.
Sunyi kadang terlihat sebagai penerimaan,
Sunyi kadang terlihat sebagai penolakan,
Sunyi kadang terlihat sebagi tanda meragu,
Walau terkadang sunyi itu adalah caraku untuk melindungimu, dari harapan yang mungkin menyakitimu.
Di pertemuan singkat itu, kita jatuh hati, kita saling menghamba rindu walau seringkali masih tertahan dalam kelu.
Sekilas aku masih mencium wangimu dalam  ruangku, mengorek rindu yang ternyata masih berbekas, mengiris hati yang ternyata masih berharap, memori berputar tentang detik kita cara kta menghabisi rindu.

Entahlah, hanya remah sesal yang tersisa..
Seharusnya sudah banyak kata rindu yang kubisikan padamu,
Entah berapa dekap yang ingin ku landaskan di ragamu,
Tentang kata sayang yang tak jauh lagi untuk memintamu, untukku.
Sikap diamku menamparku lagi, sisi sunyiku menghukumku lagi,
Dengan kehilangan demi kehilangan,

Aku menyesal, kehilanganmu di saat mulut ini mulai mengucap.

Tapi aku tak pernah menyesal menjatuhkan hati, karena aku tahu, aku tak jatuh pada hati yang salah. Hanya waktunya saja yang salah. Ya waktunya saja.

Kesemua yang tak sempat ku ungkapkan, kesemua yang tak tepat ku katakan, yang tak usai kujalani yang tak ingin ku ingkari dan semua..” -Marcell

Tuesday, May 14, 2013

Wisata Bandung: A paradise is not so far away


Senja di teras rumah disajikan dengan seiris ide dan secangkir kopi tua dari pinggiran banceuy..

Tuhan tersenyum saat menciptakan Tatar Pasundan

Bandung..

Siapa yang pernah menyangka kota yang dimulai dengan “Zorg,dat als ik terug kom hier een staad is gebouwd” dari seorang Herman willem Daendels akan menjadi kota yang sangat dicintai seperti sekarang? Dari sebuah tongkat yang terpancang pada abad 18 menjadi kota yang indah seperti sekarang. Banyak imaji yang menari di pikiran saat kita mendengar kata “Bandung”.

Gedung Sate, menyambut kedatangan anda dengan tegap, menawarkan kemegahan akan sejarah Kota Bandung. Bermanjalah padanya, naiki pundaknya dan anda akan menemukan bahwa secara indah Gedung Sate ini dibangun agar seporos dengan Vila Isola di Ledeng dan Gunung Tangkuban Parahu di Lembang.

Penuhi Bandung dengan langkahmu dan biarkan ia membelaimu dengan kesejukannya. biarkan ia membimbingmu ke sebuah sebuah kepingan kemewahan masa lalu bernama “Braga” dimana bangunan tua masih gagah berdiri menjajakan nostalgi akan kota yang tak pernah padam dan rasakan jejakmu menapak tilas kemewahan masa lampau. Jangan lupa manjakan seleramu dengan sajian kuliner dengan resep puluhan tahun dimana saat bersamaan trotoar yang menjadi etalase seni lukis jalanan tak pernah jenuh menghibur inderamu, miliki perasaan itu di jalan yang panjangnya hanya 700 meter ini. Masih banyak bangunan bersejarah dengan akulturasi desain dan model bangunan yang beragam, khususnya Art Deco. Ini yang membuat Bandung menjadi Kota peringkat 3 terbanyak yang memiliki bangunan bergaya Art Deco setelah Miami di Florida dan Napier di Selandia Baru.

Wisata Bandung tidak hanya berupa untaian indah masa lalu, berpalinglah sejenak pada indahnya modernitas, dimana segala kesenangan bisa dirangkum dalam satu ruangan luas. Coba bagi langkahmu ke Trans studio Bandung dimana segala bahagia dikemas dalam satu ruangan besar yang dibungkus keajaiban. Luapkan tawamu, keluarkan teriakanmu di Racing Coaster, lepaskan segala penatmu dengan memasrah pada ayunan Giant Swing, pacu adrenalinemu dengan berjalan di Dunia Lain, semua kesenangan dan emosi dalam satu ruangan. Dunia ajaib.


“Parijs Van Java”, banyak alasan kenapa Bandung dijuluki demikian, kecantikan kota dan mojangnya yang setara, udaranya yang sejuk hingga Bandung sebagai pusat mode. Untuk alasan yang terakhir, sangat terlihat jelas hingga saat ini dimana Bandung merupakan kiblat industri kreatif dari mode hingga musisi. kreatifitas yang tak berbatas ini yang menjadikan Bandung sebagai pusat mode dimana Factory Outlet dan Distro berkualitas dapat ditemui dengan mudah, yang menjadikan Bandung sebagai surga belanja.

