Penatku mendaki puncaknya saat matahari mulai condong,
matahati renta yang tak henti meronta melawan usia. Senja datang.
Aku masih terduduk setia menontonmu melalui layar jendela
kantorku, semburat jingga mu menembus setiap rongga para pencakar langit,
membuat para bangunan buruk itu terlihat cantik.
Mereka yang merasa dirinya megah mencapai langit, seakan menunduk
pada keanggunanmu, cahayamu hangat dilihat dan hangat di rasa. Ribuan lampu
jalan dan lampu gedung bersekutu mempersolek diri, tapi tak terlihat di antara
senyum cantikmu, wahai senja.
Pada jam-jam itu, aku tak pernah ingin melihat ke bumi,
karena bumi dipenuhi lampu yang penuh sesak memperebutkan seutas jalan.
Pada masa-masa itu, aku tak pernah ingin melihat ke bumi,
karena bumi dipenuhi riuh egoisme berbalut bunyi klakson. Sempit oleh ketiadaan
ruang empati yang terhalang kelambu individualis.
Aku memilih melihat langit senja yang tanpa batas, dimana
awan masih menari bersama sahabatnya, berlatarkan cantiknya langit senja yang
seakan mentertawakan keangkuhan kosong para penjejak bumi. Langit itu selalu
menjadi tempat melelehnya lelah, hangat itu selalu menjadi titik netral emosi
hariku.
Aku memilih melihat detik-detik sang surya berpulang ke
pelukan ufuk, untuk membagi sinarnya kebelahan dunia lain. Detik singkat yang
menyajikan keindahan, seakan-akan pintu surga tak sengaja terbuka oleh khilaf
malaikat.
Tak jarang kubiarkan lamunku melayang bebas menari dengan
gumpalan awan, menembus satu demi satu masa yang telah lewat dan bermanuver
liar menuju masa depan yang menjadi asa. Aku membiarkannya bebas disana sebelum
akhirnya ia kembali pada tumpukan rutinitas.
Liukan awan di layar senja seakan membuka gerbang malam,
melepaskan milyaran bintang dari sangkar siang dan melukiskan indahnya langit
malam. Singkat pesonamu menetralkan keangkuhan sang siang dan menjadikan sang
malam lebih siap untuk ku sambut.
Mungkin itu alasan Tuhan menyisipkanmu di antara mereka, Senja..
Wahai senja, terimakasih atas kehadiranmu yang selalu
menyajikan pemandangan elokmu untuk ku nikmati dari kaku nya meja kerjaku.
Salam,
Segenap panca indera
No comments:
Post a Comment