Perjalanan ke Bandung selalu ibarat memunguti remah kenangan,
Angka demi angka berubah dalam papan kilometer itu, semakin membuat hatiku ciut.. Membuatku takut untuk berhadapan dengan kota yang sangat kucintai itu.
Kenangan terkadang sangatlah kejam, hingga dapat merapuhkan kecintaan yang begitu dalam.
Sudut yang kau cintai bergantian menusukimu dengan kenangan indah yang justru sekarang terasa menyakitkan..
Pagi ini, aku mengirimkan pesan padanya, yang kutahu tak pernah sampai..
Lama kupandangi nomormu, berjuta rasa dan asa berkecamuk, bahwa jarak inderaku dan suaramu hanya sejauh satu tombol..
Aku tahu nomor itu sudah lama mati, mungkin itu cara yang tepat untuk jauh mengabaikanku, aah.. Mungkin itu pun cara yang tepat untuk menyelamatkan hatiku.
Semakin kucoba, semakin aku ragu apa yang aku harapkan, apakah suaramu atau suara operator yang tak asing itu.
Gadis, aku tahu kamu telah pergi.. Telah kau kemas segala kenanganku dalam kotak kecil yang kau sembunyikan disudut kamarmu.
Mungkin ini saatnya aku berjalan, selama ini tak peduli seberapa jauh aku berjalan, itu hanya langkahku, bukan hatiku.. Namun hari ini, akan kuseret hatiku serta..
Mungkin ini saatnya untuk melepaskan wajahmu dari dompetku..
Mungkin ini saatnya untuk membuang jauh setiap catatan2 kecil yang pernah kau kirim untukku yang selama ini tersimpan rapi dalam lipatan buku..
Mungkin ini saatnya melepas lingkaran perak yang selama ini menggantung di dadaku..
Mungkin ini saatnya aku jalani hidupku (yang benar-benar) tanpa kamu..
Aku tak ingin lagi datang ke Bandung dengan luka,
Aku pun tak ingin memunguti remah ingatan yang bahkan sudah tak kau ingat..
Kau mungkin pernah menghancurkanku, tak perlu lagi membantuku membereskan kepinganku, cukup bawa kepinganmu dan pergi..
Saatnya bagiku membuka,
Saatnya bagiku terjatuh kepada dia yang menanti..
Kepada Desember lah aku akan memasrah..
Andika Saputra
Km 103 menuju Bandung.
No comments:
Post a Comment