Lelah dengan keramaian, dan membutuhkan sedikit “Eargasm” coba kunjungi Saung Angklung Udjo dan mulai buai telingamu dengan alunan tangga nada salendro yang khas. Jika orang bilang tidak mengenal maka tidak sayang, disini anda akan diajak untuk mengenal angklung dengan mulai belajar untuk memainkannya, satu nada dari goyangan angklung akan membuat anda mengerti kenapa alat musik ini menjadi warisan dunia.

Bandung sebagai pemuas panca indera anda, rasanya tidak lengkap jika indera pegecap kita tidak ikut untuk dimanjakan, Surga kuliner, dimana makanan pinggir jalan hingga makanan bintang lima sama berkualitas. Makanan disini akan membuat anda berkata lebih dari sekedar “Finger Lickin’ Good” nya salah satu restoran siap saji, tetapi akan membuat anda lebih mencintai dan mendalami selera nusantara daripada hanya sekedar berkata “i’m lovin’ it”.

Kawan..
Untaian kata tidak pernah cukup untuk menjelaskan Indahnya Bandungku, begitu juga pinangan rasa dalam tulisan ini hanya dapat membimbingmu melewati imajinasi. Kunjungi Bandungku, jadikan ia Bandungmu juga, berpasrahlah di bawah keindahan Bandung kita dan resaplah pesonanya dalam-dalam, pesona yang kelak kamu rindukan dan akan membawamu kembali ke Kota ini lagi.

a paradise is not so far away.. its called Bandung

Cintai Kotanya, Lestarikan Keindahannya..

Monday, April 1, 2013

Tanggal ini, setahun kemarin,


Selasa, 2 April 2013..

Pagi ini aku terburu mengejar waktu, aku menaiki metromini yang sesak, terduduk dengan paksa dengan sedikit mendumel tentang pengamen yang berandil mengurangi spasi nyamanku, hingga akhirnya kusadari lagu apa yang sedang mereka mainkan,

"Andaikan detik itu
Kan bergulir kembali
Kurindukan suasana
Basuh jiwaku
Membahagiakan aku
Yang haus akan kasih dan sayangmu"

Kenanganku melayang, meluaskan pikiran dari sekedar memikirkan sempitnya hari, aku mengawang tentangmu, ayah.
Tanggal ini, setahun kemarin, terakhir kali aku melihatmu..
Tanggal ini setahun kemarin, kali terakhir aku mencium tanganmu untuk pamit ke ibukota..
Tanggal ini setahun kemarin, aku masih berapi-api menceritakan bagaimana bulan pertamaku di kantor baruku..
Tanggal ini setahun kemarin, aku masih kau hujani dengan harapan dan doa-doa..
Tapi ternyata hari ini setahun kemarin, adalah hari terakhirku melihatmu, setidaknya hingga hari ini..

Entah berapa kali aku kembali ke naung yang kusebut rumah, namun tak kunjung kutemui lagi sosokmu disana.
Hanya kutemui foto-fotomu dengan kenanganku tentangmu yang hampir habis kuingat..
Sisi lain ranjang mamaku yang sekarang kosong,
Dan sekotak tissue di samping sajadah yang setia menemani tangis mamaku ketika merindukanmu.

Tanggal ini setahun kemarin,
Kita bahagia dalam kebersamaan..
Masih terdengar canda diantara kejenuhan rutinitas..
Ya, tanggal ini setahun kemarin..

Tuhan punya rencana atas kepergianmu, seperti dulu Dia punya rencana atas kehadiranmu.

Tanggal ini di hari ini,
Aku merindukanmu, aku tahu aku menyayangimu.. Tapi aku lebih memilih melampiaskan dalam diam atau berteriak lantang dalam sunyi doa.
Tuhan.. Aku sudah lama terbiasa dikecewakan oleh sosok berfigur ayah, papa, bapak atau apapun itu mereka biasa menyebutnya.

I'm fine :)

Andika Winchester Saputra

Monday, March 18, 2013

Senja dari meja kerjaku..


Penatku mendaki puncaknya saat matahari mulai condong, matahati renta yang tak henti meronta melawan usia. Senja datang.

