Suara-suara malam makin pongah, seakan memaki-maki hatiku yang jauh. Teriakan-teriakan doa pun hanya memantul, antara segumpal ego dan sekerat asa yang terbaca dalam mimpi-mimpi indah yang pernah terlewat.
Sambil lalu pun aku masih sempat berkaca pada pandangan matamu, meski redup, cahayanya masih melukai, aku berdarah-darah sekedar membayangkanmu, nuansa-nuansa cinta masih mendendam, penuh pengibaratan tentang sesal, seperti malam ini aku melolong akan melupakanmu, karena kau adalah Desember yang terbilang dalam hidupku.
Desember bukan lagi tentang kau, aku sudah berjanji menguburmu sehitam malam, melebur dosa-dosaku sederas hujan, dan melupakan dendamku setinggi ujung daun. Desember ini, akan banyak bercerita tentang hakikat, karena muasal kembali ke muasal, kita fana dalam cinta dan kita baka dalam cinta. Desember kujadikan bijaksana, bersama tabir yang mulai terkuak, dan aku hanya akan mengenangmu, ketika kilau bintang meminta, abadikan aku dalam ikhlas yang teruji.
Desember ini yang menjauhkanku dari sekedar menunggumu, akan mendekatkan aku kembali dari kehampaan yang menyesak, menyembuhkanku dari himpitan kesendirian, membangunkanku dari terkulai, dan menarik tanganku dari terasing. Betapapun aku tersengal bernafas seorang diri, takkan pernah kuingkari wangi hatimu, meski aku hanya lampu jalanan, bukan matahari yang abadi, niscaya tegar bilamana cinta hadir.
Jika aku pernah berprasangka karena kabut yang kau singsingkan, aku banyak belajar dari remah-remah hikmah, sedetik sebelum Januari menggurui. Kesenangan belum tentu karunia, karena kesedihan selalu menyertainya. Hanya malam-malam penuh syukur kebahagiaan sejati, hingga tertawa dan menangis tak ada bedanya, seperti pergantian siang ke malam yang terbiasa.
Andika Winchester Saputra
Sambil lalu pun aku masih sempat berkaca pada pandangan matamu, meski redup, cahayanya masih melukai, aku berdarah-darah sekedar membayangkanmu, nuansa-nuansa cinta masih mendendam, penuh pengibaratan tentang sesal, seperti malam ini aku melolong akan melupakanmu, karena kau adalah Desember yang terbilang dalam hidupku.
Desember bukan lagi tentang kau, aku sudah berjanji menguburmu sehitam malam, melebur dosa-dosaku sederas hujan, dan melupakan dendamku setinggi ujung daun. Desember ini, akan banyak bercerita tentang hakikat, karena muasal kembali ke muasal, kita fana dalam cinta dan kita baka dalam cinta. Desember kujadikan bijaksana, bersama tabir yang mulai terkuak, dan aku hanya akan mengenangmu, ketika kilau bintang meminta, abadikan aku dalam ikhlas yang teruji.Desember ini yang menjauhkanku dari sekedar menunggumu, akan mendekatkan aku kembali dari kehampaan yang menyesak, menyembuhkanku dari himpitan kesendirian, membangunkanku dari terkulai, dan menarik tanganku dari terasing. Betapapun aku tersengal bernafas seorang diri, takkan pernah kuingkari wangi hatimu, meski aku hanya lampu jalanan, bukan matahari yang abadi, niscaya tegar bilamana cinta hadir.
Jika aku pernah berprasangka karena kabut yang kau singsingkan, aku banyak belajar dari remah-remah hikmah, sedetik sebelum Januari menggurui. Kesenangan belum tentu karunia, karena kesedihan selalu menyertainya. Hanya malam-malam penuh syukur kebahagiaan sejati, hingga tertawa dan menangis tak ada bedanya, seperti pergantian siang ke malam yang terbiasa.
Andika Winchester Saputra
No comments:
Post a Comment