Malam ini entah malam keberapa yang kuhabiskan dengan melarikan diri.
Hari ini entah hari keberapa aku mencoba menjauhkan diri dari rasa sakit.
Dulu dia, sekarang kamu. Entah siapa lagi kelak.
Aku berada dalam antrian untuk meninggalkanmu sejenak, aku mencoba untuk melupakan...maksudku mengalihkan dirimu dariku.
Meninggalkan kota yang berjejak canda yang dalam beberapa hari terakhir telah hilang ditelan kejujuran.
Aku mencoba mencekik egoku, kucoba untuk mengkuliti rasa gengsiku satu persatu.
Aku ingin bersamamu.
Aku tak mau lagi diperbudak rasa ikhlas, aku tak mau lagi lupa caranya memperjuangkan rasa sayang.
Tapi lagi, aku menjadi saksi bagaimana sebuah tekad hanya menjadi bulan-bulanan dari gerombolan kenyataan.
Lagi, aku menjadi saksi dimana tekad yang babak belur hanya bisa terduduk dan bersandar penuh luka dihadapan tembok yang seringkali mereka plesetkan sebagai rasa ikhlas.
Kini aku pergi (lagi) membawa elegi, bersama tekad yang tak lagi punya gigi.
Biarkan tekadku beristirahat setelah lelah dia dicabik indah pesona.
Aku pergi,
Lain kali biarkan hatimu berbunyi,
Jangan terus menjawab dalam sunyi,
Karena sesakitnya penolakan adalah ditusuk oleh pisau bisu.
25 Oktober 2013 - 02.55
Di salah satu sudut bandara Jakarta
1 comment:
That feeling, when you choose to go because it seems easier to forget instead of to face it. :)
Post a Comment