Papa, malam ini rindu menyapaku lagi..
Aku pikir aku telah merelakanmu, tapi ternyata residu rindu
masih banyak lekat membekas di setiap sekat jiwa.
Memaafkanmu itu sulit, tapi berusaha kulakukan walau butuh
belasan tahun hingga akhirnya aku mengangguk pada keikhlasan.
Aku pikir memaafkanmu adalah hal tersulit yang hidup berikan
kepadaku tentangmu, ternyata ada yang sangat jauh lebih sulit,
Ya, berusaha tidak menyayangi dan merindukanmu itu ternyata
bagian tersulitnya.
Entah berapa juta kali hatiku tetap menggeleng pada
keinginanku untuk menyayangimu,
Entah berapa juta kali ego ku mendorong rasa rinduku jauh
jauh dari kenyataan,
Sebuah pilihan hidup, mungkin itu yang bisa kubilang tentang
ketiadaan ini, sebuah pilihan hidup yang dulu papa ku pilih dengan sikapnya
lalu dengan sadar kulanjutkan.
Kita pernah tidak bahagia berada dalam satu rasa, maka kau
pilih untuk melangkah pergi diantara peluh caci dan kebencian yang membuncah. Aku
masih disana, menunggu melihat punggungmu menjauh dan akhirnya menghilang.
Bertahun aku tetap berdiri di titik yang sama, melewati hari
demi hari dengan mata yang sama dengan mata yang melihat punggungmu untuk
terakhir kalinya, aku masih terpaku dengan harap yang sama, dengan harap akan
ada sosok yang muncul dari kabut itu mengenggam sebuah maaf.
Dan hari itu tak pernah datang..
Aku berbalik dan melangkah memunggungi jejakmu, mencipta
jejakku sendiri, berusaha mencari sosokmu dalam berbagai bentuk, berusaha
merangkai peranmu dalam berbagai versi, aku mengarang tentang seperti apa
dirimu.
Garis hidup membawa guratan kisahku kembali bersinggungan
dengan garismu, aku melihatmu dari jauh,
diselingi bising kendaraan yang melintas, kamu diseberang jalan sana bersama
keluargamu, ya, keluargamu yang tanpa aku di dalamnya.
Aku melihat senyum itu, senyum yang dulu untukku, senyum
yang dulu bisa kusaksikan dari jarak peluk, kini hanya kusaksikan dari seberang
jalan.
Aku melihat semangat itu, semangat yang dulu hadir untuk
kami. Kini menyala lagi untuk orang lain.
Aku melihat bahagia itu, bahagia yang mungkin tak pernah dia
dapatkan dari kami. Hadir lagi karena alasan yang mungkin tak pernah bisa kami
beri.
Detik berlalu, kau melangkah pergi mengendong perempuan
kecil yang mereka bilang buah hatimu, kau kembali menjauh, punggung itu
menyeretku tanpa ampun ke masa dimana terakhir kali aku melihat punggung itu
menjauh dari lensa airmataku.
Ini pilihanku, Papa.
Ini pilihan untuk tidak lagi menjadi kata “tidak” diantara “kebahagiaanmu”
Ini pilihanku untuk melepaskanmu ke dunia bahagiamu, yang
sayangnya tak pernah ada aku di dalamnya.
Jalani bahagiamu, Papa.
Waktu yang Tuhan beri untuk kami bersamamu mungkin hanya
sedemikian.
Setiap doaku adalah cara tersunyiku untuk merindukanmu.
Love,