"Aku kehilangan kata disaat ku kehilangan cinta.. Sekarang aku mulai belajar mencintai kata.. Agar aku ingat rasanya mencintai cinta..."

Tuesday, September 17, 2013

Papa, berusaha tidak menyayangimu lebih sulit daripada sekedar memaafkanmu.


Papa, malam ini rindu menyapaku lagi..
Aku pikir aku telah merelakanmu, tapi ternyata residu rindu masih banyak lekat membekas di setiap sekat jiwa.
Memaafkanmu itu sulit, tapi berusaha kulakukan walau butuh belasan tahun hingga akhirnya aku mengangguk pada keikhlasan.
Aku pikir memaafkanmu adalah hal tersulit yang hidup berikan kepadaku tentangmu, ternyata ada yang sangat jauh lebih sulit,
Ya, berusaha tidak menyayangi dan merindukanmu itu ternyata bagian tersulitnya.

Entah berapa juta kali hatiku tetap menggeleng pada keinginanku untuk menyayangimu,
Entah berapa juta kali ego ku mendorong rasa rinduku jauh jauh dari kenyataan,
Sebuah pilihan hidup, mungkin itu yang bisa kubilang tentang ketiadaan ini, sebuah pilihan hidup yang dulu papa ku pilih dengan sikapnya lalu dengan sadar kulanjutkan.

Kita pernah tidak bahagia berada dalam satu rasa, maka kau pilih untuk melangkah pergi diantara peluh caci dan kebencian yang membuncah. Aku masih disana, menunggu melihat punggungmu menjauh dan akhirnya menghilang.

Bertahun aku tetap berdiri di titik yang sama, melewati hari demi hari dengan mata yang sama dengan mata yang melihat punggungmu untuk terakhir kalinya, aku masih terpaku dengan harap yang sama, dengan harap akan ada sosok yang muncul dari kabut itu mengenggam sebuah maaf.

Dan hari itu tak pernah datang..

Aku berbalik dan melangkah memunggungi jejakmu, mencipta jejakku sendiri, berusaha mencari sosokmu dalam berbagai bentuk, berusaha merangkai peranmu dalam berbagai versi, aku mengarang tentang seperti apa dirimu.

Garis hidup membawa guratan kisahku kembali bersinggungan dengan garismu,  aku melihatmu dari jauh, diselingi bising kendaraan yang melintas, kamu diseberang jalan sana bersama keluargamu, ya, keluargamu yang tanpa aku di dalamnya.

Aku melihat senyum itu, senyum yang dulu untukku, senyum yang dulu bisa kusaksikan dari jarak peluk, kini hanya kusaksikan dari seberang jalan.
Aku melihat semangat itu, semangat yang dulu hadir untuk kami. Kini menyala lagi untuk orang lain.
Aku melihat bahagia itu, bahagia yang mungkin tak pernah dia dapatkan dari kami. Hadir lagi karena alasan yang mungkin tak pernah bisa kami beri.

Detik berlalu, kau melangkah pergi mengendong perempuan kecil yang mereka bilang buah hatimu, kau kembali menjauh, punggung itu menyeretku tanpa ampun ke masa dimana terakhir kali aku melihat punggung itu menjauh dari lensa airmataku.

Ini pilihanku, Papa.
Ini pilihan untuk tidak lagi menjadi kata “tidak” diantara “kebahagiaanmu”
Ini pilihanku untuk melepaskanmu ke dunia bahagiamu, yang sayangnya tak pernah ada aku di dalamnya.

Jalani bahagiamu, Papa.
Waktu yang Tuhan beri untuk kami bersamamu mungkin hanya sedemikian.

Setiap doaku adalah cara tersunyiku untuk merindukanmu.

Love,

2 comments:

Anonymous said...

U 're gonna be a great dad

pengrajinkata said...

Aamiin.. Thank you so much. :")