"Aku kehilangan kata disaat ku kehilangan cinta.. Sekarang aku mulai belajar mencintai kata.. Agar aku ingat rasanya mencintai cinta..."

Monday, March 18, 2013

Senja dari meja kerjaku..


Penatku mendaki puncaknya saat matahari mulai condong, matahati renta yang tak henti meronta melawan usia. Senja datang.

Aku masih terduduk setia menontonmu melalui layar jendela kantorku, semburat jingga mu menembus setiap rongga para pencakar langit, membuat para bangunan buruk itu terlihat cantik.
Mereka yang merasa dirinya megah mencapai langit, seakan menunduk pada keanggunanmu, cahayamu hangat dilihat dan hangat di rasa. Ribuan lampu jalan dan lampu gedung bersekutu mempersolek diri, tapi tak terlihat di antara senyum cantikmu, wahai senja.

Pada jam-jam itu, aku tak pernah ingin melihat ke bumi, karena bumi dipenuhi lampu yang penuh sesak memperebutkan seutas jalan.
Pada masa-masa itu, aku tak pernah ingin melihat ke bumi, karena bumi dipenuhi riuh egoisme berbalut bunyi klakson. Sempit oleh ketiadaan ruang empati yang terhalang kelambu individualis.

Aku memilih melihat langit senja yang tanpa batas, dimana awan masih menari bersama sahabatnya, berlatarkan cantiknya langit senja yang seakan mentertawakan keangkuhan kosong para penjejak bumi. Langit itu selalu menjadi tempat melelehnya lelah, hangat itu selalu menjadi titik netral emosi hariku.
Aku memilih melihat detik-detik sang surya berpulang ke pelukan ufuk, untuk membagi sinarnya kebelahan dunia lain. Detik singkat yang menyajikan keindahan, seakan-akan pintu surga tak sengaja terbuka oleh khilaf malaikat.

Tak jarang kubiarkan lamunku melayang bebas menari dengan gumpalan awan, menembus satu demi satu masa yang telah lewat dan bermanuver liar menuju masa depan yang menjadi asa. Aku membiarkannya bebas disana sebelum akhirnya ia kembali pada tumpukan rutinitas.

Liukan awan di layar senja seakan membuka gerbang malam, melepaskan milyaran bintang dari sangkar siang dan melukiskan indahnya langit malam. Singkat pesonamu menetralkan keangkuhan sang siang dan menjadikan sang malam lebih siap untuk ku sambut.

Mungkin itu alasan Tuhan menyisipkanmu di antara mereka, Senja..

Wahai senja, terimakasih atas kehadiranmu yang selalu menyajikan pemandangan elokmu untuk ku nikmati dari kaku nya meja kerjaku.

Salam,

Segenap panca indera

No comments: