“Seseorang yang paling kamu benci seharusnya menjadi
prioritas utama maafmu, bukan menjadi seseorang yang justru kamu hindari..”
Aku memang tidak terlalu suka mengucapkan permintaan maaf
dengan cara menseragamkan ucapannya, walaupun aku pun tidak menyalahkan mereka
yang melakukannya. Mungkin teman mereka terlalu lebih banyak dariku untuk
dikirimi secara personal.
Aku mengetik satu persatu permintaan maafku, diselingi
dengan dosa spesifik yang mungkin tak sengaja ku ingat saat mengetik pesan
tersebut. Kuurutkan satu persatu mereka yang ada di list telepon genggamku,
hingga akhirnya membawaku kepada suatu nama yang ada di teleppon genggamku
bertuliskan,
“Papa”
Aku memandanginya, sepersekian detik pikiranku kosong
berusaha mencerna apa arti empat huruf tersebut, karena bahkan aku sudah
terlalu asing untuk mengejanya.
Detik kemudian, aku mulai berusaha keras membayangkan wajahnya
dari sisa serpihan memori yang berserakan di pikiranku, karena aku mungkin aku
sudah terlalu lupa tentang bagaimana rupa lelaki yang menikahi ibuku itu. Aku gagal.
Aku coba lagi sekeras ingatanku dapat menguras memorinya.
Aku tetap gagal.
Kata tanteku, “kelupaanku terhadap rupanya mungkin awal mula
dari prosesku melupakan keburukannya”. Semoga.
Detik demi detik aku lewati hanya dengan memandangi nama
tersebut, bingung untuk memulai, tak tahu harus merasa apa, tak sadar degupku
meningkat, entah apa yang membuatnya, mungkin senang, gugup atau bahkan
kebencian itu lagi.
Terlalu lama waktu memisahkan kami, mungkin hidup telah
menginvestasikan jaraknya pada kami, semakin waktu berjalan semakin jarakpun
bertambah, aaahhh mungkin kita yang terlalu gigih menyalahkan hidup, bukankah
justru kita yang terlalu lemah terhadap ego kita sendiri?
Saat itu aku menyadari bahwa rinduku (dan rasa lainnya)
hanya berjarak satu tombol dalam telepon genggamku. Aku menarik nafasku dalam
dan....
*bip* aku menekan tombol “call”.
Dua detik kemudian aku
membatalkan panggilan diikuti kepalaku yang memanas, nafasku yang beradu dan
tanganku yang tanpa kudasari mengepal sangat keras. Di saat itu aku bertanya
pada diriku, apakah sekeras itu rasaku kepadanya? Ternyata iya.
Kemudian aku menekannya lagi, setiap detik yang berlalu
bagaikan menusukku bertubi-tubi, hingga akhirnya lelaki diujung telepon itu
menjawab,
Aku beku, lidahku kelu, pikiranku mendadak menjadi dungu,
aku memaksa lisan ku untuk berbicara,
“Pah, ini Dika, mohon maaf lahir batin untuk semua kesalahan
aku..”
Setelah itu ak tak tahu lagi apa yang ada di percakapan itu,
karena aku terlalu sibuk mengatur rasa, aku terlalu repot untuk tidak terdengar
lemah dan mengancam agar airmata itu tak pernah jatuh lagi untuknya. Aku gagal,
yang kubisa hanya menjauhkan telepon genggamku dariku agar tak sedikitpun
terdengar rapuhku olehnya.
Waktu mengalir sangat lambat, hingga akhirnya di detik ke-55
aku mengucap salam terakhir,
hanya 55 detik, 55 detik untuk bertahun rindu yang terpisah
oleh tebalnya ego.
Hanya 55 detik, ya tak genap satu menit, sudah lebih dari
cukup untuk menjungkirbalikan setiap sendi rasa yang pernah kumiliki.
Hanya 55 detik yang diperlukan untuk meluluhlantahkan
benteng rasa yang bertahun kubangun dengan residu memori dan ribuan rasa benci.
Hanya 55 detik.
I move on from my past, i let all your faults go..
i let you go..
God will help me with this..
Bismillah.
No comments:
Post a Comment