Aku masih terduduk setia menontonmu melalui layar jendela kantorku, semburat jingga mu menembus setiap rongga para pencakar langit, membuat para bangunan buruk itu terlihat cantik.
Mereka yang merasa dirinya megah mencapai langit, seakan menunduk pada keanggunanmu, cahayamu hangat dilihat dan hangat di rasa. Ribuan lampu jalan dan lampu gedung bersekutu mempersolek diri, tapi tak terlihat di antara senyum cantikmu, wahai senja.

Pada jam-jam itu, aku tak pernah ingin melihat ke bumi, karena bumi dipenuhi lampu yang penuh sesak memperebutkan seutas jalan.
Pada masa-masa itu, aku tak pernah ingin melihat ke bumi, karena bumi dipenuhi riuh egoisme berbalut bunyi klakson. Sempit oleh ketiadaan ruang empati yang terhalang kelambu individualis.

Aku memilih melihat langit senja yang tanpa batas, dimana awan masih menari bersama sahabatnya, berlatarkan cantiknya langit senja yang seakan mentertawakan keangkuhan kosong para penjejak bumi. Langit itu selalu menjadi tempat melelehnya lelah, hangat itu selalu menjadi titik netral emosi hariku.
Aku memilih melihat detik-detik sang surya berpulang ke pelukan ufuk, untuk membagi sinarnya kebelahan dunia lain. Detik singkat yang menyajikan keindahan, seakan-akan pintu surga tak sengaja terbuka oleh khilaf malaikat.

Tak jarang kubiarkan lamunku melayang bebas menari dengan gumpalan awan, menembus satu demi satu masa yang telah lewat dan bermanuver liar menuju masa depan yang menjadi asa. Aku membiarkannya bebas disana sebelum akhirnya ia kembali pada tumpukan rutinitas.

Liukan awan di layar senja seakan membuka gerbang malam, melepaskan milyaran bintang dari sangkar siang dan melukiskan indahnya langit malam. Singkat pesonamu menetralkan keangkuhan sang siang dan menjadikan sang malam lebih siap untuk ku sambut.

Mungkin itu alasan Tuhan menyisipkanmu di antara mereka, Senja..

Wahai senja, terimakasih atas kehadiranmu yang selalu menyajikan pemandangan elokmu untuk ku nikmati dari kaku nya meja kerjaku.

Salam,

Segenap panca indera

Wednesday, February 20, 2013

Doa yang berakhir dalam sebuah amplop.

Di tengah riuh ramai para penonton, aku termenung melihat layar telepon genggamku, hilang minat ku terhadap film yang sedang diputar, mataku tak lepas dari pesan demi pesan yang masuk darimu, hatiku tak berhenti dari luka yang terus menusuk dari setiap kata yang kubaca.
Kesalahpahaman itu lagi, yang lagi dan lagi berbuah prasangka,
Seolah semesta berusaha menunjukan jalan..
Logika bermufakat dengan hati untuk tak lagi saling menyakiti, memang seharusnya begitu.

Doa yang kurangkai, aamiin yang terucap tulus..
Kata-kata yang seharusnya meluncur saat ulang tahunmu..
Lutut yang seharusnya bersimbah didepanmu dan aksara yang seharusnya terucap untuk memintamu..
Akhirnya semua berakhir dalam sebuah amplop.

Semua kenangan dan harapan,
Semua peluh dan usaha,
Semua tangis dan airmata,
Semua cinta dan rasa rindu,
Pergi dalam ruang sempit sebuah amplop.

Kita tidak cukup baik untuk bersama, mungkin sudah saatnya kita tidak saling merindu (jika memang saling).
Sudah saatnya kita tidak saling mengharapkan (lagi-lagi jika saling) *sigh*
Sudah saatnya kita berhenti melawan kehendak semesta..

Bukan menyerah, hanya realistis..
Aku dan kamu, akan tetap menjadi itu dan takkan pernah menjadi kita.
Pun saat dulu sempat menjadi kita, ada ke akuan yang kentara di dalamnya.

Terimalah semua rasaku itu,
Rasa yang kujaga,
Rasa yang selalu kaulukai dengan prasangka,
Terimalah semua niatanku untukmu,
Niat untuk meminangmu,
Niat yang tak henti kau hujam dengan ketidakpercayaan.
Hari ini, kubungkus rapi semua, kukirimkan padamu dan takkan pernah kuingat lagi.
Terimalah semua, dalam sebuah amplop.

(Disini pernah selalu tertulis "Love")
Andika Dwi Saputra

Monday, February 18, 2013

Rasa yang memohon pamit..


