"Aku kehilangan kata disaat ku kehilangan cinta.. Sekarang aku mulai belajar mencintai kata.. Agar aku ingat rasanya mencintai cinta..."

Tuesday, May 21, 2013

Dari hati kepada hati..


Di siang yang cerah, di sela rehatku, sebuah bunyi menyelaku, aku buru-buru melihatnya..
Siang ini kamu muncul di layar telepon genggamku, aku terkejut dan bahagia, dengan semangat aku berusaha untuk menjawabnya segera hingga akhirnya dunia ku berhenti beberapa detik.
Hatiku saling beradu kata,

“Kamu ingin melukai dirimu? Lagi? Sudah lupakah kamu akan caranya menghancurkan kepingan hati dan remah-remah harapmu?’

“Aku rindu, biarkan suaranya menyesap kedalam telingaku untuk sekedar mengobati debar rindu ini”

“Debar rindu? Racun rindu maksudmu? Yang membuatmu kerap terlalu banyak mentolerir luka yang kamu buat sendiri. Kamu buta!”

“Cintaku tidak buta, cintaku penuh dengan toleransi”

“Toleransi pada luka yang membuatmu serapuh sekarang!”

“Juga luka yang membuatku sekuat ini!”

“Sekuat ini? kuat yang mana maksudmu? Ringisan tangis di sela mimpimu? Sesak yang selalu kamu tahan saat dia melintas di memorimu? Hembusan nafas panjang yang kamu buang saat rindumu berakhir tak terbalas? ITU YANG KAMU BILANG KUAT??!”

“Aku..”

“Cukup dengan lalaimu, buang jauh-jauh bagianmu yang tanpa sadar menikmati luka..”

“Bukankah kamu adalah aku? Mengapa kamu melukaiku seperti ini?”

“Justru karena aku adalah kamu, maka aku ingin melindungimu, melindungi diriku sendiri atas luka yang sudah terlalu sering terrepetisi. Aku lelah tesakiti lalai”

“Maafkan aku..”

“Pernahkah kamu pikir jika usahamu mengejar rindu juga melukaiku? Apa yang kamu dapat dari mengejar rindunya? Kecewa!”

“Aku butuh obat untuk rinduku..”

“Ya, aku mengerti, tapi bukan obat yang menyembuhkan saat ini lalu membunuhmu perlahan dengan harapan kosong, jangan egois! Dunia kita bukan hanya tentang kita! Bukan hanya tentang bagaimana membuat diri kita bahagia, tapi juga bagaimana agar mencegah pihak lain terluka..”

“Bukan kah jika aku bahagia, kamupun bahagia?”

“Ya, aku pun bahagia! Tapi saat kamu hancur, semua ikut tersakiti.. pernah kamu bertanya pada mata seberapa lelah ia menahan tangis? Pernah kamu bertanya pada mulut seberat apa dia mengunci lisan? Pernah kamu bertanya pada para jemari tentang sakitnya mereka saat dikekang oleh sebuah kepalan kesal? Pernah kamu tanya pada otak bagaimana hancurnya saat logika (lagi-lagi) dikhianati? Pernahkah kamu bertanya tentang kebingungan kaki yang membawa langkah yang patah? PERNAH KAMU PIKIR KAN ITU?!

“Aku.. maafkan aku..”

Lalu aku pun mengurungkan niatku untuk menjawab teleponmu, membiarkan wajahmu muncul di layar telepon genggamku hingga akhirnya putus dan menghilang. Aku menyayangimu, masih sama seperti dulu, masih sama sebesar dulu, hanya bedanya sekarang aku pun menyayangi diriku sendiri.



Andika Winchester Saputra

Thursday, May 16, 2013

Untuk sudut-sudut kota Bandung..


Selamat malam, Bandung.

Izinkan panca inderaku bermufakat dengan hati untuk sekedar mendeskripsikan apa rasaku tentangmu, yah minimal untuk malam yang sakit ini.

Bandung, udaramu yang kuresap saat aku memaknai setiap petemuan dan perpisahan, belai lembutmu yang membuatku mensubsitusi kata kehilangan menjadi sebuah inspirasi.

Bandung, lembaranmu terisi pun dengan ketukan masa indahku, saat-saat aku mengenal suatu getaran hati yang berpotensi membuatku bodoh. Kata orang itu namanya cinta.

Bandung, di salah satu sudutmu, aku bertemu gadis(ku), pengisi rona bahagiaku untuk sekian lama.

Bandung, malammu menjadi saksi pandangan yang bertemu, hati yang akhirnya beradu dalam setia yang tak lama menjadi sendu.

Bandung, langitmu menjadi saksi akan kening yang terkecup, akan senyum yang tersungging dalam setiap irisan bahagia dan setiap serpihan yang bertebaran tak tentu arah saat sesosok yang bernama hati itu patah.

