Gadis,
Hari ini aku memintamu,
Dengan untaian sujud kata-kata, saat dimana poros logika dan perasaan bertemu.. Saat rasionalisasi perasaan benar terwujud..
Aku tak memintamu dengan berlutut, tapi yakinlah bahwa hatiku telah takluk..
Walau hanya hanya jawaban dalam ragu yang kudapat, akan kutunggu..
Tak pernah jenuh aku berucap sayang walau seringkali kudapati hanya layar yang berisi pesanku sendiri..
Harapan dan cinta ini bagai lipatan perahu kertasku, melepasnya dari sungai menuju samudera, walau tidak jelas kapan sampainya, tetap akan kutunggu..
Aku menunggu jawabmu seperti aku menunggu perahu kertasku tiba di samudra,
Walau mungkin ia tersangkut waktu, walau ia terbelah arus, walau aku tak tahu pasti bentuknya ia, apakah masih utuh atau hancur lebur.. Tapi aku menunggu.. Karena aku yakin ia akan sampai, sekecil apapun serpihannya.
Gadis, biarkan aku membagi hidupku dan menjadi bagian hidupmu..
Setelah lama kita berbagi suka bahkan menggores luka, mungkin saatnya kini kita bersatu dalam cinta..
Niat ini telah banyak melalui ya dan tidak dari mereka, tapi aku tak peduli.. Hati ini tetap bersauh ke arah mu, karena tak pernah sekalipun ini berubah arah..
Jadi lah sungai nil dalam Mesirku, Gadis..
Biarkan lipatan rindu kita terlipat rapi dalam perahu kertas kita yang takkan berhenti berlayar, selama hatiku untukmu dan hatimu untukku..
Dalam kesunyian harap dan kecintaan ku terhadap kamu dan calon kota-kota kecil kita..
Aku berbisik, "Aku ingin menikahimu, Gadis..."
Much Love,
Andika Saputra
"Aku kehilangan kata disaat ku kehilangan cinta.. Sekarang aku mulai belajar mencintai kata.. Agar aku ingat rasanya mencintai cinta..."
Wednesday, August 29, 2012
Thursday, August 9, 2012
Bandung.. we laugh, we love, we lie, we left, Life..
Perjalanan ke Bandung selalu ibarat memunguti remah kenangan,
Angka demi angka berubah dalam papan kilometer itu, semakin membuat hatiku ciut.. Membuatku takut untuk berhadapan dengan kota yang sangat kucintai itu.
Kenangan terkadang sangatlah kejam, hingga dapat merapuhkan kecintaan yang begitu dalam.
Sudut yang kau cintai bergantian menusukimu dengan kenangan indah yang justru sekarang terasa menyakitkan..
Pagi ini, aku mengirimkan pesan padanya, yang kutahu tak pernah sampai..
Lama kupandangi nomormu, berjuta rasa dan asa berkecamuk, bahwa jarak inderaku dan suaramu hanya sejauh satu tombol..
Aku tahu nomor itu sudah lama mati, mungkin itu cara yang tepat untuk jauh mengabaikanku, aah.. Mungkin itu pun cara yang tepat untuk menyelamatkan hatiku.
Semakin kucoba, semakin aku ragu apa yang aku harapkan, apakah suaramu atau suara operator yang tak asing itu.
Gadis, aku tahu kamu telah pergi.. Telah kau kemas segala kenanganku dalam kotak kecil yang kau sembunyikan disudut kamarmu.
Mungkin ini saatnya aku berjalan, selama ini tak peduli seberapa jauh aku berjalan, itu hanya langkahku, bukan hatiku.. Namun hari ini, akan kuseret hatiku serta..
Mungkin ini saatnya untuk melepaskan wajahmu dari dompetku..
Mungkin ini saatnya untuk membuang jauh setiap catatan2 kecil yang pernah kau kirim untukku yang selama ini tersimpan rapi dalam lipatan buku..
Mungkin ini saatnya melepas lingkaran perak yang selama ini menggantung di dadaku..
Mungkin ini saatnya aku jalani hidupku (yang benar-benar) tanpa kamu..
Aku tak ingin lagi datang ke Bandung dengan luka,
Aku pun tak ingin memunguti remah ingatan yang bahkan sudah tak kau ingat..
Kau mungkin pernah menghancurkanku, tak perlu lagi membantuku membereskan kepinganku, cukup bawa kepinganmu dan pergi..
Saatnya bagiku membuka,
Saatnya bagiku terjatuh kepada dia yang menanti..
Kepada Desember lah aku akan memasrah..
Andika Saputra
Km 103 menuju Bandung.
Angka demi angka berubah dalam papan kilometer itu, semakin membuat hatiku ciut.. Membuatku takut untuk berhadapan dengan kota yang sangat kucintai itu.
Kenangan terkadang sangatlah kejam, hingga dapat merapuhkan kecintaan yang begitu dalam.
