
September 7th, 2010
In a bright day and a cloudy feeling..
Yang aku ingin hanya pengertianmu..Tuk sedikit saja pahami maksudku..Yang aku ingin hanyalah agar kau mau..
Sekedar…mengerti aku.. - abdul and the coffee theory –
Dear Rani,
Sekarang aku mengerti, ternyata semua salahku.. hanya aku dan keraguanku..
Keraguan akan ketakutan untuk menyakiti hubungan ini lagi di waktu yang akan datang,
Karena rasa perih saat terjebak dalam situasi seperti ini tidak pernah berubah..
Masih menyakitkan seperti dulu, kemarin, dan hari ini..
Menyisakan kompleksitas perasaan yang menyiksa, menjengahkan..
Tapi Rani, percaya aku..
Sikap aku yang seperti ini, bukan karena aku tak sayang kamu, bukan sama sekali..
Rasa sayang ini, rasa rindu ini, masih setia berkiblat padamu..
Rasa kehilangan ini masih membelenggu nurani dan intuisiku, yang kadang mampir hanya untuk memeras air mata ini hingga habis dan pergi berlalu tanpa mau tahu bagaimana rapuhnya aku..
Yang memaksaku untuk hanya melamun melihat tembok kamarku yang membisu dalam 4x24 jam ini.
Aku pergi Rani, aku pergi... menjauh..
Bukan karena ku sanggup hidup tanpamu, bukan sama sekali..
maaf aku hanya memunggungimu tanpa ku pamit, sehingga kau tak usah melihatku menangis (lagi) di depan mata indahmu.
Aku butuh kamu Rani, lebih dari yang kamu tau, lebih dari apa yang bisa kamu translasikan dari sikapku..
Cincin ini masih jadi bagian ku, dan akan seperti itu selama rasa sayang ini masih menjadi jalanku padamu, karena buatku cincin ini bukan refleksi suatu hubungan, tapi refleksi suatu perasaan sayang aku padamu..
Pahami maksudku Rani, pahami ketersesatanku..
Ini sudah tengah malam Rani, tapi hatiku masih menjerit, meringis setiap kali kuingat semua memori indah itu..
Aku benci malam hari Rani, Ku biarkan mata ini terjaga, hanya karena aku terlalu pengecut menghadapi bunga tidurku.. karena memori ini hanya ingin mengingatmu..
Suara binatang malam hanya bersuara lantang seakan memakiku dengan pongahnya, hati ini bebal dan terjebak antara segumpal ego dan sekerat asa yang terbaca dalam mimpi-mimpi indah yang pernah terlewat.
Tapi..
Aku akan banyak belajar dari remah-remah hikmah ini, sekedar belajar jika tertawa dan menangis itu hanya sebuah siklus seperti pergantian siang dan malam..
Ini semua akan kujadikan bijaksana Rani, nestapa dan lirih ini hanyalah inspirasi..
Terimakasih Rani..
Aku sayang kamu, Rani.
Putra.
No comments:
Post a Comment