Bandung, tempat aku memupuk rasa, tempat kami merangkai benci dan berpisah tanpa kata. Sesungguhnya bukan itu alasan Tuhan menciptakan sunyi, bukan untuk meninggalkan cinta di sudut gelap tanpa segigit kejelasan.

Bandung, kau adalah dimana setiap langkahku mendekatkan ragaku padanya, setiap langkah menjauhkan rasaku padanya.

Bandung, pesonamu mengingatkanku akan hati yang terjebak diantara dua rasa, dikuliti rasa rindu atau dibunuh perlahan oleh realita. Di kota ini aku merasakan takut kehilangan yang amat sangat akan sesuatu yang tidak pernah benar-benar kumiliki.

Bandung, dalam malammu, mimpiku bukan lah akhir dari kepahitan realita, tapi awal dari kesakitan aniaya bunga tidur.

Bandung, aku tak pernah berselingkuh dengan ibukota, karena hati ini tak pernah berpaling dari sejuknya indahmu. Walau kadang remah luka datang menusuk dari setiap sudut kenangan di kota itu, aku tak pernah ingin membiarkan sosok itu mengalahkan cintaku terhadap Bandung.

Bandung, rotasi hidupku di ibukota membuatku sadar seberapa berharga setiap langkah yang aku bagi dalam setiap meter jalananmu, jalanan yang kadang berisi serpihan rindu sisa asa yang tak lagi mencinta, walau kadang setiap langkahku semakin jauh mengikatku dalam ambiguitas perasaan antara dimanja rasa sakit atau dicintai rasa benci.

Bandung, sudut indahmu menyajikan firdaus bagi para pujangga, bukan hanya untuk mereka yang mencintai rindu, tapi pun untuk mereka yang merindukan cinta. Ya seperti aku, mungkin.

Bandung, didekapmu aku ingin meyusun (lagi) ceceran kepingku, dan kau gadis, ambilah sisa kepingan rasamu dan pergilah.

Bandung, tempatku menemukanmu, tempat aku kehilanganmu..

Bandung tempatku kehilangkanku, tempat aku (kembali) menemukanku.

Andika Winchester Saputra

Kita ialah kata yang terlambat tercipta..


Melihat layar telepon genggam menjadi rutinitasku saat senggang menyapa, gerakannya tak berubah, hanya mengetik lalu menghapus, mengetik kembali, diselingi ragu, lalu menghapusnya kembali, hingga akhirnya pesan tersebut hanya berakhir dalam kotak sesal.

Melihat aksaramu menghiasi layarku, kata demi kata yang pernah untukku, perlahan berpindah menuju kepadanya. Tawa serta senyum  yang kurindukan dalam sunyi kini tak lagi merindukan.
Kehangatan itu, kesenangan itu, perasaan itu yang akhirnya menguggahku untuk melangkah.
Kamu alasanku untuk melangkah, kamu alasanku meninggalkan asa semuku yang selama ini terlalu kutinggikan.

Mungkin salahku melakukannya dalam diam,
Mungkin tak seharusnya hanya kurindukanmu dalam sunyi,
Walau aku hanya ingin memastikan ruang ini sudah layak untuk kau huni,
Mereka benar, sunyi dapat terlihat sebagai banyak hal.
Sunyi kadang terlihat sebagai penerimaan,
Sunyi kadang terlihat sebagai penolakan,
Sunyi kadang terlihat sebagi tanda meragu,
Walau terkadang sunyi itu adalah caraku untuk melindungimu, dari harapan yang mungkin menyakitimu.
Di pertemuan singkat itu, kita jatuh hati, kita saling menghamba rindu walau seringkali masih tertahan dalam kelu.
Sekilas aku masih mencium wangimu dalam  ruangku, mengorek rindu yang ternyata masih berbekas, mengiris hati yang ternyata masih berharap, memori berputar tentang detik kita cara kta menghabisi rindu.

Entahlah, hanya remah sesal yang tersisa..
Seharusnya sudah banyak kata rindu yang kubisikan padamu,
Entah berapa dekap yang ingin ku landaskan di ragamu,
Tentang kata sayang yang tak jauh lagi untuk memintamu, untukku.
Sikap diamku menamparku lagi, sisi sunyiku menghukumku lagi,
Dengan kehilangan demi kehilangan,

Aku menyesal, kehilanganmu di saat mulut ini mulai mengucap.

Tapi aku tak pernah menyesal menjatuhkan hati, karena aku tahu, aku tak jatuh pada hati yang salah. Hanya waktunya saja yang salah. Ya waktunya saja.

Kesemua yang tak sempat ku ungkapkan, kesemua yang tak tepat ku katakan, yang tak usai kujalani yang tak ingin ku ingkari dan semua..” -Marcell

Tuesday, May 14, 2013

Wisata Bandung: A paradise is not so far away


Senja di teras rumah disajikan dengan seiris ide dan secangkir kopi tua dari pinggiran banceuy..