Sudut yang kau cintai bergantian menusukimu dengan kenangan indah yang justru sekarang terasa menyakitkan..
Pagi ini, aku mengirimkan pesan padanya, yang kutahu tak pernah sampai..
Lama kupandangi nomormu, berjuta rasa dan asa berkecamuk, bahwa jarak inderaku dan suaramu hanya sejauh satu tombol..
Aku tahu nomor itu sudah lama mati, mungkin itu cara yang tepat untuk jauh mengabaikanku, aah.. Mungkin itu pun cara yang tepat untuk menyelamatkan hatiku.
Semakin kucoba, semakin aku ragu apa yang aku harapkan, apakah suaramu atau suara operator yang tak asing itu.
Gadis, aku tahu kamu telah pergi.. Telah kau kemas segala kenanganku dalam kotak kecil yang kau sembunyikan disudut kamarmu.
Mungkin ini saatnya aku berjalan, selama ini tak peduli seberapa jauh aku berjalan, itu hanya langkahku, bukan hatiku.. Namun hari ini, akan kuseret hatiku serta..
Mungkin ini saatnya untuk melepaskan wajahmu dari dompetku..
Mungkin ini saatnya untuk membuang jauh setiap catatan2 kecil yang pernah kau kirim untukku yang selama ini tersimpan rapi dalam lipatan buku..
Mungkin ini saatnya melepas lingkaran perak yang selama ini menggantung di dadaku..
Mungkin ini saatnya aku jalani hidupku (yang benar-benar) tanpa kamu..
Aku tak ingin lagi datang ke Bandung dengan luka,
Aku pun tak ingin memunguti remah ingatan yang bahkan sudah tak kau ingat..
Kau mungkin pernah menghancurkanku, tak perlu lagi membantuku membereskan kepinganku, cukup bawa kepinganmu dan pergi..
Saatnya bagiku membuka,
Saatnya bagiku terjatuh kepada dia yang menanti..
Kepada Desember lah aku akan memasrah..
Andika Saputra
Km 103 menuju Bandung.
Thursday, August 2, 2012
Hanya beberapa langkah saja..
Bertahun aku mendekapmu..
Dalam bilangan warsa, cinta ini berkiblat kepadamu..
Tak pernah selangkahpun hatiku menjauh darimu..
Namun kali ini..
Mungkin aku harus mundur, beberapa langkah..
Beberapa langkah saja,
Untuk ruangku bernafas..
Beberapa langkah saja,
Untuk dapat melihatmu seutuhnya..
Beberapa langkah saja,
Untuk melihat sekitarku..
Lalu kucoba untuk mendekapmu lagi, dengan segala rasa yang kutahan,
Dengan segala harap yang kupelihara..
Lalu kau mulai menusukiku dari dalam dekapku,
Lalu kau mulai melukai lingkaran pelukku,
Hingga akhirnya kau menggores tulus hatiku,
Mungkin aku harus mundur beberapa langkah (lagi)..
Untuk pulihkan percayaku..
Beberapa langkah saja,
Untuk berdamai dengan lukaku..
Atau mungkin aku harus mundur beberapa langkah lebih jauh,
Untuk melihat duniaku tanpamu,
Untuk membiarkanmu terbiasa tanpaku..
Langkahku menjauh ini, caraku mengajarimu tentang seberapa penting arti keberadaan..
Hanya beberapa langkah saja, gadis..
Dan kau akan mengerti,
Bahwa ceceran langkah ini takkan bisa kaupungut lagi..
Dalam bilangan warsa, cinta ini berkiblat kepadamu..
Tak pernah selangkahpun hatiku menjauh darimu..
Namun kali ini..
Mungkin aku harus mundur, beberapa langkah..
Beberapa langkah saja,
Untuk ruangku bernafas..
Beberapa langkah saja,
Untuk dapat melihatmu seutuhnya..
Beberapa langkah saja,
Untuk melihat sekitarku..
Lalu kucoba untuk mendekapmu lagi, dengan segala rasa yang kutahan,
Dengan segala harap yang kupelihara..
Lalu kau mulai menusukiku dari dalam dekapku,
Lalu kau mulai melukai lingkaran pelukku,
Hingga akhirnya kau menggores tulus hatiku,
Mungkin aku harus mundur beberapa langkah (lagi)..
Untuk pulihkan percayaku..
Beberapa langkah saja,
Untuk berdamai dengan lukaku..
Atau mungkin aku harus mundur beberapa langkah lebih jauh,
Untuk melihat duniaku tanpamu,
Untuk membiarkanmu terbiasa tanpaku..
Langkahku menjauh ini, caraku mengajarimu tentang seberapa penting arti keberadaan..
Hanya beberapa langkah saja, gadis..
Dan kau akan mengerti,
Bahwa ceceran langkah ini takkan bisa kaupungut lagi..
Subscribe to:
Comments (Atom)
