"Aku kehilangan kata disaat ku kehilangan cinta.. Sekarang aku mulai belajar mencintai kata.. Agar aku ingat rasanya mencintai cinta..."

Thursday, August 1, 2013

Ayah, Rindu kepadamu adalah sebuah do(s)a..


Ayah, Papa, Bapak atau apapun kita biasa memanggil lelaki yang menikahi ibu, entah kapan terakhir kali aku memamnggil seseorang dengan sebutan itu. Atau kita rubah pernyataannya entah aku masih berani untuk memanggil seseorang dengan sebutan itu lagi atau tidak, karena 2 orang terakhir yang kupanggil dengan sebutan itu, hilang bersama masa.

Sekian lama aku melangkah dipenuhi rasa kecewa akan sosok-sosok itu, selama itu pun aku selalu memaksa hatiku mensubstitusi setiap butir rindu menjadi sebongkah benci, selama itu pula aku selalu menghukum diriku sendiri setiap ada tetes airmata yang mengalir untuknya. Takkan membuang-buang rasa kepada mereka yang tak pantas, kataku.

Setumpuk pengalih perhatian selalu siap membuatku lupa seketika rasa rindu menyergap, hati ini sudah ada pada mode auto-pilotnya sendiri yang otomatis menghapus setiap gurat rindu yang mulai tertulis. Seolah aku sudah terbiasa bertoleransi kepada sisi burukku untuk hal yang satu ini.

Rindu kepada nya adalah sebuah do(s)a.

Berat setumpuk kebencian ini sangat membebani, tapi aku bilang persetan dengan semua itu, aku tutup rapat-rapat semua inderaku, “kulindungi” mereka dari semua bisik yang memberitahuku untuk menemui nya. Kalian takkan tahu apa yang telah kulewati, kataku.

Hingga akhirnya Tuhan memberikanku sakit, satu dan lain hal akhirnya membawaku bertemu dengan seorang dokter. Aku mulai mengeluhkan ini itu tentang sakit yang kurasa, beliau akhirnya hanya tersenyum dan menjawab.

“Terlalu banyak emosi yang kamu tahan, bijak itu bukan tentang menahan emosi tapi tentang bagaimana mengendalikannya.”

Aku terdiam, sejenak berpikir lalu bertanya,

“Kalau mau sembuh obatnya apa ya dok? Apa harus fisioterapi juga?”

Lagi-lagi beliau tersenyum dan menjawab,

“Temui orang yang membuat kamu sekesal itu, temui orang yang paling kamu benci, minta maaf padanya dan katakan bahwa kamu sayang dia..”

Aku terhentak, ucapan yang menarikku terbang menembus sisi-sisi kenangan yang menyesak, diantara jiwa-jiwa yang menyesal.

Nafasku tetiba tersengal, aku menelan ludah, ada tangis yang menunggu untuk diamini. Aku teringat satu sosok itu.

“Papah..”

Dalam hati aku mengucap, keangkuhanku menghujam bumi, aku berbangga akan sesuatu yang memukulku hingga rasanya setiap bagian dari kebanggaanku lebam. Aku salah telah berbangga akan kebencian.

Aku ingin bertemu dengamu, aku ingin memelukmu, aku ingin meluapkan semua rindu dalam diriku, aku ingin melepaskan semua rasa yang bertahun kubelenggu dengan rantai kebencian.

Aku ingin bertemu denganmu, bukan untuk berkeluh tentang masa lalu, apalagi berangan tentang masa depan.

Aku ingin bertemu denganmu, hanya itu.

Setelahnya aku tak peduli apa akan ada pertemuan selanjutnya atau itu terakhir kalinya aku meluap rasa.
Akan kubisikan kata yang tak sempat kuucap beberapa tahun lalu saat akhirnya kita dipisahkan oleh keangkuhan dan keagungan ego.

“Dika sayang papah, Dika kangen papah..Maafkan anakmu ini”

Kata itu hanya akan kuucap, tak perlu kudengar balasmu.
Kata itu hanya perlu kuucap, setelahnya aku tak lagi peduli.

Aku yang pergi, tapi kali ini dengan pamit.
Jalani lah lagi hidupmu yang telah cukup bahagia tanpa ada aku di dalamnya.

I’m not your only son, like you’re not my only father..
But you’ve lost all your sons, like i’ve lost all my fathers.


-some words are better left unspoken, some others are better spoken a moment before a real goodbye” –Andika Saputra.

1 comment:

@iitsibarani_ said...

whuaaa! aku sukak! :">