Di siang yang cerah, di sela rehatku, sebuah bunyi
menyelaku, aku buru-buru melihatnya..
Siang ini kamu muncul di layar telepon genggamku, aku
terkejut dan bahagia, dengan semangat aku berusaha untuk menjawabnya segera
hingga akhirnya dunia ku berhenti beberapa detik.
Hatiku saling beradu kata,
“Kamu ingin melukai dirimu? Lagi? Sudah lupakah kamu akan
caranya menghancurkan kepingan hati dan remah-remah harapmu?’
“Aku rindu, biarkan suaranya menyesap kedalam telingaku untuk
sekedar mengobati debar rindu ini”
“Debar rindu? Racun rindu maksudmu? Yang membuatmu kerap
terlalu banyak mentolerir luka yang kamu buat sendiri. Kamu buta!”
“Cintaku tidak buta, cintaku penuh dengan toleransi”
“Toleransi pada luka yang membuatmu serapuh sekarang!”
“Juga luka yang membuatku sekuat ini!”
“Sekuat ini? kuat yang mana maksudmu? Ringisan tangis di
sela mimpimu? Sesak yang selalu kamu tahan saat dia melintas di memorimu? Hembusan
nafas panjang yang kamu buang saat rindumu berakhir tak terbalas? ITU YANG KAMU BILANG KUAT??!”
“Aku..”
“Cukup dengan lalaimu, buang jauh-jauh bagianmu yang tanpa
sadar menikmati luka..”
“Bukankah kamu adalah aku? Mengapa kamu melukaiku seperti
ini?”
“Justru karena aku adalah kamu, maka aku ingin melindungimu,
melindungi diriku sendiri atas luka yang sudah terlalu sering terrepetisi. Aku lelah
tesakiti lalai”
“Maafkan aku..”
“Pernahkah kamu pikir jika usahamu mengejar rindu juga
melukaiku? Apa yang kamu dapat dari mengejar rindunya? Kecewa!”
“Aku butuh obat untuk rinduku..”
“Ya, aku mengerti, tapi bukan obat yang menyembuhkan saat
ini lalu membunuhmu perlahan dengan harapan kosong, jangan egois! Dunia kita
bukan hanya tentang kita! Bukan hanya tentang bagaimana membuat diri kita
bahagia, tapi juga bagaimana agar mencegah pihak lain terluka..”
“Bukan kah jika aku bahagia, kamupun bahagia?”
“Ya, aku pun bahagia! Tapi saat kamu hancur, semua ikut tersakiti.. pernah kamu bertanya pada mata seberapa lelah ia menahan
tangis? Pernah kamu bertanya pada mulut seberat apa dia mengunci lisan? Pernah kamu
bertanya pada para jemari tentang sakitnya mereka saat dikekang oleh sebuah
kepalan kesal? Pernah kamu tanya pada otak bagaimana hancurnya saat logika
(lagi-lagi) dikhianati? Pernahkah kamu bertanya tentang kebingungan kaki yang
membawa langkah yang patah? PERNAH KAMU PIKIR KAN ITU?!
“Aku.. maafkan aku..”
Lalu aku pun mengurungkan niatku untuk menjawab teleponmu,
membiarkan wajahmu muncul di layar telepon genggamku hingga akhirnya putus dan
menghilang. Aku menyayangimu, masih sama seperti dulu, masih sama sebesar dulu,
hanya bedanya sekarang aku pun menyayangi diriku sendiri.
Andika Winchester Saputra
No comments:
Post a Comment