
“If I could get another chance
Another walk
Another dance with him
I'd play a song that would never ever end
How I'd love love love
To dance with my father again”
Dance With My Father – Luther Vandross
Lelaki yang (pernah) kupanggil Papa..
Tuhan,
Disini, hadapanmu.. berjuta rindu yang kukekang, berjuta pertanyaan yang kukubur..
Dimana dia?
Sehatkah dia?
Adakah dia pernah merinduku?
Karena aku rindu.. teramat sangat..
Kutahan semua itu, kutahan semua rasa dan asa itu.
Untuk dia, Lelaki yang (pernah) kupanggil Papa..
Tak terhingga untaian doa yang kuucap untukmu..
Tak berhenti hatiku menahan ringisan rinduku..
Walau itu semua jauh dari lisanku..
Kupilih untuk membisu, kupilih untuk merindu dalam doa..
Kupilih untuk menangis di hadapanNya.
Semua itu rasa ku untukmu,
Adakah kau rasakan itu, Lelaki yang (pernah) kupanggil Papa?
Setahun lalu, aku melihatmu..
Kau menatapku penuh rindu..
Tapi kuhanya bisa berlalu, bertarung dengan jutaan rindu yang memberontak jiwa..
Taukah kamu seberapa ingin aku memelukmu?
Taukah kamu seberapa aku ingin melepaskan segala rinduku dalam dekapanmu?
Taukah seberapa besar aku menyayangimu?
Besar! Sangat Besar!
Tapi taukah kecewa yang kau balaskan untukku?
Jauh lebih besar!
Anak ini, dengan segala kekecewaannya, adalah perindu terbesarmu.
Ya kamu, Lelaki yang (pernah) kupanggil Papa..
Sekarang kau dengan ma’mummu, dan aku dengan diriku..
Kerinduanku tentang sosokmu, mengajariku tentang perasaan ikhlas, ketangguhan, kekuatan..
Walau dengan cara yang sangat menyakitkan.
Kehidupanku tentangmu, mendewasakanku, mengajariku makna lebih tentang arti ”kebahagiaan”
Kebahagiaan melihatmu bahagia dengan keluargamu, walau tanpa sosok aku didalamnya.
Aku menangis, menyakitkan, hatiku teriris, airmataku pecah..
Tapi taukah kamu? Jauh didalam diri ini aku bersyukur, karena kamu akhirnya menemukan keluarga yang selama ini kau inginkan, yang mungkin tak kau dapatkan dari kami..
Ada makna dibalik setiap tawa mereka saat memilikimu..
Seperti kuyakin pasti ada makna dibalik setiap tangisku kehilanganmu..
Walau hanya setitik, anak lelaki ini pernah memiliki rasa bangga yang amat sangat padamu..
Lelaki yang (pernah) kupanggil Papa..
Tuhan,
Jagalah dia..
Jadikanlah dia Imam yang baik untuk keluarganya..
Jadikanlah dia sosok imam, yang sama seperti waktu dia mengajariku sholat untuk pertama kalinya..
Tuhan,
Hisaplah semua perasaan kehilangan ini, segala ungkapan rindu ini..
Tiupkan tepat dihatinya.. bisikan tepat di sukmanya..
Tuhan,
Aku rindu dia, Papaku..
Tearless cry,
Andika Winchester Saputra
2 comments:
loooooveeeeee iiiittt!!!!!
Thank you :)
Post a Comment