Kepada senja,
Beberapa hari ini kamu tak muncul, ada perasaan canggung
saat aku tak lagi melihat hangatmu di pandang mataku.
Ada hati yang rindu melihat megahmu, ada sisi hati yang
mereguk candu akan cantikmu tapi adapula poros hati yang menolak untuk merindu.
Senja mengingatkan aku lebih daripada sekedar indah, senja
mengingatkanku tentangmu, senja mengingatkanku saat kau masih ada di pelukan,
saat detak jantungku membisik di telingamu dalam nyamannya satu lingkaran
peluk.
Senja, kamu tak lagi hiasi soreku, seperti lama sudah dia
tak lagi hiasi hariku..
Senja, kau tak lagi bersinar, seperti matanya yang berhenti
menjadi binar..
Senja, kau biarkan dirimu dikalahkan mendung, seperti
ketidakpercayaannya yang tak terbendung..
Senja, melihatmu membuatku menyadari bahwa bahkan keindahan
pun bisa menyakiti, apa yang memanjakan mata belum tentu mencintai hati.
Aku termenung di bawah langit sore ini, berbayang siluet
senja yang entah ada dimana, berganti dengan kerlip lampu kota yang mencoba
mengganti, maaf kalian bukan apa-apa.
Senja tiada, entah aku atau dia yang pergi, yang jelas kita
tak lagi bisa berbagi.
Senja pudar, entah siapa yang memutuskan berhenti berpendar,
tapi kita tak lagi sanggup menjadi debar,
Senja biru, tak pernah tahu siapa yang memulai haru, yang
jelas semua telah dihukum cemburu.
Senja, aku pernah sangat memujamu, mungkin sekarang pun
masih..
Senja, aku pernah teramat mencintaimu, mungkin tanpa sadar
sekarang pun tersimpan.
Senja, aku tak mungkin berhenti merasa, aku hanya berhenti
memakan asa..
Aku dan kamu mungkin diciptakan seperti Tuhan menciptakan
senja untuk penghuni bumi,
Bisa kulihat, bisa kukagumi tapi tak pernah diciptakan untuk
dimiliki..
Untuk dipuja, tapi
bukan untuk dipersunting..
Kepadamu senja, tempat semua pujiku berporos, tempat semua
kesempurnaan bermuara..
Aku akan mulai mencintaimu dengan wajar.
Andika Winchester Saputra
No comments:
Post a Comment