"I want you to know how I feel about you
I must show
What to do everytime you are near
All the girls, who try and take your place
It's impossible
They don't matter
'Cause I'm inlove with you
'Cause you are The love of my life"

Lagu ini pernah kubisikan padamu 7 tahun lalu saat aku datang padamu, bukan untuk memintamu menjadi milikku, tapi mengajukan diriku untuk menjadi bagian hidupmu.
Tahun demi tahun berlalu, hingga aku disandera lamunan disini dan kau terdiam disana, dimana hati tak lagi satu karena ego yang tak kunjung melarut.

Perpisahan demi perpisahan telah kenyang dilewati, segala nada tawa dan urai airmata telah banyak dilewati, dimana kita percaya bahwa cinta selalu lebih besar dari itu semua. “we are not created to be separated”,itu yang selalu kita bilang saat kita pulih dari luka.

Hingga akhirnya kita berpisah dalam sunyi. Berbalik tanpa penjelasan, menjauh kan raga, mengasingkan rasa. Khianat katamu menghancurkan asaku, yang dulu kupikir adalah asa kita.
Sore ini aku termenung di tengah cuplikan video yang telah kukumpulkan untukmu, doa mereka, harapan mereka dan aamiin mereka untuk kita,merinding aku melihat doa demi doa yang dilantunkan teman-teman kita, terharu kumelihat setiap aamiin yang terucap dari lisan mereka akan doaku untukmu, untuk kita.

Matahari terbit di awal 25 ku menjadi saksiku memintamu,ironisnya matahari terbenam di awal 25 ku menjadi saksi bagaimana sikapmu menyakitiku (lagi). Rasa yang selalu kuangungkan, wanita yang selaluku banggakan menyakitiku dengan prasangka.

Setiap kata mu menusukku dalam, setiap lisanmu melukai rasa yang selalu kujaga rapat, sikapmu menghancurkan niat yang selalu kudekap, saat kau tahu jelas bagaimana hati ini setia berkiblat kepadamu, kau menyakitiku dengan segala sangka tentang keberpalingan hati.

Gadis, kau hanya belum mengerti berapa hati yang kuacuhkan untuk sekedar menjaga rasaku untukmu.

Gadis, kau hanya belum menyadari berapa langkah yang kutahan hanya untuk menunggumu mendekat.

Gadis, kau hanya belum mengetahui berapa besar halangan yang kuperangi untuk sekedar menjaga niatan setiaku akan jawabmu.

Gadis, kau hanya belum tahu berapa banyak hati yang taksengaja kusakiti karena terlalu membanggakanmu, yang ternyata semu.

Gadis, kau hanya belum tahu bagaimana aku menghindari pesona dengan meninggikan rasaku untukmu.

Gadis, kau hanya belum tahu seberapa terbiasanya aku membatasi hati, hingga akhirnya aku lupa bagaimana rasanya rindu dan jatuhcinta selain kepadamu.

Ya Gadis, mungkin memang kau takkan pernah tahu..

Hari ini, kuserahkan semua yang telah kubuat, tidak sempurna memang, mungkin itu pun representasi harapanku padamu. Tidak sempurna.

Aku akhirnya tahu apa yang membuatku bertahan, dan akhirnya aku pun tahu apa yang membuatku harus pergi.

Aku pamit, Gadis.
Tuhan akan bantu aku mengikhlaskanmu.

Love,
Andika Saputra

Monday, February 4, 2013

Untukmu, Mbok..


Jakarta, 4 Februari 2013

Hari ini masih berjalan seperti biasa, rona macet masih bersenandung di jalanan.
Para kerah putih masih berkutat dengan angka dan para kerah biru masih bertarung dengan peluh.
Semua masih berotasi pada poros normalnya.

Hingga akhirnya, sebuah pesan singkat di telepon genggamku mengacau rotasi hari,
Sebuah kabar duka tentang sosok wanita kuat yang dikhianati zaman,
Wanita tua yang ditinggal belahan jiwa, wanita yang tidak pernah mengutuk waktu.

Mbok, biasa aku memanggilnya, aku tak pernah tau nama aslinya, yang ku tau hanyalah ulasan senyumnya yang dia pilih untuk menghadapi dunia.
Alih-alih menyalahkan hidup, dia lebih memilih untuk berdamai dengan takdir dan menjalaninya dalam cinta.

Mbok, aku masih ingat sajian yang selalu kau beri padaku setiap sahur datang, dalam keterbatasanmu, engkau menyanyangi kami seperti anakmu sendiri, mungkin itu cara mu mensubsitusi rasa rindumu terhadap anakmu yang (secara kasat mata) tak pernah ada. Hanya Tuhan yang tau.

