Selamat datang Ramadhan, senang bertemu denganmu lagi..
Menjelang bulan Ramadhan dan Lebaran adalah masa dimana
orang berlomba-lomba merasa salah dan menebar maaf setelah setahun berpacu
dengan egoisme akan kebenaran diri yang berpelit maaf. Dan yah aku sendiri ga
bilang itu salah, semua sah-sah saja, dan lagi pula bukan itu poin utama yang
ingin aku bahas disini.
Aku menulis untuk mengingatkan diriku sendiri akan kelalaianku,
Aku meminta maaf kepada banyak orang, atas segala kesalahanku,
kepada orang tua, kepada teman, sahabat atau bahkan kepada orang yang baru kukenal,
aku meminta maaf kepada semua yang berinteraksi denganku. Sampai disana aku
merasa benar, hingga akhirnya aku meresapi ruang hening di dalam pikiranku,
ruang hening di dalam jiwaku. Aku melakukan kesalahan besar, terlalu banyak aku
memikirkan apa yang ada diluarku, tanpa sadar aku lupa untuk berinteraksi ke
dalam.
Terlalu sering kita dirumitkan oleh pemikiran kita sendiri hingga kita lupa rasanya memikirkan sesuatu secara sederhana. Terlalu sering kita mempedulikan orang lain hingga lupa mempedulikan diri sendiri.
Aku lupa
meminta maaf kepada diriku sendiri jika aku sering lalai dalam menjaga raga,
Aku lupa
meminta maaf kepada diriku sendiri jika aku sering lalai menjaga hati dan
perasaan,
Aku lupa
meminta maaf kepada diriku sendiri jika aku menjadikan diri ini sebagai korban
repetisi rasa sakit akibat egoisme diri.
Aku lupa
meminta maaf kepada diri akan indera yang sering aku salah fungsikan,
Atas mata
yang kupaksa untuk melihat yang tak seharusnya,
Akan tangan
yang kugunakan untuk mengambil yang bukan hak nya,
Akan kaki
yang kuperintah melangkah ke tempat yang membawaku kepada keburukan,
Akan telinga
yang kujerumuskan kepada gaung kata yang tak bermakna,
Atas mulut
yang lebih sering berucap keluh daripada berucap syukur, lebih sering mencaci
dari pada mendoakan.
Aku lupa
meminta maaf semua dzalim yang kubuat kepada diriku sendiri, seolah-olah dzalim
dunia belum cukup menyakiti.
Kepada bumi, kepada semesta..
Aku lupa memohon
maaf kepada bumi, akan kelalaianku dalam menjaganya selama ini dalam kapasitas
yang bisa kujangkau.
Kepada bumi
atas kelalaianku berterimakasih atas tempatku berpijak selama hampir 26 tahun
ini,
Kepada bumi
atas kelakuan burukku yang justru menyakitimu dari dalam, atas perilakuku yang
membuatmu semakin senja.
Atas
keserakahanku yang semakin manjadi menggerogoti keindahanmu..
Terakhir, kepada Tuhan..
Aku lupa meminta maaf karena ucap syukurku lebih sering
tertutup pantulan keluh kesah akan hati yang tak pernah puas.
Aku lupa meminta maaf telah lalai mencintaimu, atau
kemungkinan kumencintaimu dengan cara yang salah, dengan cara yang malah
mencoreng namamu.
Tentang caraku memperlakukanMu dalam hidup, maaf atas
kelakuanku menjadikan hidupku dan keberadaanMu seolah-olah hubungan kita adalah
matematika manusia.
Aku lupa meminta maaf akan ketidaksengajaanku menduakanmu
dengan dunia, menyekutukanMu ternyata tanpa sadar sering kulakukan. Aku
menyekutukanMu dengan pekerjaanku, aku meyekutukanMu dengan teman-temanku, aku
menyekutukanMu dengan diriku sendiri, aku sering menunda segala kewajibanku
kepadaMu tapi di lain sisi aku berucap TIDAK ADIL jika kupikir Engkau tidak
menjawab keinginanku, jika kupikir engkau tidak mengutamakanku PADAHAL aku
sendiri sering tidak mengutamakanMu.
Saat aku menghadapMu dalam shalat, seringkali hanya ragaku
yang menghadapmu, hatiku, jiwaku melayang ke tempat lain. Kepada rencanaku
selanjutnya, kepada (lagi-lagi) pekerjaanku, kepada hal apa yang akan kulakukan
selepas shalat ini, semua shalatku seolah aku lakukan dengan mode auto-pilot
tubuhku yang telah hafal dengan ucapan dan setiap gerakannya. Banyak sekali
hal-hal tidak baik yang kulakukan saat melakukan shalat (yang seringkali)
kubilang menghadapMu itu. Sesuatu yang akan sangat kusesali suatu saat dimana
aku benar-benar dipanggil untuk menghadapMu.
Tuhan, ampuni aku..
Atas diri yang seringkali tanpa sadar menyepelekanMu,
Atas diri yang seringkali berdoa tetapi tanpa sadar aku
hanya berpura-pura berbicara kepadaMu.
Atas diri yang telah berbangga-ria dihadapanMu
Atas diri yang menganggap paling benar dan sering
menyalahkan,
Atas diri yang terlihat mendekat kepadaMu, yang ternyata
SUNGGUH MASIH JAUH DariMu.
Terimakasih Tuhan, atas nafas yang masih kau pinjamkan
untukku bertemu Ramadhan tahun ini.
Marhaban ya Ramadhan.
No comments:
Post a Comment