Tuhan tersenyum saat menciptakan Tatar Pasundan

Bandung..

Siapa yang pernah menyangka kota yang dimulai dengan “Zorg,dat als ik terug kom hier een staad is gebouwd” dari seorang Herman willem Daendels akan menjadi kota yang sangat dicintai seperti sekarang? Dari sebuah tongkat yang terpancang pada abad 18 menjadi kota yang indah seperti sekarang. Banyak imaji yang menari di pikiran saat kita mendengar kata “Bandung”.

Gedung Sate, menyambut kedatangan anda dengan tegap, menawarkan kemegahan akan sejarah Kota Bandung. Bermanjalah padanya, naiki pundaknya dan anda akan menemukan bahwa secara indah Gedung Sate ini dibangun agar seporos dengan Vila Isola di Ledeng dan Gunung Tangkuban Parahu di Lembang.

Penuhi Bandung dengan langkahmu dan biarkan ia membelaimu dengan kesejukannya. biarkan ia membimbingmu ke sebuah sebuah kepingan kemewahan masa lalu bernama “Braga” dimana bangunan tua masih gagah berdiri menjajakan nostalgi akan kota yang tak pernah padam dan rasakan jejakmu menapak tilas kemewahan masa lampau. Jangan lupa manjakan seleramu dengan sajian kuliner dengan resep puluhan tahun dimana saat bersamaan trotoar yang menjadi etalase seni lukis jalanan tak pernah jenuh menghibur inderamu, miliki perasaan itu di jalan yang panjangnya hanya 700 meter ini. Masih banyak bangunan bersejarah dengan akulturasi desain dan model bangunan yang beragam, khususnya Art Deco. Ini yang membuat Bandung menjadi Kota peringkat 3 terbanyak yang memiliki bangunan bergaya Art Deco setelah Miami di Florida dan Napier di Selandia Baru.

Wisata Bandung tidak hanya berupa untaian indah masa lalu, berpalinglah sejenak pada indahnya modernitas, dimana segala kesenangan bisa dirangkum dalam satu ruangan luas. Coba bagi langkahmu ke Trans studio Bandung dimana segala bahagia dikemas dalam satu ruangan besar yang dibungkus keajaiban. Luapkan tawamu, keluarkan teriakanmu di Racing Coaster, lepaskan segala penatmu dengan memasrah pada ayunan Giant Swing, pacu adrenalinemu dengan berjalan di Dunia Lain, semua kesenangan dan emosi dalam satu ruangan. Dunia ajaib.


“Parijs Van Java”, banyak alasan kenapa Bandung dijuluki demikian, kecantikan kota dan mojangnya yang setara, udaranya yang sejuk hingga Bandung sebagai pusat mode. Untuk alasan yang terakhir, sangat terlihat jelas hingga saat ini dimana Bandung merupakan kiblat industri kreatif dari mode hingga musisi. kreatifitas yang tak berbatas ini yang menjadikan Bandung sebagai pusat mode dimana Factory Outlet dan Distro berkualitas dapat ditemui dengan mudah, yang menjadikan Bandung sebagai surga belanja.

Lelah dengan keramaian, dan membutuhkan sedikit “Eargasm” coba kunjungi Saung Angklung Udjo dan mulai buai telingamu dengan alunan tangga nada salendro yang khas. Jika orang bilang tidak mengenal maka tidak sayang, disini anda akan diajak untuk mengenal angklung dengan mulai belajar untuk memainkannya, satu nada dari goyangan angklung akan membuat anda mengerti kenapa alat musik ini menjadi warisan dunia.

Bandung sebagai pemuas panca indera anda, rasanya tidak lengkap jika indera pegecap kita tidak ikut untuk dimanjakan, Surga kuliner, dimana makanan pinggir jalan hingga makanan bintang lima sama berkualitas. Makanan disini akan membuat anda berkata lebih dari sekedar “Finger Lickin’ Good” nya salah satu restoran siap saji, tetapi akan membuat anda lebih mencintai dan mendalami selera nusantara daripada hanya sekedar berkata “i’m lovin’ it”.

Kawan..
Untaian kata tidak pernah cukup untuk menjelaskan Indahnya Bandungku, begitu juga pinangan rasa dalam tulisan ini hanya dapat membimbingmu melewati imajinasi. Kunjungi Bandungku, jadikan ia Bandungmu juga, berpasrahlah di bawah keindahan Bandung kita dan resaplah pesonanya dalam-dalam, pesona yang kelak kamu rindukan dan akan membawamu kembali ke Kota ini lagi.

a paradise is not so far away.. its called Bandung

Cintai Kotanya, Lestarikan Keindahannya..