Mbok, masih segar di ingatanku bagaimana cerianya kau berceloteh tentang masamu, saat kau arungi hidup sebelum akhirnya berakhir terduduk di kursi kesayanganmu.

Mbok, hidupmu adalah definisi kebersahajaan, hidupmu adalah sinonim dari rasa bersyukur dan antitesis dari segala buruk hati. Seorang wanita yang memilih untuk berpegang pada teguh diri, menjalani gilasan roda hidup dengan kebaikan hati.
Mbok, dalam petak kecilmu, tak jarang kami lihat kau termenung, sepi, senyum mu terlelap dalam sunyi, entah mungkin kau sedang bertanya pada hidup atau memasrah pada rindu. Saat lamunmu terusik kembali rekah senyummu memancar.

Mbok, di akhir aku melihatmu, kau masih setia duduk di sudutmu, berdagang seadanya dengan kilauan rasa ikhlas. Entah berapa kali kau menyembunyikan rasa sedihmu dalam ketus lisanmu atau langkah menjauhmu, tapi kami tau itu caramu mencegah dirimu terlihat lemah, untuk setiap jengkal hidup yang pernah dilewatinya rasanya wajar ia tak lagi mau terlihat lemah.

Mbok, pikiranku masih melayang diantara saat langkah tertatihmu menahan sakit, masih menangis diantara bayangan dirimu dan ruang kotak di sudut tempat itu,di perlintasan jalan kecil tempatmu menyandarkan hidup, hidup yang selalu mampu kau syukuri walau entah berapa kali ia mengecewakannya, hingga akhirnya hidup itu sendiri yang pergi darimu.

Mbok, kebaikan dan ramah sapamu meninggalkan jejak manis di setiap orang yang melintas di jalan kecil itu, meninggalkan rasa sayang kami kepadamu, kami sayang akan sosokmu, tapi Tuhan lebih sayang padamu, Dia rindu memelukmu, Dia ingin berbagi damai denganmu, Mbok.

Tangis kami mengiringi kepergianmu, Mbok..

Ya aku menangis hari ini, Mbok..
Di ujung telepon saat ku kabari orang-orang yang menyayangimu.
Aku berkeras menahan isak, mejejak kuat-kuat kelopak mataku agar tak jatuh air mataku.

Selamat jalan, Mbok..
Istirahat dengan tenang disana, hiburlah Tuhan dengan senyum tulusmu.

Love,
Andika Saputra


Thursday, January 3, 2013

Saat hati lupa cara nya jatuh hati..


Kata orang mata tak dapat berbohong, Ya.
Tapi ternyata mata dan sekumpulan indera tidak cukup tangguh untuk meruntuhkan pendirian hati.
Terhadap sosok yang mengalun di ambang pintu, mengetuk pintu dengan irama indah.
Dia terus mengetuk, bukan untuk masuk, dia mengetuk pintu dengan irama ikhlasnya hanya untuk menghibur sosok di balik pintu yang jauh terjebak didalam imajinasi logika. Gelap. Tenggelam.

Sosok teduh yang membius segala alasan logis untuk mencintai, atas segala sikap yang dapat membuat logika ku jatuh hati.
Tapi sayang, untuk mengucap “logika yang jatuh hati” saja rasanya sudah  terlalu absurd.
Segala pesonamu adalah alasan absolut untuk membuat setiap desir panca indera jatuh cinta, lengkung senyummu cukup untuk membuat hariku cerah, gelak tawamu cukup untuk menaklukan rasa suntuk.

Tapi hatilah yang memilih, hati lah yang dipilih. Hati lah yang saling memilih.
Tak jarang aku lama melihat punggungmu yang menjauh, hanya untuk meresapi setiap milidetik yang berlalu lambat, sekedar mencari-cari alasan kenapa bukan padanya hati ini takluk?
Seringkali pun aku berusaha menangkap setiap mimik rupamu, kulipat baik-baik dalam kotak kenangan, untuk mungkin kelak akan kubuka dalam penyesalan.

Perasaanku terlanjur kusut, dalam semesta hati yang terlalu luas untuk mencari sebab, dengan segala kompleksitas hati yang kadang terlalu gamang untuk ku ingat.
Hatiku mungkin terlalu sibuk berusaha memaafkan dirinya, sehingga lupa bahwa tugas utamanya adalah mencintai.
Hati ini terlalu sulit untuk berdamai dengan perasaan bersalah, karena memaafkan orang lain terkadang jauh lebih mudah daripada memaafkan diri sendiri.
Semoga dia cepat pulih, sebelum akhirnya dia benar-benar lupa caranya mencintai. Mati.