Gadis,
Di awal candraku, aku datang padamu, menatap indah setiap detik ragamu, membiarkan setiap inderaku mencerna setiap pancar pesonamu yang mulai asing.
Kupenuhi setiap ruang memoriku dengan cantik parasmu, dengan indahnya kerumitanmu yang kutahu akan kurindukan.
Gadis,
Aku mencintai kesederhanaan, tapi kamulah alasan yang membuatku belajar mencintai kerumitan.
Tapi ternyata segala kerumitanmu hanya cukup untuk membuatku patah hati, kebekuan pandanganmu membuatku ragu jika kesederhanaan yang kupunyai bisa membuatmu dengan segala kerumitanmu, bahagia bersamaku.
Gadis,
Rindu ini sudah menjadi getaran rutin pada setiap langkahku, aku tak ingat kapan aku merasa tak rindu..
Tapi, Gadis.. rindu ini menyakitiku..
Merindukanmu seperti memilih untuk disakiti oleh rasa rindu atau dibunuh oleh rasa kecewa.
Aku tak lagi tahu, bagaimana bentuk rinduku, aku tak lagi mengenal dia..
Rasa rinduku dan rasa raguku.. bagai airmata dalam siraman air hujan, semua samar..
Menjadi rindu sendiri itu menyakitkan, Gadis..
Berpura-pura untuk tidak merindu ini sangat menyiksaku.
Kau tak pernah tahu bagaimana keangkuhan palsu ini membunuhku perlahan.
Gadis, rindu ini sudah mulai terbiasa menghadap pada kata-kata rindu yang hanya berakhir di draft pesan singkatku.
Rindu ini sudah mulai merasa cukup puas dengan dituliskan dalam sebuah pesan yang tak pernah sampai. Karena aku tahu rindu ini sudah tak punya tempat di rasamu.
Gadis agungku, anugerah termegahku,
Kelak kau akan melangkah jauh, melupakan hari ini,
Melupakan raga ini, melupakan semua angan dan usahaku,
Saat itu segigit rasa bernama cinta memberanikan diri untuk bertanya,
Wahai hati, jika rindu tak lagi menjadi candu, masih akankah pelukku membuat resahmu takluk?
Much Love,
Andika Saputa
No comments:
Post a Comment