
2 Desember 2010
“Pergilah kasih kejarlah keinginanmu, selagi masih ada waktu..
Jangan hiraukan diriku, aku rela berpisah demi untuk dirimu, semoga tercapai semua keinginanmu..”
-Chrisye-
Dear Rani,
Aku benci, benci saat harus membiarkan jari ini menulis lagi.. aku BENCI Rani, aku tak ingin menulis lagi..
Karena aku tau, yang dapat kutulis hanya kesedihan,
Karena aku tau Rani, yang bisa temani tarian jari ini hanyalah deraian air mata.
Dan aku tidak mau merasakan rasa pedih itu lagi,
Maaf Rani, atas luka dan beban yang ku berikan, saat prosesku menunjukan kemana arah kita.
Rani, kamu tau? Saat kau memilih mundur, aku hanya bisa bersikap seangkuh mungkin, aku tidak mau melihat matamu Rani, atau lebih tepatnya AKU TAKUT menatap matamu rani..
Itu benteng terakhir ku Rani, saat aku mencoba bersembunyi dalam kekokohan palsu dari sebuah dinding bernama “angkuh”, sesungguhnya hati ku telah ambruk seketika, sesaat setelah kamu bilang kamu ingin mundur..
Sesungguhnya air mataku hanya berjarak seujung daun lagi untuk jatuh, itulah mengapa aku tidak ingin menatapmu, aku tidak ingin melihat wajah indahmu melalui derai air mataku..
Sekarang 23.23 Rani, dan tanpa kusadari imaji ini tengah melayang kepada alunan memori dimana kita melewati semua kilasan waktu bersama,
Kita kalah lagi Rani, ya lagi, lagi dan lagi.. mungkin kamu memang bukan untukku, dan aku pun bukan untukmu.
Mungkin ini saatnya kita untuk saling merindu Rani, saling merindu sesuatu yang tak mungkin akan kembali, sesuatu yang hanya akan menjadi kenangan kita bersama, sesuatu yang pernah menjadi bagian terindah dalam hidupku. Atas seseorang yang menjadi bagian terindah hidupku.
Aku bakal menghilang Rani, aku pun bakal mundur, dari setiap relung kehidupanmu, dari setiap lorong indah dalam hatimu yang pernah kumasuki, aku bakal hilang Rani, aku janji.. agar tak ada lagi rasa sakit dalam dirimu karena aku..
Rani, kamu pergi saat aku mulai berpikir (lagi) tentang pernikahan, tentang buah hati, tentang semua mimpi kita yang sempat terlupakan karena pertengkaran kita, tentang aku, kamu, dan keluarga kecil kita.
Kamu percaya Rani? Mungkin bahkan mereka sekarang belum ada, tapi kamu tau Rani? Saat malam itu semua yang ada dalam otakku hanya berputar tentang nama2 itu “keenan, quilla, athena...” lucu memang, karena sampai saat ini pun mereka belum benar-benar eksis, tapi impian tentang mereka yang pertama kali hancur ketika aku menyadari bahwa keadaan kita seperti ini.
Maaf Rani, Masih banyak yang ingin aku tuangkan disini, tapi........
Aku tak bisa.............
Maaf untuk semua yang terlambat kulakukan..
Semua yang tak sanggup kujanjikan..
Semua yang tak sempat kuungkapkan..
Semua yang tak tepat kukatakan..
Semua yang tak usai kujalani..
Dan semua yang yang tak ingin ku ingkari..
Semua..
Terimakasih Rani...
No comments:
Post a Comment